Islam di Taiwan termasuk agama yang
relatif kecil meski dianut oleh cukup
banyak orang. Masuknya Islam ke Taiwan
(waktu itu masih bernama Pulau Formosa)
tidak lepas dari sejarah masuknya Islam ke
negeri Tiongkok. Islam masuk ke Tiongkok
melalui kawasan barat negeri itu,
bersamaan dengan kedatangan pedagang
Muslim pada abad ketujuh Masehi yang
kemudian menikahi perempuan setempat.
Perkawinan mereka menghasilkan
kelompok etnis baru di Tiongkok yang
bernama etnis Hui. Itu sebabnya mula-
mula masyarakat Tiongkok biasa menyebut
agama Islam dengan sebutan 回教 (Huì
Jiào)yang berarti “agama Hui”. Tapi
belakangan masyarakat lebih terbiasa
dengan sebutan 伊斯蘭教 (Yīsīlán Jiào)
atau “agama Islam”.
Di Tiongkok ada sekitar 20 juta orang
beragama Islam. Sebagian di antara
mereka kemudian berhijrah ke Taiwan pada
abad ke-17 saat orang Muslim yang tinggal
di provinsi Fujian yang berada di pesisir
selatan Tiongkok bergabung dengan
pasukan Koxinga (Cheng Cheng-Kung)
menyerbu Taiwan untuk mengusir pasukan
Belanda yang menduduki pulau itu. Usai
perang, sebagian pasukan Koxinga yang
beragama Islam itu ada yang memilih
menetap di Taiwan.
Keturunan mereka kemudian menikah dan
berasimilasi dengan masyarakat setempat.
Sebagian mereka ada yang tetap menjadi
Muslim, sedangkan sebagian lain berpindah
agama.
Menurut Profesor Lien Ya Tang dalam
bukunya yang berjudul History of Taiwan
(1918), meskipun mereka beragama Islam,
orang Muslim yang menetap di pulau
Formosa itu tidak aktif menyebarkan
agamanya. Mereka juga tidak membangun
masjid di pulau tersebut.
Gelombang kedua kedatangan orang
Muslim ke Taiwan berlangsung selama
perang sipil Tiongkok pada abad ke-20.
Pada saat itu sekitar 20.000 tentara Muslim
beserta keluarganya yang pro partai
nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang
Kai Shek ikut hijrah ke Taiwan pada tahun
1949, karena tidak sudi berada di Tiongkok
daratan yang dikuasai Partai Komunis
Tiongkok.
Kebanyakan mereka adalah tentara dan
pegawai negeri yang berasal dari provinsi
Tiongkok bagian selatan dan barat yang
banyak dihuni orang Islam, seperti Yunnan,
Xinjiang, Ningxia, dan Gansu.
Selama tahun 1950-an kontak antara etnis
Hui (masyarakat Muslim) dan etnis Han
sangat terbatas karena perbedaan adat
istiadat di antara mereka. Kebanyakan
masyarakat Muslim lebih mengandalkan
hubungan antar mereka sendiri melalui
pertemuan komunitas mereka di sebuah
rumah di Jalan Lishui ( 麗水街) di Taipei.
Namun ketika tahun 1960-an kaum
Muslimin melihat kenyataan bahwa
kembali ke Tiongkok daratan tidak lebih
baik, kontak dengan etnis Han jadi lebih
sering. Meski begitu interaksi dan saling
bantu dengan sesama umat Islam tetap
terus dijaga.
Pada tahun 1980-an ribuan umat Islam
dari Myanmar dan Thailand bermigrasi ke
Taiwan untuk mencari kehidupan yang
lebih baik. Mereka adalah keturunan
tentara pro nasionalis yang melarikan diri
dari provinsi Yunnan ketika kelompok
komunis berhasil menguasai Tiongkok
daratan.
Saat ini ada sekitar 53.000 orang Taiwan
yang beragama Islam serta lebih dari
80.000 orang Muslim Indonesia yang
menjadi pekerja ( TKI) di Taiwan. Sehingga
saat ini (tahun 2007) ada sekitar 140.000
umat Islam di Taiwan.
Meskipun perkembangan umat Islam di
negeri ini sangat lambat namun dilaporkan
setiap tahun ada sekitar 100 orang Taiwan
yang masuk Islam, terutama karena
menikah dengan pria Muslim.
Rabu, 18 Mei 2011
SEJARAH SINGKAT MASUKNYA ISLAM DI KOREA
Korea adalah negara yang miskin dan
menderita dan keadaan ini akibat dari
berkecamuknya perang Korea yang
berlangsung sejak 25 Juni 1950, dan
diantara reruntuhan perang inilah Islam
hadir dan tumbuh dan berkembang melalui
anggota pasukan perdamaian PBB dari
Turki Mr. Zubercoch dan Mr. Abdul Rahman
yang selama keberadaannya di Korea
membangun sebuah tempat sementara
yang di pergunakan sebagai Masjid, di
mana kemudian beliau berdua
memperkenalkan ajaran Islam kepada
penduduk Korea.
Tentara Turki menjadi sangat dekat dengan
penduduk Korea di Masjid tenda yang di
bangun di tengah-tengah tenda
pengungsian, dan ternyata ajaran Islam
membuat mereka sedikit banyak
mengurangi penderitaan akibat perang, di
dalam agama ini di ajarkan bahwa ada
kehidupan lagi setelah mati, kehidupan di
dunia hanyalah sementara dan kehidupan
abadi adalah di Akhirat kelak. Dengan
demikian mereka timbul semangat untuk
terus mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Sebagai langkah awal agar Islam dapat
berkembang efektif di Korea, di bentuklah
wadah Muslim untuk penduduk Korea yang
di beri nama Korean Moslem Society ( KMS )
yang di kemudian hari berubah menjadi
Korean Moslem federation ( KMF ). Sebagai
Imam masyarakat Muslim Korea ini di pilih
Mr. Muhammad Umar Kim Jin Kyu, dan
selanjutnya Imam beserta beberapa Muslim
Korea di berikan kesempatan untuk
mengunjungi negara-negara Muslim dan
beberapa diantaranya kemudian di kirim ke
Universitas Muslim di Malaysia untuk
belajar agama Islam. Mereka di latih
menjadi da'i-da'i yang handal untuk
berdakwah terhadap masyarakat Korea
yang belum memeluk Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya KMS
membuat proposal perencanaan Masjid,
pemerintah Malaysia menyambut baik
rencana ini dan melalui PM Tunku Abdul
Razak memberikan dana sebesar US$
33.000 pada tahun 1963, namun
pembangunan belum dapat dilaksanakan
karena negara Korea sedang inflasi.
Sungguh tidak mudah untuk mewujudkan
rencana pembangunan Masjid yang
pertama di Korea ini, banyak permasalahan
yang timbul diantaranya adalah perihal ijin
dari pemerintah . Tetapi meskipun
demikian pengabdian para muallaf untuk
mengembangkan agama Islam tidak
luntur, dengan kepercayaan dan kesetiaan
penuh kepada Allah SWT. Dan akhirnya
pemerintah Korea melalui Menteri
Informasi dan Kebudayaan mengeluarkan
ijin untuk KMS (registrasi No. 114 March,
1967, dengan Ketua Sulaeman Lee Hwa
Shik dan Sekretaris Jenderal Abdul Aziz Kim
Il Cho ). Berbekal surat ijin ini KMS menjadi
lebih leluasa berdakwah dan membuka
babak baru sejarah perkembangan Islam di
Korea.
Mimpi panjang mendirikan Masjid baru
terwujud 9 tahun kemudian, pada bulan
Mei tahun 1976 Central Masjid Itaewon
secara resmi di buka dengan di hadiri 55
tamu undangan dari 20 negara yang turut
membantu mewujudkan mimpi
masyarakat muslim Korea. PM Choi Gyu
Hwa turut hadir mewakili pemerintah
Korea hal ini sekaligus, sebagai bukti
bahwa Islam telah mendapatkan jalan yang
terang untuk berkembang di Korea.
Dalam perkembangan selanjutnya pada
tahun 1978 KMS mengirim 130 jamaah
untuk ziarah dan menunaikan ibadah haji
ke Tanah Suci Mekkah, dan selanjutnya
pada tahun 1979 tercatat 104 jamaah ,
aktifitas ini kemudian di kenal dengan "
Boom Of Middle East " yang mencerminkan
bahwa syiar Islam telah menyala di Korea.
KRONOLOGI MASUKNYA ISLAM DI KOREA
September 1955 : Mr. Zubercoch dan Mr.
Abdul Rahman anggota pasukan
perdamaian PBB dari Turki
memperkenalkan risalah Islam pertama kali
di Korea
Oktober 1955 : Pendirian organisasi
masyarakat Muslim Korea dengan nama
Korean Moslem Society.
September 1961 : Pemerintah Malaysia
mengirimkan utusan yang beranggotakan
14 orang untuk memantau perkembangan
Islam di Korea di pimpin oleh Senator
Ubaidullah, yang tinggal di negara ini
selama 2 pekan.
Agustus 1962 : Pemerintah Malaysia
menyetujui proposal pembangunan Masjid
di Korea.
Oktober 1963 : Utusan pemerintah
Malaysia H. Muhammad Noh berkunjung
ke Korea dan memberikan dana sebesar
US$ 33.000
Maret 1967 : Pemerintah Korea melalui
Menteri Informasi dan Kebudayaan
mengeluarkan ijin dengan registrasi No.
114 March, 1967
Mei 1976 : Pembangunan Central
Masjid Itaewon selesai dan di resmikan
penggunaannya.
Desember 1976 : Masjid sementara Busan
di buka dengan Imam Mr. Kim Myung
Hwan.
Maret 1977 : Pusat kebudayaan Islam
Korea di buka di Jeddah, Arab Saudi.
April 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka dengan Imam Mr.
Abdullah Jun Deuk Lin.
Oktober 1978 : 130 jamaah haji Korea
berangkat ke Tanah Suci untuk yang
pertama kali .
Oktober 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka.
Juli 1980 : Pembangunan Masjid
Rabita Anyang.
September 1980 : Peresmian Masjid Al
Fatah Busan.
Juni 1981 : Peresmian Masjid
Kwangju.
Agustus 1982 : World Assembly Moslem
Youth ( WAMY ) mengadakan kunjungan ke
Korea untuk memberikan Pendidikan
Islam, dan berturut-turut setiap bulan
Agustus hingga tahun 1988, kegiatan
WAMY ini di kenal dengan " WAMY SUMMER
CAMP "
April 1986 : Peresmian Masjid Rabita
Anyang.
September 1986 : Persemian Masjid
Abubakar Assidiq dengan Imam Dr.
Abdulwahab Zahid dari Syria, beliau
sekaligus menjabat sebagai General Mufthy
Of Korea.
Informasi tentang Islam di Korea dan
Tentang Mufthy Of Korea :
menderita dan keadaan ini akibat dari
berkecamuknya perang Korea yang
berlangsung sejak 25 Juni 1950, dan
diantara reruntuhan perang inilah Islam
hadir dan tumbuh dan berkembang melalui
anggota pasukan perdamaian PBB dari
Turki Mr. Zubercoch dan Mr. Abdul Rahman
yang selama keberadaannya di Korea
membangun sebuah tempat sementara
yang di pergunakan sebagai Masjid, di
mana kemudian beliau berdua
memperkenalkan ajaran Islam kepada
penduduk Korea.
Tentara Turki menjadi sangat dekat dengan
penduduk Korea di Masjid tenda yang di
bangun di tengah-tengah tenda
pengungsian, dan ternyata ajaran Islam
membuat mereka sedikit banyak
mengurangi penderitaan akibat perang, di
dalam agama ini di ajarkan bahwa ada
kehidupan lagi setelah mati, kehidupan di
dunia hanyalah sementara dan kehidupan
abadi adalah di Akhirat kelak. Dengan
demikian mereka timbul semangat untuk
terus mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Sebagai langkah awal agar Islam dapat
berkembang efektif di Korea, di bentuklah
wadah Muslim untuk penduduk Korea yang
di beri nama Korean Moslem Society ( KMS )
yang di kemudian hari berubah menjadi
Korean Moslem federation ( KMF ). Sebagai
Imam masyarakat Muslim Korea ini di pilih
Mr. Muhammad Umar Kim Jin Kyu, dan
selanjutnya Imam beserta beberapa Muslim
Korea di berikan kesempatan untuk
mengunjungi negara-negara Muslim dan
beberapa diantaranya kemudian di kirim ke
Universitas Muslim di Malaysia untuk
belajar agama Islam. Mereka di latih
menjadi da'i-da'i yang handal untuk
berdakwah terhadap masyarakat Korea
yang belum memeluk Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya KMS
membuat proposal perencanaan Masjid,
pemerintah Malaysia menyambut baik
rencana ini dan melalui PM Tunku Abdul
Razak memberikan dana sebesar US$
33.000 pada tahun 1963, namun
pembangunan belum dapat dilaksanakan
karena negara Korea sedang inflasi.
Sungguh tidak mudah untuk mewujudkan
rencana pembangunan Masjid yang
pertama di Korea ini, banyak permasalahan
yang timbul diantaranya adalah perihal ijin
dari pemerintah . Tetapi meskipun
demikian pengabdian para muallaf untuk
mengembangkan agama Islam tidak
luntur, dengan kepercayaan dan kesetiaan
penuh kepada Allah SWT. Dan akhirnya
pemerintah Korea melalui Menteri
Informasi dan Kebudayaan mengeluarkan
ijin untuk KMS (registrasi No. 114 March,
1967, dengan Ketua Sulaeman Lee Hwa
Shik dan Sekretaris Jenderal Abdul Aziz Kim
Il Cho ). Berbekal surat ijin ini KMS menjadi
lebih leluasa berdakwah dan membuka
babak baru sejarah perkembangan Islam di
Korea.
Mimpi panjang mendirikan Masjid baru
terwujud 9 tahun kemudian, pada bulan
Mei tahun 1976 Central Masjid Itaewon
secara resmi di buka dengan di hadiri 55
tamu undangan dari 20 negara yang turut
membantu mewujudkan mimpi
masyarakat muslim Korea. PM Choi Gyu
Hwa turut hadir mewakili pemerintah
Korea hal ini sekaligus, sebagai bukti
bahwa Islam telah mendapatkan jalan yang
terang untuk berkembang di Korea.
Dalam perkembangan selanjutnya pada
tahun 1978 KMS mengirim 130 jamaah
untuk ziarah dan menunaikan ibadah haji
ke Tanah Suci Mekkah, dan selanjutnya
pada tahun 1979 tercatat 104 jamaah ,
aktifitas ini kemudian di kenal dengan "
Boom Of Middle East " yang mencerminkan
bahwa syiar Islam telah menyala di Korea.
KRONOLOGI MASUKNYA ISLAM DI KOREA
September 1955 : Mr. Zubercoch dan Mr.
Abdul Rahman anggota pasukan
perdamaian PBB dari Turki
memperkenalkan risalah Islam pertama kali
di Korea
Oktober 1955 : Pendirian organisasi
masyarakat Muslim Korea dengan nama
Korean Moslem Society.
September 1961 : Pemerintah Malaysia
mengirimkan utusan yang beranggotakan
14 orang untuk memantau perkembangan
Islam di Korea di pimpin oleh Senator
Ubaidullah, yang tinggal di negara ini
selama 2 pekan.
Agustus 1962 : Pemerintah Malaysia
menyetujui proposal pembangunan Masjid
di Korea.
Oktober 1963 : Utusan pemerintah
Malaysia H. Muhammad Noh berkunjung
ke Korea dan memberikan dana sebesar
US$ 33.000
Maret 1967 : Pemerintah Korea melalui
Menteri Informasi dan Kebudayaan
mengeluarkan ijin dengan registrasi No.
114 March, 1967
Mei 1976 : Pembangunan Central
Masjid Itaewon selesai dan di resmikan
penggunaannya.
Desember 1976 : Masjid sementara Busan
di buka dengan Imam Mr. Kim Myung
Hwan.
Maret 1977 : Pusat kebudayaan Islam
Korea di buka di Jeddah, Arab Saudi.
April 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka dengan Imam Mr.
Abdullah Jun Deuk Lin.
Oktober 1978 : 130 jamaah haji Korea
berangkat ke Tanah Suci untuk yang
pertama kali .
Oktober 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka.
Juli 1980 : Pembangunan Masjid
Rabita Anyang.
September 1980 : Peresmian Masjid Al
Fatah Busan.
Juni 1981 : Peresmian Masjid
Kwangju.
Agustus 1982 : World Assembly Moslem
Youth ( WAMY ) mengadakan kunjungan ke
Korea untuk memberikan Pendidikan
Islam, dan berturut-turut setiap bulan
Agustus hingga tahun 1988, kegiatan
WAMY ini di kenal dengan " WAMY SUMMER
CAMP "
April 1986 : Peresmian Masjid Rabita
Anyang.
September 1986 : Persemian Masjid
Abubakar Assidiq dengan Imam Dr.
Abdulwahab Zahid dari Syria, beliau
sekaligus menjabat sebagai General Mufthy
Of Korea.
Informasi tentang Islam di Korea dan
Tentang Mufthy Of Korea :
Awam: SEJARAH ISLAM DI RUSIA
Awam: SEJARAH ISLAM DI RUSIA: "Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua[1] setelah Kristen Ortodoks[2], yakni sekitar 28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari sekit..."
SEJARAH ISLAM DI RUSIA
Islam di Rusia adalah agama terbesar
kedua[1] setelah Kristen Ortodoks[2], yakni
sekitar 28 juta penduduk atau 15 – 20
persen dari sekitar 142 juta penduduk.
Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga
kian membaik dibanding masa Komunis
dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah
Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin)
memasukkan menteri Muslim dalam
kabinetnya dan mengakui eksistensi
Muslim Rusia.
1. Sejarah
Muslim pertama di wilayah Rusia terkini
adalah masyarakat Daghestani di (kawasan
Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad
ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah
Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar
mewarisi agama Islam dari negeri itu.
Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa
dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam.
Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan
yang lama, melebarkan ke seawal
penaklukan kawasan Volga Tengah pada
abad ke-16, yang membawa orang Tatar
dan berkenaan Orang Turki di Volga Tengah
ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18
dan ke-19, taklukan Rusia di Caucasus
Utara membawa orang-orang Muslim dari
kawasan ini – Dagestan, Chechen, Circassia,
Ingush, dan lain-lain ke dalam negara
Rusia.
Kievan Rus juga telah dapat kesempatan
untuk memeluk Islam dari misionaris Volga
Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur
menerima agama Kristen.
Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran
Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan,
terutama di Chechnya, ada tradisi Sufisme,
sebuah variasi bermistik Islam yang
menegaskan pada carian jalan seorang
individu bersatu dengan Tuhan. Ritual Sufi,
diamalkan untuk memberikan orang
Chechen semangat kuat untuk menolak
tekanan orang asing, telah menjadi legenda
di antara pasukan Rusia yang melawan
orang Chechen pada zaman Tsar. Orang
Azeri juga pada sejarah dan masih lagi
pengikut Islam Syiah, disaat republik
mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak
orang Azeri yang datang ke Rusia untuk
mencari pekerjaan.
Qur’an pertama yang dicetak diterbitkan
di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi
fenomena yang terjadi adalah gerakan
Wäisi.
2. Demografi
Menurut United States Department of
State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah
penduduk Muslim di Rusia, sekurang-
kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk
negara ini dan membentukkan agama
minoritas yang terbesar. Masyarakat besar
Islam dikonsentrasikan di antara warga
negara minoritas yang tinggal diantara
Laut Hitam dan Laut Kaspia: Adyghe, Balkar,
Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush,
Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan
warga negara Dagestan. Di Volga Basin
tengah ada penduduk besar Tatar dan
Bashkir, kebanyakan mereka Muslim.
Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai
dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod,
Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast
(kebanyakannya kaum Tatar).
3. Masjid
Secara resmi jumlah masjid di Rusia
mencapai 4750 masjid, namun jumlah
sebenarnya jauh lebih besar dan terus
bertambah. Di Dagestan saja terdapat
antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh
tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan
telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia
dengan jumlah pemeluk Islam yang
melebihi 1 juta orang terdapat 20
komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut
pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000
masjid di Rusia.
4. Organisasi
Menurut data register negara, kini telah
tercatat 3345 organisasi keagamaan
Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-
organisasi keagamaan Muslim terdaftar di
daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus
Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan
jumlah organisasi keagamaan Muslim di
daerah lainnya lebih kecil.[1]
Mayoritas Muslim di Rusia adalah Sunni.
Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu
Mazhab Shafii di Kaukasus Utara dan
Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.
Tiga organisasi Muslim menurut status
dewan federal (pusat) adalah:
* Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa).
Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan
ini memimpin 1,686 komunitas.
* Administrasi Keagamaan Pusat dari
Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin
oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan
mempersatukan 522 komunitas.
* Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus
Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev,
Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah
Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.
Paska bubarnya Uni Soviet, kebebasan
beragama mulai bergeliat kembali. Salah
satu agama yang berkembang pesat di
negara tersebut adalah islam. Data terakhir
mencatat populasi muslim negara itu
mencapai 28 juta jiwa. Dengan jumlah itu,
Rusia menjadi negara dengan pemeluk
Islam terbesar di benua Eropa.
Komunitas muslim yang selama era Soviet
tertindas dan terisolasi, kini bisa
melaksanakan kegiatan keagamaan dengan
begitu semarak. Jumlah pemeluk Islam di
Rusia demikian banyak. Karena itu, prediksi
umat Islam akan menjadi mayoritas di
Rusia, tampaknya bukan suatu hal yang
mustahil.
Faktor utama dari meningkatnya populasi
muslim di Rusia selain runtuhnya Soviet
adalah kelahiran. Konon, diantara
komunitas agama lain di Rusia, pemeluk
islam dalam merencanakan keluarga tidak
memikirkan betapa sulitnya biaya hidup di
Rusia. Bagi komunitas muslim, melahirkan
generasi baru yang islami merupakan misi
yang jauh lebih berharga ketimbang
memikirkan kesulitan hidup di Rusia.
2050, Rusia Bakal Menjadi Negara Islam
Pakar Asia Tengah, Muhammad Salamah,
dalam sebuah seminar tentang Islam di
Rusia mengatakan, puluhan pengkaji
akademisi di Rusia telah menyimpulkan,
berdasarkan perkembangan yang terlihat
dari negara-negara Muslim pecahan Uni
Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti
negara Rusia diprediksikan akan menjadi
bagian dari negara Islam.
Salamah kemudian menambahkan, sejak
20 tahun lalu dirinya terus mengamati
perkembangan Islam di Rusia. Semenjak
Muslim di sana berada di bawah
pemerintahan yang komunis dan
mengalami masa-masa pengekangan,
seperti dilarangnya membawa mushaf Al
Qur ’an, masjid-masjid di tutup, hingga
akhirnya sekarang, Muslim Rusia telah
mendapatkan hak-hak mereka dengan
baik. Dan Islam pun kini menjadi agama
kedua di negeri itu.
Salamah juga mengatakan penyebaraan
Islam di Rusia berjalan damai. Bahkan
dirinya telah mendirikan sebuah
Universitas Islam di Moskow, dan
mengajarkan tentang apa itu agama Islam,
termasuk kepada para politisi senior negeri
itu, di antaranya adalah Vladimar Putin,
Perdana Menteri Rusia.
* dari berbagai sumber
kedua[1] setelah Kristen Ortodoks[2], yakni
sekitar 28 juta penduduk atau 15 – 20
persen dari sekitar 142 juta penduduk.
Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga
kian membaik dibanding masa Komunis
dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah
Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin)
memasukkan menteri Muslim dalam
kabinetnya dan mengakui eksistensi
Muslim Rusia.
1. Sejarah
Muslim pertama di wilayah Rusia terkini
adalah masyarakat Daghestani di (kawasan
Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad
ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah
Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar
mewarisi agama Islam dari negeri itu.
Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa
dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam.
Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan
yang lama, melebarkan ke seawal
penaklukan kawasan Volga Tengah pada
abad ke-16, yang membawa orang Tatar
dan berkenaan Orang Turki di Volga Tengah
ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18
dan ke-19, taklukan Rusia di Caucasus
Utara membawa orang-orang Muslim dari
kawasan ini – Dagestan, Chechen, Circassia,
Ingush, dan lain-lain ke dalam negara
Rusia.
Kievan Rus juga telah dapat kesempatan
untuk memeluk Islam dari misionaris Volga
Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur
menerima agama Kristen.
Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran
Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan,
terutama di Chechnya, ada tradisi Sufisme,
sebuah variasi bermistik Islam yang
menegaskan pada carian jalan seorang
individu bersatu dengan Tuhan. Ritual Sufi,
diamalkan untuk memberikan orang
Chechen semangat kuat untuk menolak
tekanan orang asing, telah menjadi legenda
di antara pasukan Rusia yang melawan
orang Chechen pada zaman Tsar. Orang
Azeri juga pada sejarah dan masih lagi
pengikut Islam Syiah, disaat republik
mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak
orang Azeri yang datang ke Rusia untuk
mencari pekerjaan.
Qur’an pertama yang dicetak diterbitkan
di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi
fenomena yang terjadi adalah gerakan
Wäisi.
2. Demografi
Menurut United States Department of
State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah
penduduk Muslim di Rusia, sekurang-
kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk
negara ini dan membentukkan agama
minoritas yang terbesar. Masyarakat besar
Islam dikonsentrasikan di antara warga
negara minoritas yang tinggal diantara
Laut Hitam dan Laut Kaspia: Adyghe, Balkar,
Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush,
Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan
warga negara Dagestan. Di Volga Basin
tengah ada penduduk besar Tatar dan
Bashkir, kebanyakan mereka Muslim.
Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai
dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod,
Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast
(kebanyakannya kaum Tatar).
3. Masjid
Secara resmi jumlah masjid di Rusia
mencapai 4750 masjid, namun jumlah
sebenarnya jauh lebih besar dan terus
bertambah. Di Dagestan saja terdapat
antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh
tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan
telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia
dengan jumlah pemeluk Islam yang
melebihi 1 juta orang terdapat 20
komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut
pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000
masjid di Rusia.
4. Organisasi
Menurut data register negara, kini telah
tercatat 3345 organisasi keagamaan
Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-
organisasi keagamaan Muslim terdaftar di
daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus
Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan
jumlah organisasi keagamaan Muslim di
daerah lainnya lebih kecil.[1]
Mayoritas Muslim di Rusia adalah Sunni.
Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu
Mazhab Shafii di Kaukasus Utara dan
Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.
Tiga organisasi Muslim menurut status
dewan federal (pusat) adalah:
* Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa).
Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan
ini memimpin 1,686 komunitas.
* Administrasi Keagamaan Pusat dari
Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin
oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan
mempersatukan 522 komunitas.
* Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus
Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev,
Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah
Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.
Paska bubarnya Uni Soviet, kebebasan
beragama mulai bergeliat kembali. Salah
satu agama yang berkembang pesat di
negara tersebut adalah islam. Data terakhir
mencatat populasi muslim negara itu
mencapai 28 juta jiwa. Dengan jumlah itu,
Rusia menjadi negara dengan pemeluk
Islam terbesar di benua Eropa.
Komunitas muslim yang selama era Soviet
tertindas dan terisolasi, kini bisa
melaksanakan kegiatan keagamaan dengan
begitu semarak. Jumlah pemeluk Islam di
Rusia demikian banyak. Karena itu, prediksi
umat Islam akan menjadi mayoritas di
Rusia, tampaknya bukan suatu hal yang
mustahil.
Faktor utama dari meningkatnya populasi
muslim di Rusia selain runtuhnya Soviet
adalah kelahiran. Konon, diantara
komunitas agama lain di Rusia, pemeluk
islam dalam merencanakan keluarga tidak
memikirkan betapa sulitnya biaya hidup di
Rusia. Bagi komunitas muslim, melahirkan
generasi baru yang islami merupakan misi
yang jauh lebih berharga ketimbang
memikirkan kesulitan hidup di Rusia.
2050, Rusia Bakal Menjadi Negara Islam
Pakar Asia Tengah, Muhammad Salamah,
dalam sebuah seminar tentang Islam di
Rusia mengatakan, puluhan pengkaji
akademisi di Rusia telah menyimpulkan,
berdasarkan perkembangan yang terlihat
dari negara-negara Muslim pecahan Uni
Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti
negara Rusia diprediksikan akan menjadi
bagian dari negara Islam.
Salamah kemudian menambahkan, sejak
20 tahun lalu dirinya terus mengamati
perkembangan Islam di Rusia. Semenjak
Muslim di sana berada di bawah
pemerintahan yang komunis dan
mengalami masa-masa pengekangan,
seperti dilarangnya membawa mushaf Al
Qur ’an, masjid-masjid di tutup, hingga
akhirnya sekarang, Muslim Rusia telah
mendapatkan hak-hak mereka dengan
baik. Dan Islam pun kini menjadi agama
kedua di negeri itu.
Salamah juga mengatakan penyebaraan
Islam di Rusia berjalan damai. Bahkan
dirinya telah mendirikan sebuah
Universitas Islam di Moskow, dan
mengajarkan tentang apa itu agama Islam,
termasuk kepada para politisi senior negeri
itu, di antaranya adalah Vladimar Putin,
Perdana Menteri Rusia.
* dari berbagai sumber
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JERMAN
Sebenarnya islam sudah dikenal oleh
bangsa Jerman sejak zaman pendudukan
Kekhalifahan Islam di Spanyol. Pada saat
itulah kekuasaan dan kemajuan dunia islam
disegani oleh bangsa-bangsa Eropa.
Andalusia dijadikan pusat pengembangan
ilmu pengetahuan dibawah Kekhalifahan
Islam. Eropa mulai memasuki abad
pertengahan, mereka menyebutnya
sebagai zaman kegelapan atau The Dark
Age. Memang tepat sekali sebutan tersebut
bagi bangsa Eropa pada zaman itu.
Ekspansi dan kemajuan besar-besaran
Kekhalifahan Islam baik dibidang politik,
ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan
jauh melampaui bangsa Eropa. Pada zaman
perang salib, peperangan terjadi antara
kaum muslim dengan bangsa Eropa,
terutama Perancis, Jerman dan Inggris.
Setelah perang salib berakhir, toleransi
antar agama dan kebudayaan pun
berlangsung. Di saat itulah bangsa Eropa
termasuk Jerman mulai mengenal lebih
jauh tentang Islam. Sastrawan nomor satu
di Jerman, Wolfgang von Goethe, adalah
seorang pengagum Muhammad saw.
Harian Republika pernah memuat biografi
tentang Wolfgang von Goethe pada rubrik
dunia islam. Dikatakan pada tulisan
tersebut bahwa von Goethe memasukan
ajaran-ajaran islam pada hasil karyanya.
Tulisan basmallah pun menghiasi buku-
buku yang dibuatnya. Pada akhir khayatnya
beliau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Hubungan antara Jerman dan Islam terus
berlanjut. Seperti yang diungkap pada
harian Medan Waspada, bahwa pada tahun
1739, raja Friedrich Wilhelm I mendirikan
sebuah masjid di kota Potsdam untuk
tentaranya yang beragama islam, mereka
disebut dengan nama pasukan
Muhammadaner. Mereka juga diberikan
jaminan kebebasan beribadah. Pada
Pebruari 1807 pasukan Muhammadaner
membantu raja Wilhelm memerangi
Napoleon dari Perancis. Bersama pasukan
Jerman lainnya, mereka pun memerangi
Rusia dan Polandia. Pada satu resimen
bernama Towarczy, 1220 tentara
beragama Islam dan 1320 tentara lainnya
beragama kristen. Pada zaman itu, kaum
muslim di Jerman selain menjadi tentara,
mereka juga banyak yang menjadi
pedagang, diplomat, ilmuwan, dan penulis.
Pada saat Perang Dunia Pertama, Jerman
kembali bersekutu dengan tentara muslim
dari Kekhalifahan Turki. Hal ini membuat
komunitas muslim di Jerman bertambah
banyak dan makin menguatkan
eksistensinya. Lembaga Muslim Jerman
sudah berdiri pada tahun 1930. Antara
1933 dan 1945, tercatat lebih dari tiga ribu
warga Jerman beragama Islam, dan tiga
ratus di antaranya berdarah etnis Jerman.
Sayangnya, pada saat kepemimpinan Hitler
dan perang dunia kedua, umat islam
terpecah-pecah. Kebebasan beribadah
terancam. Sebagian umat islam pergi
melarikan diri ke negara balkan. Setelah
perang dunia kedua berakhir dengan
kekalahan besar yang didapatkan Jerman,
hubungan antara Jerman dan umat islam
kembali terjalin. Keberadaan Islam di
Jerman meningkat pada tahun 1960-an.
Akibat perang dunia, negara Jerman hancur
berantakan. Jerman membutuhkan banyak
tenaga kerja. Para pekerja berdatangan dari
Italia, Turki dan Eropa Timur untuk
membangun Jerman kembali. Setelah
kontrak kerja mereka selesai, para pekerja
ini menolak untuk pulang ke negara
mereka, bahkan mereka mendatangkan
keluarga-keluarganya untuk tinggal
menetap di Jerman. Berlin menjadi kota
dengan jumlah komunitas Turki terbesar
setelah Istanbul. Umat muslim dari
Yugoslavia dan Iran pun berdatangan dan
menetap di Jerman. Hal-hal tersebut
membuat jumlah penduduk yang
beragama Islam di Jerman mencapai lebih
dari dua juta jiwa pada awal tahun 1990.
Pembicaraan mengenai Islam dan
komunitas Muslim di negara-negara Barat
kini menjadi salah satu topik menarik. Hal
ini tidak hanya karena perkembangnya
yang cukup signifikan tapi juga karena
memberi dampak terhadap kehidupan
sosial politik negara-negara tersebut. Di
sebagian besar negara-negara Eropa Islam
kini telah menjadi agama terbesar kedua
dan keberadaanya saat ini mulai
diperhitungkan sebagai agama yang
“diakui” pemerintah. Salah satu negara
Eropah yang memiliki penduduk Muslim
yang besar adalah Jerman, dengan jumlah
berkisar 3.7 juta jiwa. Tulisan ini mencoba
memaparkan sekilas tentang
perkembangan Islam di Jerman, yang
sebagian berasal dari pengalaman penulis
selama enam tahun berada di negeri
tersebut.
Komunitas Muslim di Jerman
Keberadaaan orang-orang Islam pertama
sekali di negeri Jerman tidak terlepas dari
masuknya bangsa Turki ke wilayah
tersebut di akhir abad ke 17 yang
merupakan respons perlawanan terhadap
kolonialisme Barat. Mereka menetap dan
berketurunan di wilayah tersebut. Ketika
bangkitnya industri-industri di Eropah,
banyak warga Muslim dari Turki dan Timur
Tengah melakukan migrasi untuk mencari
pekerjaan ke Eropah termasuk Jerman.
Tahun 1961, 1963, dan 1965 orang-orang
keturunan Turki, Maroko, dan Tunisia
direkrut sebagai pekerja di Jerman atas
persetujuan antara pemerintah Jerman
dengan negara-negara bersangkutan.
Belakangan warga Muslim dari Libanon,
Palestina, Afganistan, Aljazair, Iran, Iran
dan Bosnia juga datang ke Jerman
mengungsi karena negara mereka dilanda
perang. Karena merupakan negara maju,
Jerman juga menjadi target bisnis dan
pendidikan. Banyak para profesional,
pebisnis, pekerja dan mahasiswa Muslim
dari India, Pakistan, dan Asia Tenggara
datang dan sebagian menetap di sana.
Jumlah penduduk Muslim di Jerman saat ini
berkisar 3,7 juta jiwa. Mayoritas adalah
keturunan Turki dengan jumlah lebih dari 2
juta orang. Menurut statistik tahun 1999,
komposisi kaum Muslim di negeri ini adalah
sbb: Turki 2.053.564, Bosnia 167.690, Iran
116.446, Marokko 81.450, Afghanistan
71.955, Libanon 54.063, Pakistan 36.924,
Tunisia 26.396, Syiria 19.055, Aljazair
17.705, Irak 16.745, Mesir 13.455, Yordania
12.249, Albania 10.528, Indonesia 9.470,
Somalia 8.248, Banglades 7.156, Sudan
4.615, Malaysia 3.084, Senegal, 2.509,
Gambia 2.371, Libya 1.898, Kirgistan 1.662,
Azerbaijan 1.399, Guinea 1.287, Usbekistan
1.249, Yaman 1.083. Tidak jelas berapa
jumlah Muslim yang berasal dari Jerman
sendiri. Satu laporan dari Lembaga Statistik
Khusus umat Islam di Jerman menyebutkan
sedikitnya 18.000-an orang, namun ada
dugaan menyebutkan sekitar 40.000
orang.
Konversi Agama ke Islam
Satu fenomena yang menarik belakangan
bahwa tingkat konversi orang-orang
Jerman ke Islam cukup tinggi. Majalah
ternama Jerman Der Spiegel pernah
menyebutkan bahwa antara Juli 2004 dan
Juni 2005 saja terdapat sekitar 4000 orang
di Jerman masuk Islam (lihat juga laporan
RTL: http://www.youtube. com/watch?
v=mhMdTjLXo). Kebanyakan para muallaf
berasal dari kalangan terpelajar.
Menariknya, fenomena ini terjadi justru
disaat media-media Barat gencar
mengaitkan Islam dengan terorisme.
Apa motivasi masuknya orang-orang
Jerman ke Islam? Monika Wohlrab-Sahr dari
Institut für Kulturwissenschaften
Universitas Leipzig dalam studinya
menyatakan “viele auf der Suche nach
dem “Andersartigen” (banyak yang
sedang mencari “bentuk lain”). Dalam
banyak kasus, katanya. “..die Konvertiten
meist aus einer vorangegangenen
Lebenskrise heraus den Islam entdeckten
und nicht, wie oft im Nachhinein
geschildert werde, ein tatsächlicher
Vergleich mit anderen Religionen
stattgefunden habe. (Banyak pelaku
konversi tersebut mengalami problematika
kehidupan dan menemukan solusi dalam
Islam, bukan karena membanding-
bandingkannya dengan agama lain,
sebagaimana yang kerap digambarkan).
Monika menyebutkan bahwa penekanan
terhadap kedisiplinan dan kepatuhan
dalam Islam lebih kuat. Salah seorang
muallaf menyebutkan tertarik pada Islam
karena ajaran ini paling jelas merinci
tuntunan hidup bagi umatnya. Ada juga
yang mengakui meski Islam saat mundur
dari peradaban Barat, namun ajarannya
tetap relevan hingga saat ini.
Kebebasan Beragama
Di Jerman, kebebasan beragama dijamin
oleh Undang-Undang. Pasal 4 ayat 1
Undang-Undang Dasar Jerman
(Grundgesetz) menyebutkan Die Freiheit
des Glaubens, des Gewissens und die
Freiheit des religiösen und
weltanschaulichen Bekenntnisses sind
unverletzlich. (Kebebasan beragama dan
memiliki pandangan filosofis hidup tidak
boleh diganggu). Memang belakangan
terdapat beberapa kasus dimana warga
Muslim mendapat diskriminasi di Jerman
misalnya dalam masalah jilbab. Namun hal
ini bukanlah kasus yang fenomenal dan
tidak merubah kebijakan pemerintah
Jerman terhadap umat Islam. Secara
umum, masyarakat Jerman sangat
menghargai kebebasan beragama. Sebuah
survey yang pernah dilakukan Stiftung
Konrad Adenauer menunjukkan bahwa dua
pertiga peserta polling percaya bahwa
umat Islam harus diberikan kebebasan
untuk melaksanakan ajaran agama mereka.
Organisasi-organisasi Islam di Jerman
umumnya berafilisasi kepada kelompok-
kelompok kultural seperti tersebut diatas.
Namun belakangan ada upaya-upaya
penyatuan dengan membuat lembaga yang
berfungsi sebagai mediator dan pemersatu
berbagai organisasi yang ada.
Pendidikan Islam Formal
Berbeda dengan kebanyakan negara-
negara lain di Eropa, Jerman dalam
perkembangan terakhir, mulai
memperbolehkan pelajaran agama Islam
bagi para pelajar Muslim di sekolah-sekolah
umum. Biasanya pelajaran agama
dilakukan orang-orang Islam secara non-
formal di mesjid-mesjid atau kelompok-
kelompok masyarakat. Kebijakan baru yang
merupakan hasil dari penggodokan
bersama antara pemerintah Jerman dan
komunitas Muslim di Jerman ini adalah
salah satu upaya mendukung proses
integrasi sosial Muslim di Jerman. Menurut
Wolfgang Schrauber, Menteri Dalam Negeri
Jerman, kebijakan tersebut dapat
menjembatani perbedaan yang kerap
timbul.
Tidak hanya di level sekolah, pendidikan
Islam juga mulai diperkenalkan pada
tingkat akademik dengan membuka
Jurusan Teologi Islam di perguruan tinggi
di Jerman. Pendidikan pada tingkat
akademik ini dianggap dapat memberi
solusi terhadap masalah kehidupan Muslim
dalam keragaman dan juga dapat
mengangkat isu partisipasi mereka dalam
diskursus politik di negara tersebut.
Mesjid Sebagai Pusat Pembinaan.
Karena tidak adanya infrastruktur
keagamaan formal, mesjid-mesjid di
Jerman memiliki peran yang sangat
penting dalam pembinaan komunitas
Muslim. Mesjid tidak hanya berfungsi
sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai
tempat pendidikan/pengajaran, pertemuan
sosial keagamaan, acara perkawinan, dan
pusat bisnis. Karenanya tidak sedikit mesjid
yang memiliki toko, restoran,
perpustakaan, dan ruang pertemuan. Saat
ini jumlah mesjid di Jerman berkisar 2000,
namun sebagian besar tidak dalam
bentuknya yang umum, melainkan ruko-
ruko yang berada dekat pusat bisnis dan
perumahan kaum Muslim. Tuntutan kaum
Muslimin untuk membangun mesjid dalam
bentuknya yang umum selalu kandas di
tingkat parlemen setempat. Namun sejak
tahun 1990-an, banyak mesjid yang utuh
dan megah di bangun. Satu laporan
menyebut sekitar 200 telah terbangun dan
lebih dari 30 dalam proses pembangunan.
Sebagai catatan akhir, dapat dikatakan
bahwa perkembangan Islam dan
komunitas Muslim di Jerman tampak
memberi dampak yang positif bagi
kehidupan masyarakat Jerman. Penerimaan
Islam oleh masyarakat Jerman sendiri
menunjukkan agama ini memberikan
alternatif bagi pemecahan masalah
kehidupan mereka. Islam tidak lagi
diidentikkan sebagai agama para imigran
melainkan agama yang terintegral dari
kehidupan mereka sendiri. Integrasi Islam
dan kultur mereka inilah yang akan
membangun apa yang dikenal sebagai
“ Euro Islam”.
bangsa Jerman sejak zaman pendudukan
Kekhalifahan Islam di Spanyol. Pada saat
itulah kekuasaan dan kemajuan dunia islam
disegani oleh bangsa-bangsa Eropa.
Andalusia dijadikan pusat pengembangan
ilmu pengetahuan dibawah Kekhalifahan
Islam. Eropa mulai memasuki abad
pertengahan, mereka menyebutnya
sebagai zaman kegelapan atau The Dark
Age. Memang tepat sekali sebutan tersebut
bagi bangsa Eropa pada zaman itu.
Ekspansi dan kemajuan besar-besaran
Kekhalifahan Islam baik dibidang politik,
ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan
jauh melampaui bangsa Eropa. Pada zaman
perang salib, peperangan terjadi antara
kaum muslim dengan bangsa Eropa,
terutama Perancis, Jerman dan Inggris.
Setelah perang salib berakhir, toleransi
antar agama dan kebudayaan pun
berlangsung. Di saat itulah bangsa Eropa
termasuk Jerman mulai mengenal lebih
jauh tentang Islam. Sastrawan nomor satu
di Jerman, Wolfgang von Goethe, adalah
seorang pengagum Muhammad saw.
Harian Republika pernah memuat biografi
tentang Wolfgang von Goethe pada rubrik
dunia islam. Dikatakan pada tulisan
tersebut bahwa von Goethe memasukan
ajaran-ajaran islam pada hasil karyanya.
Tulisan basmallah pun menghiasi buku-
buku yang dibuatnya. Pada akhir khayatnya
beliau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Hubungan antara Jerman dan Islam terus
berlanjut. Seperti yang diungkap pada
harian Medan Waspada, bahwa pada tahun
1739, raja Friedrich Wilhelm I mendirikan
sebuah masjid di kota Potsdam untuk
tentaranya yang beragama islam, mereka
disebut dengan nama pasukan
Muhammadaner. Mereka juga diberikan
jaminan kebebasan beribadah. Pada
Pebruari 1807 pasukan Muhammadaner
membantu raja Wilhelm memerangi
Napoleon dari Perancis. Bersama pasukan
Jerman lainnya, mereka pun memerangi
Rusia dan Polandia. Pada satu resimen
bernama Towarczy, 1220 tentara
beragama Islam dan 1320 tentara lainnya
beragama kristen. Pada zaman itu, kaum
muslim di Jerman selain menjadi tentara,
mereka juga banyak yang menjadi
pedagang, diplomat, ilmuwan, dan penulis.
Pada saat Perang Dunia Pertama, Jerman
kembali bersekutu dengan tentara muslim
dari Kekhalifahan Turki. Hal ini membuat
komunitas muslim di Jerman bertambah
banyak dan makin menguatkan
eksistensinya. Lembaga Muslim Jerman
sudah berdiri pada tahun 1930. Antara
1933 dan 1945, tercatat lebih dari tiga ribu
warga Jerman beragama Islam, dan tiga
ratus di antaranya berdarah etnis Jerman.
Sayangnya, pada saat kepemimpinan Hitler
dan perang dunia kedua, umat islam
terpecah-pecah. Kebebasan beribadah
terancam. Sebagian umat islam pergi
melarikan diri ke negara balkan. Setelah
perang dunia kedua berakhir dengan
kekalahan besar yang didapatkan Jerman,
hubungan antara Jerman dan umat islam
kembali terjalin. Keberadaan Islam di
Jerman meningkat pada tahun 1960-an.
Akibat perang dunia, negara Jerman hancur
berantakan. Jerman membutuhkan banyak
tenaga kerja. Para pekerja berdatangan dari
Italia, Turki dan Eropa Timur untuk
membangun Jerman kembali. Setelah
kontrak kerja mereka selesai, para pekerja
ini menolak untuk pulang ke negara
mereka, bahkan mereka mendatangkan
keluarga-keluarganya untuk tinggal
menetap di Jerman. Berlin menjadi kota
dengan jumlah komunitas Turki terbesar
setelah Istanbul. Umat muslim dari
Yugoslavia dan Iran pun berdatangan dan
menetap di Jerman. Hal-hal tersebut
membuat jumlah penduduk yang
beragama Islam di Jerman mencapai lebih
dari dua juta jiwa pada awal tahun 1990.
Pembicaraan mengenai Islam dan
komunitas Muslim di negara-negara Barat
kini menjadi salah satu topik menarik. Hal
ini tidak hanya karena perkembangnya
yang cukup signifikan tapi juga karena
memberi dampak terhadap kehidupan
sosial politik negara-negara tersebut. Di
sebagian besar negara-negara Eropa Islam
kini telah menjadi agama terbesar kedua
dan keberadaanya saat ini mulai
diperhitungkan sebagai agama yang
“diakui” pemerintah. Salah satu negara
Eropah yang memiliki penduduk Muslim
yang besar adalah Jerman, dengan jumlah
berkisar 3.7 juta jiwa. Tulisan ini mencoba
memaparkan sekilas tentang
perkembangan Islam di Jerman, yang
sebagian berasal dari pengalaman penulis
selama enam tahun berada di negeri
tersebut.
Komunitas Muslim di Jerman
Keberadaaan orang-orang Islam pertama
sekali di negeri Jerman tidak terlepas dari
masuknya bangsa Turki ke wilayah
tersebut di akhir abad ke 17 yang
merupakan respons perlawanan terhadap
kolonialisme Barat. Mereka menetap dan
berketurunan di wilayah tersebut. Ketika
bangkitnya industri-industri di Eropah,
banyak warga Muslim dari Turki dan Timur
Tengah melakukan migrasi untuk mencari
pekerjaan ke Eropah termasuk Jerman.
Tahun 1961, 1963, dan 1965 orang-orang
keturunan Turki, Maroko, dan Tunisia
direkrut sebagai pekerja di Jerman atas
persetujuan antara pemerintah Jerman
dengan negara-negara bersangkutan.
Belakangan warga Muslim dari Libanon,
Palestina, Afganistan, Aljazair, Iran, Iran
dan Bosnia juga datang ke Jerman
mengungsi karena negara mereka dilanda
perang. Karena merupakan negara maju,
Jerman juga menjadi target bisnis dan
pendidikan. Banyak para profesional,
pebisnis, pekerja dan mahasiswa Muslim
dari India, Pakistan, dan Asia Tenggara
datang dan sebagian menetap di sana.
Jumlah penduduk Muslim di Jerman saat ini
berkisar 3,7 juta jiwa. Mayoritas adalah
keturunan Turki dengan jumlah lebih dari 2
juta orang. Menurut statistik tahun 1999,
komposisi kaum Muslim di negeri ini adalah
sbb: Turki 2.053.564, Bosnia 167.690, Iran
116.446, Marokko 81.450, Afghanistan
71.955, Libanon 54.063, Pakistan 36.924,
Tunisia 26.396, Syiria 19.055, Aljazair
17.705, Irak 16.745, Mesir 13.455, Yordania
12.249, Albania 10.528, Indonesia 9.470,
Somalia 8.248, Banglades 7.156, Sudan
4.615, Malaysia 3.084, Senegal, 2.509,
Gambia 2.371, Libya 1.898, Kirgistan 1.662,
Azerbaijan 1.399, Guinea 1.287, Usbekistan
1.249, Yaman 1.083. Tidak jelas berapa
jumlah Muslim yang berasal dari Jerman
sendiri. Satu laporan dari Lembaga Statistik
Khusus umat Islam di Jerman menyebutkan
sedikitnya 18.000-an orang, namun ada
dugaan menyebutkan sekitar 40.000
orang.
Konversi Agama ke Islam
Satu fenomena yang menarik belakangan
bahwa tingkat konversi orang-orang
Jerman ke Islam cukup tinggi. Majalah
ternama Jerman Der Spiegel pernah
menyebutkan bahwa antara Juli 2004 dan
Juni 2005 saja terdapat sekitar 4000 orang
di Jerman masuk Islam (lihat juga laporan
RTL: http://www.youtube. com/watch?
v=mhMdTjLXo). Kebanyakan para muallaf
berasal dari kalangan terpelajar.
Menariknya, fenomena ini terjadi justru
disaat media-media Barat gencar
mengaitkan Islam dengan terorisme.
Apa motivasi masuknya orang-orang
Jerman ke Islam? Monika Wohlrab-Sahr dari
Institut für Kulturwissenschaften
Universitas Leipzig dalam studinya
menyatakan “viele auf der Suche nach
dem “Andersartigen” (banyak yang
sedang mencari “bentuk lain”). Dalam
banyak kasus, katanya. “..die Konvertiten
meist aus einer vorangegangenen
Lebenskrise heraus den Islam entdeckten
und nicht, wie oft im Nachhinein
geschildert werde, ein tatsächlicher
Vergleich mit anderen Religionen
stattgefunden habe. (Banyak pelaku
konversi tersebut mengalami problematika
kehidupan dan menemukan solusi dalam
Islam, bukan karena membanding-
bandingkannya dengan agama lain,
sebagaimana yang kerap digambarkan).
Monika menyebutkan bahwa penekanan
terhadap kedisiplinan dan kepatuhan
dalam Islam lebih kuat. Salah seorang
muallaf menyebutkan tertarik pada Islam
karena ajaran ini paling jelas merinci
tuntunan hidup bagi umatnya. Ada juga
yang mengakui meski Islam saat mundur
dari peradaban Barat, namun ajarannya
tetap relevan hingga saat ini.
Kebebasan Beragama
Di Jerman, kebebasan beragama dijamin
oleh Undang-Undang. Pasal 4 ayat 1
Undang-Undang Dasar Jerman
(Grundgesetz) menyebutkan Die Freiheit
des Glaubens, des Gewissens und die
Freiheit des religiösen und
weltanschaulichen Bekenntnisses sind
unverletzlich. (Kebebasan beragama dan
memiliki pandangan filosofis hidup tidak
boleh diganggu). Memang belakangan
terdapat beberapa kasus dimana warga
Muslim mendapat diskriminasi di Jerman
misalnya dalam masalah jilbab. Namun hal
ini bukanlah kasus yang fenomenal dan
tidak merubah kebijakan pemerintah
Jerman terhadap umat Islam. Secara
umum, masyarakat Jerman sangat
menghargai kebebasan beragama. Sebuah
survey yang pernah dilakukan Stiftung
Konrad Adenauer menunjukkan bahwa dua
pertiga peserta polling percaya bahwa
umat Islam harus diberikan kebebasan
untuk melaksanakan ajaran agama mereka.
Organisasi-organisasi Islam di Jerman
umumnya berafilisasi kepada kelompok-
kelompok kultural seperti tersebut diatas.
Namun belakangan ada upaya-upaya
penyatuan dengan membuat lembaga yang
berfungsi sebagai mediator dan pemersatu
berbagai organisasi yang ada.
Pendidikan Islam Formal
Berbeda dengan kebanyakan negara-
negara lain di Eropa, Jerman dalam
perkembangan terakhir, mulai
memperbolehkan pelajaran agama Islam
bagi para pelajar Muslim di sekolah-sekolah
umum. Biasanya pelajaran agama
dilakukan orang-orang Islam secara non-
formal di mesjid-mesjid atau kelompok-
kelompok masyarakat. Kebijakan baru yang
merupakan hasil dari penggodokan
bersama antara pemerintah Jerman dan
komunitas Muslim di Jerman ini adalah
salah satu upaya mendukung proses
integrasi sosial Muslim di Jerman. Menurut
Wolfgang Schrauber, Menteri Dalam Negeri
Jerman, kebijakan tersebut dapat
menjembatani perbedaan yang kerap
timbul.
Tidak hanya di level sekolah, pendidikan
Islam juga mulai diperkenalkan pada
tingkat akademik dengan membuka
Jurusan Teologi Islam di perguruan tinggi
di Jerman. Pendidikan pada tingkat
akademik ini dianggap dapat memberi
solusi terhadap masalah kehidupan Muslim
dalam keragaman dan juga dapat
mengangkat isu partisipasi mereka dalam
diskursus politik di negara tersebut.
Mesjid Sebagai Pusat Pembinaan.
Karena tidak adanya infrastruktur
keagamaan formal, mesjid-mesjid di
Jerman memiliki peran yang sangat
penting dalam pembinaan komunitas
Muslim. Mesjid tidak hanya berfungsi
sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai
tempat pendidikan/pengajaran, pertemuan
sosial keagamaan, acara perkawinan, dan
pusat bisnis. Karenanya tidak sedikit mesjid
yang memiliki toko, restoran,
perpustakaan, dan ruang pertemuan. Saat
ini jumlah mesjid di Jerman berkisar 2000,
namun sebagian besar tidak dalam
bentuknya yang umum, melainkan ruko-
ruko yang berada dekat pusat bisnis dan
perumahan kaum Muslim. Tuntutan kaum
Muslimin untuk membangun mesjid dalam
bentuknya yang umum selalu kandas di
tingkat parlemen setempat. Namun sejak
tahun 1990-an, banyak mesjid yang utuh
dan megah di bangun. Satu laporan
menyebut sekitar 200 telah terbangun dan
lebih dari 30 dalam proses pembangunan.
Sebagai catatan akhir, dapat dikatakan
bahwa perkembangan Islam dan
komunitas Muslim di Jerman tampak
memberi dampak yang positif bagi
kehidupan masyarakat Jerman. Penerimaan
Islam oleh masyarakat Jerman sendiri
menunjukkan agama ini memberikan
alternatif bagi pemecahan masalah
kehidupan mereka. Islam tidak lagi
diidentikkan sebagai agama para imigran
melainkan agama yang terintegral dari
kehidupan mereka sendiri. Integrasi Islam
dan kultur mereka inilah yang akan
membangun apa yang dikenal sebagai
“ Euro Islam”.
Selasa, 17 Mei 2011
ISLAM DI AUSTRALIA
Australia
adalah
tempat
jumlah umat
Islamnya
terus
bertambah.
Menurut
sensus
terakhir tahun 2006, lebih dari 340.000
orang mengidentifikasi diri sebagai umat
Islam. Ini adalah sekitar 1,7 persen dari
total penduduk Australia. Islam secara
tradisional yang terkait dengan migran dan
para pendatang baru.
Hal ini terutama terjadi di tahun 1970-an,
tahun 1980-an dan 1990-an ketika
gelombang dari para pengungsi dan
migran yang baru tiba dari beberapa titik di
Timur Tengah. Tetapi semakin lama
komposisi umat Islam Australia berubah
dari imigran berkembang menjadi
penduduk asli.
Kini, hampir 40 persen dari umat Islam
Australia menganggap Australia sebagai
tempat mereka lahir. Hal ini berakibat
besar pada bagaimana generasi baru dari
umat Islam sendiri menentukan dan
mengartikulasi identitas mereka. Pada
tingkat yang paling dangkal, mereka sering
menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa pilihan komunikasi. Di tingkat lebih
dalam, mereka melihat Australia sebagai
rumah tinggal dan tidak lagi punya
keinginan untuk kembali ke tanah leluhur
mereka, sebagaimana orang tua mereka
lakukan.
Struktur
Muslim Australia heterogen secara
kesukuan dan bahasa. Yang terbesar adalah
kelompok etnis Libanon, Turki, dan Arab
Afghan. Perbedaan suku dan bahasa
mempunyai perbedaan historis yang
mempengaruhi inisiatif masyarakat,
organisasi dan jamaahnya. Akibatnya,
masing-masing kelompok etnis cenderung
condong ke arah perbedaan masjid atau
organisasi etnis yang jelas.
Tetapi banyak umat Islam Australia yang
telah mencoba menjembatani etnis yang
terbagi. Ironisnya, penggunaan bahasa
Inggris telah menjadi ukuran yang paling
efektif untuk menyatukan umat Islam dari
berbagai latar belakang etnis dan linguistik.
Integrasi Muslim di Australia menghadapi
sejumlah tantangan. Beberapa tantangan
itu bersifat struktural dan terkait dengan
kemampuan Muslim Australia untuk
berpartisipasi secara efektif dalam kegiatan
ekonomi yang bermanfaat, sering
merupakan hal yang sulit bagi para
pendatang baru yang baru saja tiba.
Tantangan lain lebih subyektif dan terkait
dengan hambatan politik dan budaya.
Tantangan sosio-ekonomi
Komposisi sosial-ekonomi umat Islam di
Australia beragam. Ada beberapa umat
Islam yang telah berhasil mencapai posisi
kewenangan dalam bisnis, politik dan
pendidikan. Tetapi mayoritas Muslim
cenderung masih berada pada posisi
rendah.
Sensus Australia terakhir disorot karena
adanya kekhawatiran ketidakcocokan
dalam hal standar hidup dan akses
terhadap kekayaan antara Muslim dan non-
Muslim. Lebih dari 2 persen dari rumah
tangga muslim tidak terdaftar
pendapatannya; ini adalah dua kali jumlah
non-Muslim dalam kategori tersebut.
Dalam hal kepemilikan rumah, indikator
keuangan dan keamanan sebuah yayasan,
dari ‘Australian dream,’ Muslim
terdaftar hanya 15 persen. Kepemilikan
rumah di antara sisa penduduk ada pada
33 persen.
Pekerjaan
Angka kerja memperkuat ketidakcocokan di
atas antara Muslim dan semua masyarakat
Australia. Sedangkan untuk tingkat
pengangguran non-Muslim usia 25-45 ada
pada 5 persen, tingkat pengangguran yang
Muslim adalah 12 persen untuk kelompok
usia yang sama. Angka-angka ini
menunjukkan bahwa keamanan finansial
dan kemiskinan merupakan masalah serius
bagi umat Islam.
Kenyataannya, angka berkaitan dengan
pendapatan rumah tangga menempatkan
40 persen dari rumah tangga Muslim di
bawah garis kemiskinan. Masalah sosial-
ekonomi riil ini menjadi hambatan bagi
integrasi positif dan aktif dalam
masyarakat Australia.
Isolasi Setelah 9 / 11
Isu-isu politik memberikan tantangan baru.
Setelah serangan teroris 11 September dan
kemudian bom Bali, London dan Madrid,
pemerintah Australia yang liberal
mengadopsi serangkaian kebijakan luar
negeri dan dalam negeri yang secara luas
dianggap merugikan dan bias terhadap
umat Islam.
Aliansi pemerintah Australia dengan
Amerika Serikat dalam Perang melawan
Teror mengambil tentara Australia ke Irak
dan Afghanistan-perang yang dianggap
oleh banyak orang sebagai menjadikan
umat Islam target. Kasus Irak secara
khusus telah menghasilkan kegelisahan di
kalangan umat Islam Australia.
Mereka tidak dapat memahami mengapa
Pemerintah Australia mengabaikan
sentimen mayoritas menentang perang,
yang dinyatakan di publik jalan-jalan besar
kota Melbourne dan Sydney, dan memilih
untuk terlibat dalam perang dengan dasar
hukum yang meragukan. Apakah aliansi
dengan Amerika Serikat lebih penting
daripada menghormati hukum
internasional?
Keterlibatan Australia dalam perang
melawan teror merupakan pengalaman
pengasingan bagi banyak umat Islam. Hal
ini menjadi lebih nyata dengan adopsi
undang-undang anti-teror. Undang-
undang ini telah dikritik oleh organisasi
sipil liberal dan kelompok Muslim sebagai
penargetan warga Muslim, daripada
dugaan tidak bersalah bagi mereka.
Kekuatan badan-badan keamanan untuk
menahan tersangka teror tanpa perlu
memberikan bukti atau mengenakan kasus
itu kepada proses peradilan, melemahkan
tersangka untuk membela diri. Tersangka
teroris menjadi tersangka bersalah sampai
dibuktikan sebaliknya. Membuktikan bahwa
mereka bukan teroris adalah hal yang
mustahil, dan banyak mengkhawatirkan
bahwa umat Islam diletakkan dalam posisi
yang mustahil tersebut.
Pada tahun 2007 ketika seorang dokter
tamu dituduh ada hubungan dengan sel
teror di Inggris, kekhawatiran itu terbukti.
Dr. Haneef-nama orang itu-memang
akhirnya dibebaskan dari setiap tuduhan,
tapi tidak sebelum ia kehilangan pekerjaan
dan diusir dari Australia. Ini adalah tragedi
pribadi yang dirasakan oleh seluruh
penduduk Muslim di Australia. Kasus
Haneef adalah kasus yang sangat efektif
adalah meniup ke diri umat Muslim rasa
kepercayaan diri dan keyakinan di Australia.
Dalam konteks ini, Pemerintah Australia di
bawah kepemimpinan John Howard telah
terlibat dalam kampanye populis untuk
mempresentasikan dirinya sebagai
pelindung terbaik bagi Australia.
Penekanan pada nilai-nilai Australia dan
pengenalan ujian kewarganegaraan, di
tengah laporan-laporan media akan warga
Irak dan Afganistan yang mencari suaka
tiba di pantai Australia, membuat tegang
hubungan antara Muslim dan non-Muslim.
Rasa Terluka
Laporan dan survei tentang Muslim
Australia telah mencatat dengan gamblang
rasa terluka dan pengasingan karena cara
Pemerintah Australia menggambarkan
umat Islam, padahl itu dilakukan untuk
kepentingan sendiri untuk keuntungan
politik. Pengasingan umat Islam juga
dengan jelas dilakukan oleh media yang
meliput Islam.
Ada kemarahan di kalangan umat Islam
dengan cara media menyamakan Islam
dengan terorisme. Jelas ada rasa tidak puas
di antara umat Islam terhadap media dan
kebijakan pemerintah yang lalu. Banyak
umat Islam memandang diri sendiri
sebagai masyarakat ’sasaran’;
diperparah oleh marginalisasi sosial-
ekonomi, pengalaman ini cenderung
mengikis kepercayaan diri dan tantangan
prospek integrasi. Bahayanya di sini adalah
isolasi diri. Tetapi Muslim Australia tidak
mampu melakukan itu. Jika prasangka dan
kesalahpahaman dihadapi dan dikoreksi,
Muslim harus proaktif dan terlibat dalam
debat publik.
Perubahan pemerintahan di Australia pada
akhir tahun 2007 menawarkan harapan
baru. Pemerintah Buruh Kevin Rudd, tidak
terlibat dalam stereotyping populis
tentang Muslim, tetapi, lebih menekankan
‘inklusi sosial’. Muslim Australia dapat
mengambil hati dari hal ini dan mengambil
manfaat dari kesempatan yang ada.
[nuansaislam]
Penulis: Profesor Shahram Akbarzadeh,
Deputi Direktur National Centre of
Excellence for Islamic Studies di Universitas
Melbourne.
Sejarah Masuknya Islam ke Australia
Sejarah masuknya Islam ke Australia
dimulai dari interaksi pertama kali nelayan
yang berasal dari Sulawesi Selatan
(Indonesia) dengan penduduk asli di
bagian Utara Australia (Aborigin) pada
sekitar tahun 1750. Tidak banyak jumlah
Muslim yang tinggal di Australia saat itu,
sampai pada sekitar tahun 1860
serombongan penggembala onta berasal
dari Afganisthan datang ke Australia
menambah jumlah Muslim yang tinggal di
Australia.
Pada abad ke 19 Australia mempunyai
banyak daerah/tanah yang kaya akan
sumber daya alam yang belum
tereksploitasi.Sebagian besar dari tanah
tersebut berupa padang pasir dengan
temperatur yang sangat tinggi dengan
sedikit sumber mata air. Onta merupakan
binatang ideal untuk kondisi tersebut,
maka pada tahun 1840 seorang bernama
Horrick memasukkan (import) pertama kali
onta ke Australia, dia ingin
membandingkan antara onta dan kuda
sebagai hewan pengangkut barang di
padang pasir, tetapi missi ini gagal.
Kelompok onta selanjutnya datang pada
tahun 1860 sebanyak 24 onta. Dengan
mencoba mempergunakan onta sebagai
hewan pengangkut, Australia
membutuhkan orang-orang yang ahli
dalam mengendarai dan mengoperasikan
onta, maka didatangkanlah untuk pertama
kali orang-orang Afghanistan untuk
mengoperasikan 24 onta tersebut, dan
tidak lama setelah itu berdatangan lebih
banyak Muslim Afghanisthan ke Australia.
Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta
didatangkan ke Australia dalam kurun
waktu antara tahun 1860 sampai 1907.
Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari
Afghanistan bekerja sebagai pengangkut
barang-barang, air, serta makanan dengan
mempergunakan onta di daerah-daerah
yang sulit. (A. Saeed, Islam in Australia,
Allen & Unwin, 2003). Para penggembala
onta dari Afghanistan ini menemukan
tempat yang hampir sama kondisinya
seperti di daerah asal mereka di Australia
tengah, mereka mengendarai ontanya dan
berjalan melintasi padang pasir sekitar 600
km untuk mengangkut barang-barang
kebutuhan utama dan penting dari
Oodnadatta menuju Alice Springs (Australia
Tengah). “Kontribusi mereka dalam
membuka areal serta jalur umum untuk
masyarakat luas di daerah-daerah Australia
sangat besar dan penting. Tulang
punggung perekonomian tradisional
Australia saat itu yaitu agriculture dan
pertambangan sangat membutuhkan onta
sebagai alat transportasi beserta
penggembalanya” (Tin Mosques and
Ghantowns – Christine Stevens 1989).
Dengan berakhirnya era transportasi
industri mempergunakan onta pada sekitar
tahun 1920, serta peraturan yang lebih
ketat dari badan Imigrasi Australia
berkenaan dengan sedikitnya populasi
warga kulit putih Australia, maka jumlah
Muslim Afghanistan yang dating ke
Australia menjadi berkurang. (B. Cleland,
The Muslims in Australia: A Brief History,
Islamic Council of Victoria, 2002).
Pada sekitar tahun 1960, disebabkan
peraturan yang lebih longgar dari badan
Imigrasi Australia berkenaan dengan
migrasi bangsa non-Eropa ke Australia,
jumlah Muslim yang datang ke Australia
menjadi bertambah. Pada sekitar tahun
1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah
yang cukup besar terjadi migrasi Muslim
dari Lebanon dan Turki ke Australia, dimana
jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini
berasal dari ke dua Negara tersebut. Jumlah
Muslim terbesar yang tinggal di Australia
saat ini berasal dari bangsa Arab,
dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya
Muslim yang berasal dari Lebanon
mempunyai jumlah terbesar dan sejarah
migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi
pertama bangsa Libanon ke Australia
terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an.
Gelombang kedua migrasi terjadi antara
tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama
setelah terjadi perang antara bangsa Arab
dan Israel pada tahun 1967. Gelombang ke
tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi
perang sipil di Lebanon. Bangsa Arab lain
yang mempunyai populasi terbanyak di
Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya
bangsa Lebanon, migrasi bangsa Mesir ke
Australia terbesar terjadi setelah perang
dunia II, migrasi ini terjadi dalam dua
gelombang yaitu antara tahun 1947
sampai dengan 1971, dan gelombang ke
dua terjadi pada sekitar akhir 1980-an. (A.
Saeed, Islam in Australia, Allen & Unwin,
2003).
Muslim di Australia saat ini
Berdasarkan sensus dari Australian Bureau
of Statistics (ABS) pada tahun 2001, jumlah
Muslim di Australia sebesar 281.578 orang,
atau 1,5 % dari populasi jumlah penduduk
Australia. Sedangkan menurut estimasi dari
salah satu lembaga Islam di New South
Wales (NSW) mencapai 300.000 orang.
Sensus juga menunjukkan bahwa Muslim di
Australia berasal dari berbagai Negara,
dengan hanya 20,8 % berasal dari Lebanon
dan 14.5 % berasal dari Turki, sedangkan
64.7 % berasal dari sekitar 9 negara
(Indonesia, Afghanistan, Bosnia, dsb).
Sensus tersebut juga menunjukkan bahwa
Muslim Australia mempunyai pendidikan
yang cukup baik dibandingkan dengan
penduduk Australia secara keseluruhan,
21,7 % dari Muslim Australia yang berusia
di atas 15 tahun mempunyai gelar sarjana
(bachelor degree) atau lebih tinggi,
prosentase ini lebih tinggi dibandingkan
dengan 12,4 % dari penduduk Australia
secara keseluruhan. Kesimpulan penting
dari hasil statistik ini adalah bahwa
anggapan negatif tentang mayoritas
Muslim Australia tidak berpendidikan
terutama yang berasal dari bangsa Arab
adalah tidak berdasar.
Aktifitas Ibadah
Dalam melakukan aktifitas ibadah Muslim
di Australia mempunyai lebih dari 85 Masjid
dan sekitar 50 musolah (tempat sholat),
disamping itu di beberapa daerah yang
jauh dari Masjid beberapa Muslim
berinisiatif untuk menyewa gedung
(misalnya gedung pusat kegiatan
komunitas) untuk dijadikan tempat sholat
jum’at. Untuk membangun sebuah Mesjid
memerlukan prosedur tertentu yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yang harus
dipenuhi syarat-syaratnya sebagaimana
membangun gedung-gedung untuk
kepentingan umum lainnya.
Secara individual biasanya Muslim
mempunyai masalah dalam melakukan
aktifitas ibadah sholat pada saat hari kerja,
yang paling banyak mengalami masalah
adalah pada saat pelaksanaan shalat
Jum’at. Apabila menghadapi masalah
sulitnya melaksanakan sholat Jum’at,
muslim yang taat memilih keluar dari
tempat kerja atau mengorganisasi
beberapa muslim yang berdekatan tempat
kerjanya untuk melaksanakan sholat
Jum’at, sedangkan muslim yang kurang
taat melaksanakan ibadahnya memilih
meninggalkan sholat Jum’at. Kegiatan
keagamaan di Australia cukup semarak, hal
ini bias dilihat dari banyaknya majelis
taklim atau kelompok-kelompok pengajian
yang ada, bahkan beberapa gerakan Islam
cukup aktif terlihat melakukan berbagai
aktifitas.
Kondisi Muslim Australia Pasca Bom London
7 Juli 2005
Tidak lama setelah terjadi peristiwa
meledaknya bom di London 7 Juli 2005,
pemerintahan Negara Barat segera
melakukan kampanye terus menerus untuk
memberlakukan undang-undang khusus
bagi umat Islam yang tinggal di Negara
Barat. Mereka mencoba membentuk opini
menyesatkan kepada masyarakat bahwa
undang-undang baru tersebut
dimaksudkan untuk melindungi dan
memerangi bahaya serangan terorisme di
Negara mereka. Tetapi tidak bisa dielakkan,
agenda tersembunyi dari kampanye
tersebut yaitu membidik serta
melemahkan Islam dan Muslim di Negara
Barat segera terlihat nyata.
Strategi dan agenda tersembunyi yang
ditunjukkan oleh Pemerintahan Negara
Barat mempunyai banyak kesamaan.
Propaganda yang dimulai dengan alasan
yang dicari-cari untuk memerangi
terorisme, segera diperluas untuk
memerangi apa yang mereka sebut dengan
pendapat/ide radikal dan ekstrim, strategi
ini ditargetkan untuk memecah belah
Muslim dengan memberi predikat muslim
moderat dan muslim radikal/ekstrim.
Di Australia target juga diarahkan ke
sekolah-sekolah muslim, dimana
pemerintah akan meninjau kembali
kurikulum yang diajarkan di sekolah-
sekolah tersebut. Rencana ini segera
mendapat reaksi keras dari sekolah-sekolah
muslim, karena kurikulum yang diajarkan
saat ini tidak beda jauh dengan apa yang
diajarkan di sekolah-sekolah lainnya,
bahkan banyak murid dari sekolah-sekolah
muslim tersebut yang mempunyai prestasi
lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah
lainnya. Pemerintah juga mengusulkan
agar di sekolah-sekolah muslim lebih
banyak diajarkan nilai-nilai kemasyarakatan
Australia, seperti toleransi, tanggung jawab
dan sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut
juga ada dalam Islam dan sudah diajarkan
di sekolah-sekolah muslim tersebut, lebih
dari itu sekolah-sekolah muslim dalam
kurikulum belajar tidak pernah
mengajarkan tindakan terorisme.
Sedangkan di masjid-masjid, pemerintah
mengusulkan agar para Imam masjid diberi
pengarahan apa yang seharusnya boleh
mereka ceramahkan.
Tidak hanya sampai disitu, anggota
parlemen dari partai Liberal Bronwyn
Bishop mengusulkan agar melarang
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
umum, karena jilbab dianggap
bertentangan dengan nilai-nilai
kemasyarakatan Australia tentang
persamaan dan menyebabkan perpecahan
di sekolah-sekolah. Usulan ini juga
mendapat tantangan keras baik dari
muslim maupun non muslim, sebagian
besar yang menentang usulan itu
mengatakan bahwa tidak ada bukti
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
menyebabkan perpecahan dan persamaan
hak. Kerry Cullen salah satu kepala sekolah
menengah umum tingkat atas (SMTA) di
Sydney mengatakan bahwa di sekolahnya
hanya ada satu orang yang menggunakan
jilbab merah kecoklatan dimana warna
tersebut sesuai dengan seragam
sekolahnya, dan itu bukan suatu masalah di
lingkungan sekolahnya. Tidak pernah ada
laporan negatif dari guru-guru atau murid-
murid yang disebabkan oleh pemakaian
jilbab. Kepala sekolah lainnya mengatakan
bahwa kita tidak pernah melihat adanya
perpecahan yang disebabkan oleh
pemakaian jilbab, kami melihatnya sebagai
sebuah keragaman budaya.
Hubungan Muslim dan Non Muslim serta
harapan Muslim di Australia
Secara umum hubungan Muslim dan Non
Muslim di Australia cukup baik, terutama
sebelum terjadi peristiwa 11 September.
Tetapi setelah peristiwa 11 September,
bom bali, kemudian disusul bom London
banyak Muslim yang mendapat perlakuan
kurang menyenangkan baik oleh
masyarakat umum maupun oleh
pemerintah dan media massa. Namun
demikian hubungan personal antara
Muslim dan Non Muslim masih cukup baik,
meskipun terkadang sebutan teroris baik
dalam nada bercanda maupun serius sering
dilontarkan Non Muslim kepada Muslim,
sebutan atau label teroris ini terkadang
kurang menyenangkan bagi Muslim.
Secara umum harapan Muslim yang tinggal
di Australia adalah bisa lebih mudah
menjalankan aktifitas ibadahnya terutama
ibadah sholat Jum’at, sedangkan harapan
yang ditujukan kepada pemerintah
Australia dan media massa adalah tidak
terus menerus menyudutkan Muslim
dengan memberi label-label yang tidak
menyenangkan seperti ekstrimis, radikal,
teroris dan sebagainya.
adalah
tempat
jumlah umat
Islamnya
terus
bertambah.
Menurut
sensus
terakhir tahun 2006, lebih dari 340.000
orang mengidentifikasi diri sebagai umat
Islam. Ini adalah sekitar 1,7 persen dari
total penduduk Australia. Islam secara
tradisional yang terkait dengan migran dan
para pendatang baru.
Hal ini terutama terjadi di tahun 1970-an,
tahun 1980-an dan 1990-an ketika
gelombang dari para pengungsi dan
migran yang baru tiba dari beberapa titik di
Timur Tengah. Tetapi semakin lama
komposisi umat Islam Australia berubah
dari imigran berkembang menjadi
penduduk asli.
Kini, hampir 40 persen dari umat Islam
Australia menganggap Australia sebagai
tempat mereka lahir. Hal ini berakibat
besar pada bagaimana generasi baru dari
umat Islam sendiri menentukan dan
mengartikulasi identitas mereka. Pada
tingkat yang paling dangkal, mereka sering
menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa pilihan komunikasi. Di tingkat lebih
dalam, mereka melihat Australia sebagai
rumah tinggal dan tidak lagi punya
keinginan untuk kembali ke tanah leluhur
mereka, sebagaimana orang tua mereka
lakukan.
Struktur
Muslim Australia heterogen secara
kesukuan dan bahasa. Yang terbesar adalah
kelompok etnis Libanon, Turki, dan Arab
Afghan. Perbedaan suku dan bahasa
mempunyai perbedaan historis yang
mempengaruhi inisiatif masyarakat,
organisasi dan jamaahnya. Akibatnya,
masing-masing kelompok etnis cenderung
condong ke arah perbedaan masjid atau
organisasi etnis yang jelas.
Tetapi banyak umat Islam Australia yang
telah mencoba menjembatani etnis yang
terbagi. Ironisnya, penggunaan bahasa
Inggris telah menjadi ukuran yang paling
efektif untuk menyatukan umat Islam dari
berbagai latar belakang etnis dan linguistik.
Integrasi Muslim di Australia menghadapi
sejumlah tantangan. Beberapa tantangan
itu bersifat struktural dan terkait dengan
kemampuan Muslim Australia untuk
berpartisipasi secara efektif dalam kegiatan
ekonomi yang bermanfaat, sering
merupakan hal yang sulit bagi para
pendatang baru yang baru saja tiba.
Tantangan lain lebih subyektif dan terkait
dengan hambatan politik dan budaya.
Tantangan sosio-ekonomi
Komposisi sosial-ekonomi umat Islam di
Australia beragam. Ada beberapa umat
Islam yang telah berhasil mencapai posisi
kewenangan dalam bisnis, politik dan
pendidikan. Tetapi mayoritas Muslim
cenderung masih berada pada posisi
rendah.
Sensus Australia terakhir disorot karena
adanya kekhawatiran ketidakcocokan
dalam hal standar hidup dan akses
terhadap kekayaan antara Muslim dan non-
Muslim. Lebih dari 2 persen dari rumah
tangga muslim tidak terdaftar
pendapatannya; ini adalah dua kali jumlah
non-Muslim dalam kategori tersebut.
Dalam hal kepemilikan rumah, indikator
keuangan dan keamanan sebuah yayasan,
dari ‘Australian dream,’ Muslim
terdaftar hanya 15 persen. Kepemilikan
rumah di antara sisa penduduk ada pada
33 persen.
Pekerjaan
Angka kerja memperkuat ketidakcocokan di
atas antara Muslim dan semua masyarakat
Australia. Sedangkan untuk tingkat
pengangguran non-Muslim usia 25-45 ada
pada 5 persen, tingkat pengangguran yang
Muslim adalah 12 persen untuk kelompok
usia yang sama. Angka-angka ini
menunjukkan bahwa keamanan finansial
dan kemiskinan merupakan masalah serius
bagi umat Islam.
Kenyataannya, angka berkaitan dengan
pendapatan rumah tangga menempatkan
40 persen dari rumah tangga Muslim di
bawah garis kemiskinan. Masalah sosial-
ekonomi riil ini menjadi hambatan bagi
integrasi positif dan aktif dalam
masyarakat Australia.
Isolasi Setelah 9 / 11
Isu-isu politik memberikan tantangan baru.
Setelah serangan teroris 11 September dan
kemudian bom Bali, London dan Madrid,
pemerintah Australia yang liberal
mengadopsi serangkaian kebijakan luar
negeri dan dalam negeri yang secara luas
dianggap merugikan dan bias terhadap
umat Islam.
Aliansi pemerintah Australia dengan
Amerika Serikat dalam Perang melawan
Teror mengambil tentara Australia ke Irak
dan Afghanistan-perang yang dianggap
oleh banyak orang sebagai menjadikan
umat Islam target. Kasus Irak secara
khusus telah menghasilkan kegelisahan di
kalangan umat Islam Australia.
Mereka tidak dapat memahami mengapa
Pemerintah Australia mengabaikan
sentimen mayoritas menentang perang,
yang dinyatakan di publik jalan-jalan besar
kota Melbourne dan Sydney, dan memilih
untuk terlibat dalam perang dengan dasar
hukum yang meragukan. Apakah aliansi
dengan Amerika Serikat lebih penting
daripada menghormati hukum
internasional?
Keterlibatan Australia dalam perang
melawan teror merupakan pengalaman
pengasingan bagi banyak umat Islam. Hal
ini menjadi lebih nyata dengan adopsi
undang-undang anti-teror. Undang-
undang ini telah dikritik oleh organisasi
sipil liberal dan kelompok Muslim sebagai
penargetan warga Muslim, daripada
dugaan tidak bersalah bagi mereka.
Kekuatan badan-badan keamanan untuk
menahan tersangka teror tanpa perlu
memberikan bukti atau mengenakan kasus
itu kepada proses peradilan, melemahkan
tersangka untuk membela diri. Tersangka
teroris menjadi tersangka bersalah sampai
dibuktikan sebaliknya. Membuktikan bahwa
mereka bukan teroris adalah hal yang
mustahil, dan banyak mengkhawatirkan
bahwa umat Islam diletakkan dalam posisi
yang mustahil tersebut.
Pada tahun 2007 ketika seorang dokter
tamu dituduh ada hubungan dengan sel
teror di Inggris, kekhawatiran itu terbukti.
Dr. Haneef-nama orang itu-memang
akhirnya dibebaskan dari setiap tuduhan,
tapi tidak sebelum ia kehilangan pekerjaan
dan diusir dari Australia. Ini adalah tragedi
pribadi yang dirasakan oleh seluruh
penduduk Muslim di Australia. Kasus
Haneef adalah kasus yang sangat efektif
adalah meniup ke diri umat Muslim rasa
kepercayaan diri dan keyakinan di Australia.
Dalam konteks ini, Pemerintah Australia di
bawah kepemimpinan John Howard telah
terlibat dalam kampanye populis untuk
mempresentasikan dirinya sebagai
pelindung terbaik bagi Australia.
Penekanan pada nilai-nilai Australia dan
pengenalan ujian kewarganegaraan, di
tengah laporan-laporan media akan warga
Irak dan Afganistan yang mencari suaka
tiba di pantai Australia, membuat tegang
hubungan antara Muslim dan non-Muslim.
Rasa Terluka
Laporan dan survei tentang Muslim
Australia telah mencatat dengan gamblang
rasa terluka dan pengasingan karena cara
Pemerintah Australia menggambarkan
umat Islam, padahl itu dilakukan untuk
kepentingan sendiri untuk keuntungan
politik. Pengasingan umat Islam juga
dengan jelas dilakukan oleh media yang
meliput Islam.
Ada kemarahan di kalangan umat Islam
dengan cara media menyamakan Islam
dengan terorisme. Jelas ada rasa tidak puas
di antara umat Islam terhadap media dan
kebijakan pemerintah yang lalu. Banyak
umat Islam memandang diri sendiri
sebagai masyarakat ’sasaran’;
diperparah oleh marginalisasi sosial-
ekonomi, pengalaman ini cenderung
mengikis kepercayaan diri dan tantangan
prospek integrasi. Bahayanya di sini adalah
isolasi diri. Tetapi Muslim Australia tidak
mampu melakukan itu. Jika prasangka dan
kesalahpahaman dihadapi dan dikoreksi,
Muslim harus proaktif dan terlibat dalam
debat publik.
Perubahan pemerintahan di Australia pada
akhir tahun 2007 menawarkan harapan
baru. Pemerintah Buruh Kevin Rudd, tidak
terlibat dalam stereotyping populis
tentang Muslim, tetapi, lebih menekankan
‘inklusi sosial’. Muslim Australia dapat
mengambil hati dari hal ini dan mengambil
manfaat dari kesempatan yang ada.
[nuansaislam]
Penulis: Profesor Shahram Akbarzadeh,
Deputi Direktur National Centre of
Excellence for Islamic Studies di Universitas
Melbourne.
Sejarah Masuknya Islam ke Australia
Sejarah masuknya Islam ke Australia
dimulai dari interaksi pertama kali nelayan
yang berasal dari Sulawesi Selatan
(Indonesia) dengan penduduk asli di
bagian Utara Australia (Aborigin) pada
sekitar tahun 1750. Tidak banyak jumlah
Muslim yang tinggal di Australia saat itu,
sampai pada sekitar tahun 1860
serombongan penggembala onta berasal
dari Afganisthan datang ke Australia
menambah jumlah Muslim yang tinggal di
Australia.
Pada abad ke 19 Australia mempunyai
banyak daerah/tanah yang kaya akan
sumber daya alam yang belum
tereksploitasi.Sebagian besar dari tanah
tersebut berupa padang pasir dengan
temperatur yang sangat tinggi dengan
sedikit sumber mata air. Onta merupakan
binatang ideal untuk kondisi tersebut,
maka pada tahun 1840 seorang bernama
Horrick memasukkan (import) pertama kali
onta ke Australia, dia ingin
membandingkan antara onta dan kuda
sebagai hewan pengangkut barang di
padang pasir, tetapi missi ini gagal.
Kelompok onta selanjutnya datang pada
tahun 1860 sebanyak 24 onta. Dengan
mencoba mempergunakan onta sebagai
hewan pengangkut, Australia
membutuhkan orang-orang yang ahli
dalam mengendarai dan mengoperasikan
onta, maka didatangkanlah untuk pertama
kali orang-orang Afghanistan untuk
mengoperasikan 24 onta tersebut, dan
tidak lama setelah itu berdatangan lebih
banyak Muslim Afghanisthan ke Australia.
Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta
didatangkan ke Australia dalam kurun
waktu antara tahun 1860 sampai 1907.
Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari
Afghanistan bekerja sebagai pengangkut
barang-barang, air, serta makanan dengan
mempergunakan onta di daerah-daerah
yang sulit. (A. Saeed, Islam in Australia,
Allen & Unwin, 2003). Para penggembala
onta dari Afghanistan ini menemukan
tempat yang hampir sama kondisinya
seperti di daerah asal mereka di Australia
tengah, mereka mengendarai ontanya dan
berjalan melintasi padang pasir sekitar 600
km untuk mengangkut barang-barang
kebutuhan utama dan penting dari
Oodnadatta menuju Alice Springs (Australia
Tengah). “Kontribusi mereka dalam
membuka areal serta jalur umum untuk
masyarakat luas di daerah-daerah Australia
sangat besar dan penting. Tulang
punggung perekonomian tradisional
Australia saat itu yaitu agriculture dan
pertambangan sangat membutuhkan onta
sebagai alat transportasi beserta
penggembalanya” (Tin Mosques and
Ghantowns – Christine Stevens 1989).
Dengan berakhirnya era transportasi
industri mempergunakan onta pada sekitar
tahun 1920, serta peraturan yang lebih
ketat dari badan Imigrasi Australia
berkenaan dengan sedikitnya populasi
warga kulit putih Australia, maka jumlah
Muslim Afghanistan yang dating ke
Australia menjadi berkurang. (B. Cleland,
The Muslims in Australia: A Brief History,
Islamic Council of Victoria, 2002).
Pada sekitar tahun 1960, disebabkan
peraturan yang lebih longgar dari badan
Imigrasi Australia berkenaan dengan
migrasi bangsa non-Eropa ke Australia,
jumlah Muslim yang datang ke Australia
menjadi bertambah. Pada sekitar tahun
1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah
yang cukup besar terjadi migrasi Muslim
dari Lebanon dan Turki ke Australia, dimana
jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini
berasal dari ke dua Negara tersebut. Jumlah
Muslim terbesar yang tinggal di Australia
saat ini berasal dari bangsa Arab,
dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya
Muslim yang berasal dari Lebanon
mempunyai jumlah terbesar dan sejarah
migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi
pertama bangsa Libanon ke Australia
terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an.
Gelombang kedua migrasi terjadi antara
tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama
setelah terjadi perang antara bangsa Arab
dan Israel pada tahun 1967. Gelombang ke
tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi
perang sipil di Lebanon. Bangsa Arab lain
yang mempunyai populasi terbanyak di
Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya
bangsa Lebanon, migrasi bangsa Mesir ke
Australia terbesar terjadi setelah perang
dunia II, migrasi ini terjadi dalam dua
gelombang yaitu antara tahun 1947
sampai dengan 1971, dan gelombang ke
dua terjadi pada sekitar akhir 1980-an. (A.
Saeed, Islam in Australia, Allen & Unwin,
2003).
Muslim di Australia saat ini
Berdasarkan sensus dari Australian Bureau
of Statistics (ABS) pada tahun 2001, jumlah
Muslim di Australia sebesar 281.578 orang,
atau 1,5 % dari populasi jumlah penduduk
Australia. Sedangkan menurut estimasi dari
salah satu lembaga Islam di New South
Wales (NSW) mencapai 300.000 orang.
Sensus juga menunjukkan bahwa Muslim di
Australia berasal dari berbagai Negara,
dengan hanya 20,8 % berasal dari Lebanon
dan 14.5 % berasal dari Turki, sedangkan
64.7 % berasal dari sekitar 9 negara
(Indonesia, Afghanistan, Bosnia, dsb).
Sensus tersebut juga menunjukkan bahwa
Muslim Australia mempunyai pendidikan
yang cukup baik dibandingkan dengan
penduduk Australia secara keseluruhan,
21,7 % dari Muslim Australia yang berusia
di atas 15 tahun mempunyai gelar sarjana
(bachelor degree) atau lebih tinggi,
prosentase ini lebih tinggi dibandingkan
dengan 12,4 % dari penduduk Australia
secara keseluruhan. Kesimpulan penting
dari hasil statistik ini adalah bahwa
anggapan negatif tentang mayoritas
Muslim Australia tidak berpendidikan
terutama yang berasal dari bangsa Arab
adalah tidak berdasar.
Aktifitas Ibadah
Dalam melakukan aktifitas ibadah Muslim
di Australia mempunyai lebih dari 85 Masjid
dan sekitar 50 musolah (tempat sholat),
disamping itu di beberapa daerah yang
jauh dari Masjid beberapa Muslim
berinisiatif untuk menyewa gedung
(misalnya gedung pusat kegiatan
komunitas) untuk dijadikan tempat sholat
jum’at. Untuk membangun sebuah Mesjid
memerlukan prosedur tertentu yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yang harus
dipenuhi syarat-syaratnya sebagaimana
membangun gedung-gedung untuk
kepentingan umum lainnya.
Secara individual biasanya Muslim
mempunyai masalah dalam melakukan
aktifitas ibadah sholat pada saat hari kerja,
yang paling banyak mengalami masalah
adalah pada saat pelaksanaan shalat
Jum’at. Apabila menghadapi masalah
sulitnya melaksanakan sholat Jum’at,
muslim yang taat memilih keluar dari
tempat kerja atau mengorganisasi
beberapa muslim yang berdekatan tempat
kerjanya untuk melaksanakan sholat
Jum’at, sedangkan muslim yang kurang
taat melaksanakan ibadahnya memilih
meninggalkan sholat Jum’at. Kegiatan
keagamaan di Australia cukup semarak, hal
ini bias dilihat dari banyaknya majelis
taklim atau kelompok-kelompok pengajian
yang ada, bahkan beberapa gerakan Islam
cukup aktif terlihat melakukan berbagai
aktifitas.
Kondisi Muslim Australia Pasca Bom London
7 Juli 2005
Tidak lama setelah terjadi peristiwa
meledaknya bom di London 7 Juli 2005,
pemerintahan Negara Barat segera
melakukan kampanye terus menerus untuk
memberlakukan undang-undang khusus
bagi umat Islam yang tinggal di Negara
Barat. Mereka mencoba membentuk opini
menyesatkan kepada masyarakat bahwa
undang-undang baru tersebut
dimaksudkan untuk melindungi dan
memerangi bahaya serangan terorisme di
Negara mereka. Tetapi tidak bisa dielakkan,
agenda tersembunyi dari kampanye
tersebut yaitu membidik serta
melemahkan Islam dan Muslim di Negara
Barat segera terlihat nyata.
Strategi dan agenda tersembunyi yang
ditunjukkan oleh Pemerintahan Negara
Barat mempunyai banyak kesamaan.
Propaganda yang dimulai dengan alasan
yang dicari-cari untuk memerangi
terorisme, segera diperluas untuk
memerangi apa yang mereka sebut dengan
pendapat/ide radikal dan ekstrim, strategi
ini ditargetkan untuk memecah belah
Muslim dengan memberi predikat muslim
moderat dan muslim radikal/ekstrim.
Di Australia target juga diarahkan ke
sekolah-sekolah muslim, dimana
pemerintah akan meninjau kembali
kurikulum yang diajarkan di sekolah-
sekolah tersebut. Rencana ini segera
mendapat reaksi keras dari sekolah-sekolah
muslim, karena kurikulum yang diajarkan
saat ini tidak beda jauh dengan apa yang
diajarkan di sekolah-sekolah lainnya,
bahkan banyak murid dari sekolah-sekolah
muslim tersebut yang mempunyai prestasi
lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah
lainnya. Pemerintah juga mengusulkan
agar di sekolah-sekolah muslim lebih
banyak diajarkan nilai-nilai kemasyarakatan
Australia, seperti toleransi, tanggung jawab
dan sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut
juga ada dalam Islam dan sudah diajarkan
di sekolah-sekolah muslim tersebut, lebih
dari itu sekolah-sekolah muslim dalam
kurikulum belajar tidak pernah
mengajarkan tindakan terorisme.
Sedangkan di masjid-masjid, pemerintah
mengusulkan agar para Imam masjid diberi
pengarahan apa yang seharusnya boleh
mereka ceramahkan.
Tidak hanya sampai disitu, anggota
parlemen dari partai Liberal Bronwyn
Bishop mengusulkan agar melarang
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
umum, karena jilbab dianggap
bertentangan dengan nilai-nilai
kemasyarakatan Australia tentang
persamaan dan menyebabkan perpecahan
di sekolah-sekolah. Usulan ini juga
mendapat tantangan keras baik dari
muslim maupun non muslim, sebagian
besar yang menentang usulan itu
mengatakan bahwa tidak ada bukti
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
menyebabkan perpecahan dan persamaan
hak. Kerry Cullen salah satu kepala sekolah
menengah umum tingkat atas (SMTA) di
Sydney mengatakan bahwa di sekolahnya
hanya ada satu orang yang menggunakan
jilbab merah kecoklatan dimana warna
tersebut sesuai dengan seragam
sekolahnya, dan itu bukan suatu masalah di
lingkungan sekolahnya. Tidak pernah ada
laporan negatif dari guru-guru atau murid-
murid yang disebabkan oleh pemakaian
jilbab. Kepala sekolah lainnya mengatakan
bahwa kita tidak pernah melihat adanya
perpecahan yang disebabkan oleh
pemakaian jilbab, kami melihatnya sebagai
sebuah keragaman budaya.
Hubungan Muslim dan Non Muslim serta
harapan Muslim di Australia
Secara umum hubungan Muslim dan Non
Muslim di Australia cukup baik, terutama
sebelum terjadi peristiwa 11 September.
Tetapi setelah peristiwa 11 September,
bom bali, kemudian disusul bom London
banyak Muslim yang mendapat perlakuan
kurang menyenangkan baik oleh
masyarakat umum maupun oleh
pemerintah dan media massa. Namun
demikian hubungan personal antara
Muslim dan Non Muslim masih cukup baik,
meskipun terkadang sebutan teroris baik
dalam nada bercanda maupun serius sering
dilontarkan Non Muslim kepada Muslim,
sebutan atau label teroris ini terkadang
kurang menyenangkan bagi Muslim.
Secara umum harapan Muslim yang tinggal
di Australia adalah bisa lebih mudah
menjalankan aktifitas ibadahnya terutama
ibadah sholat Jum’at, sedangkan harapan
yang ditujukan kepada pemerintah
Australia dan media massa adalah tidak
terus menerus menyudutkan Muslim
dengan memberi label-label yang tidak
menyenangkan seperti ekstrimis, radikal,
teroris dan sebagainya.
Islam di america : Sejarah panjang yang terlupakan
Meskipun kebanyakan orang Amerika tidak
pernah berpikir bahwa kaum Muslimin
merupakan bagian dari masa lalu mereka,
umat Islam sebenarnya sama sekali tidak
baru atau asing dalam sejarah negara ini.
Di Amerika, Islam memiliki akar yang kuat,
begitu menurut para ahli.
"Muslim selalu menjadi bagian dari
Amerika Serikat, bahkan sebelum (AS)
menjadi sebuah bangsa," kata Dr Edward E.
Curtis, Profesor Studi Agama dan Studi
Amerika di Indiana University Purdue
University Indianapolis.
Dalam bukunya "Muslim di Amerika",
Curtis menelusuri sejarah Islam di Amerika
dan menjelaskan bagaimana umat Islam
hadir di awal pembentukan negara
Amerika.
"Pertama kali tiba di Amerika, adalah
Muslim berbahasa Spanyol pada abad
keenam belas," tegasnya.
"Dokumen-dokumen kolonial, termasuk
jurnal, catatan pengadilan, dan tagihan
penjualan untuk budak, menunjukkan
adanya Muslim di Amerika Utara yang
berbahasa Inggris."
Buku yang ditulis Curtis juga jejak umat
Muslim, dari Afro-Amerika yang masuk
Islam pada tahun 1920, sampai
gelombang-1965 yang merupakan tahun
imigran dari Asia dan Afrika, juga umat
Islam pasca 9 / 11.
Ia juga mendokumentasikan kehidupan
orang Amerika asli di awal sejarah mereka.
"Di 1730s, Job Ben Salomon, seorang
budak Muslim Afrika Barat yang dibawa ke
Maryland, menjadi selebriti Muslim
pertama di dunia Atlantik yang berbahasa
Inggris."
Curtis menyatakan dalam penelitiannya
bahwa kisah-kisah budak Muslim pertama
kalinya diakui dan dipetakan oleh non-
Muslim Amerika pada abad kesembilan
belas.
"Namun pada abad ke-20, sejarah masa
lalu Muslim Amerika telah hilang. Dalam
menghadapi konflik antara kapitalisme
dan komunisme, umat Islam tampak
perifer dengan sejarah Amerika."
Sebelum Columbus
Profesor Sulayman Nyang, ketua
Departemen Studi Afrika di Universitas
Howard di Washington, juga menelusuri
sejarah Islam di Amerika, bahkan sebelum
kedatangan Christopher Columbus.
"Saya telah mengidentifikasi lima tahap
dalam evolusi Islam di Amerika Serikat,"
katanya kepada OnIslam.
"Yang pertama adalah kehadiran Muslim
Pra-Columbus di Dunia Baru."
Dalam bukunya, "Islam di Amerika
Serikat", dan juga esainya yang begitu
banyak, Nyang menyimpulkan bahwa asal-
usul dan kehadiran Islam di Amerika tidak
dimulai dengan orang-orang seperti
Malcolm X atau Muhammad Ali Clay.
"Muslim datang ke negara ini selama
zaman Mansa Musa, Raja Mali di Afrika
Barat yang mengungkapkan perjalanan
Islam ke Dunia Baru."
Tahap berikutnya dalam sejarah Islam,
menurut Nyang, adalah periode
perdagangan budak, gelombang imigran
dari Timur Tengah, Yugoslavia dan Asia
Tenggara, dan dipeluknya Islam oleh
orang-orang Amerika, apakah itu orang
kulit putih, kulit hitam, orang Amerika asli,
atau pun Latin.
Terlupakan
Para ahli menyatakan bahwa banyak orang
tidak tahu bahwa umat Islam selalu bagian
dari pembentukan Amerika.
"Kebanyakan orang Amerika tidak
menganggap Muslim sebagai bagian dari
masa lalu mereka," sesal Dr Curtis.
Dia mengatakan keunggulan Muslim
generasi pertama dalam kehidupan
masyarakat, kemudian posisi umat Islam
sebagai "musuh" setelah peristiwa 9 / 11
di Amerika.
Profesor Nyang menyarankan mulai
sekarang ada organisasi-organisasi yang
mengumpulkan sejarah Muslim Amerika,
dan didedikasikan untuk pelestarian
sejarah Amerika itu sendiri.
"Melalui pengumpulan data historis, kita
mungkin bisa memberikan bimbingan
kepada generasi muda Muslim Amerika
untuk menambah pengayaan
Amerika." (sa/onislam)
pernah berpikir bahwa kaum Muslimin
merupakan bagian dari masa lalu mereka,
umat Islam sebenarnya sama sekali tidak
baru atau asing dalam sejarah negara ini.
Di Amerika, Islam memiliki akar yang kuat,
begitu menurut para ahli.
"Muslim selalu menjadi bagian dari
Amerika Serikat, bahkan sebelum (AS)
menjadi sebuah bangsa," kata Dr Edward E.
Curtis, Profesor Studi Agama dan Studi
Amerika di Indiana University Purdue
University Indianapolis.
Dalam bukunya "Muslim di Amerika",
Curtis menelusuri sejarah Islam di Amerika
dan menjelaskan bagaimana umat Islam
hadir di awal pembentukan negara
Amerika.
"Pertama kali tiba di Amerika, adalah
Muslim berbahasa Spanyol pada abad
keenam belas," tegasnya.
"Dokumen-dokumen kolonial, termasuk
jurnal, catatan pengadilan, dan tagihan
penjualan untuk budak, menunjukkan
adanya Muslim di Amerika Utara yang
berbahasa Inggris."
Buku yang ditulis Curtis juga jejak umat
Muslim, dari Afro-Amerika yang masuk
Islam pada tahun 1920, sampai
gelombang-1965 yang merupakan tahun
imigran dari Asia dan Afrika, juga umat
Islam pasca 9 / 11.
Ia juga mendokumentasikan kehidupan
orang Amerika asli di awal sejarah mereka.
"Di 1730s, Job Ben Salomon, seorang
budak Muslim Afrika Barat yang dibawa ke
Maryland, menjadi selebriti Muslim
pertama di dunia Atlantik yang berbahasa
Inggris."
Curtis menyatakan dalam penelitiannya
bahwa kisah-kisah budak Muslim pertama
kalinya diakui dan dipetakan oleh non-
Muslim Amerika pada abad kesembilan
belas.
"Namun pada abad ke-20, sejarah masa
lalu Muslim Amerika telah hilang. Dalam
menghadapi konflik antara kapitalisme
dan komunisme, umat Islam tampak
perifer dengan sejarah Amerika."
Sebelum Columbus
Profesor Sulayman Nyang, ketua
Departemen Studi Afrika di Universitas
Howard di Washington, juga menelusuri
sejarah Islam di Amerika, bahkan sebelum
kedatangan Christopher Columbus.
"Saya telah mengidentifikasi lima tahap
dalam evolusi Islam di Amerika Serikat,"
katanya kepada OnIslam.
"Yang pertama adalah kehadiran Muslim
Pra-Columbus di Dunia Baru."
Dalam bukunya, "Islam di Amerika
Serikat", dan juga esainya yang begitu
banyak, Nyang menyimpulkan bahwa asal-
usul dan kehadiran Islam di Amerika tidak
dimulai dengan orang-orang seperti
Malcolm X atau Muhammad Ali Clay.
"Muslim datang ke negara ini selama
zaman Mansa Musa, Raja Mali di Afrika
Barat yang mengungkapkan perjalanan
Islam ke Dunia Baru."
Tahap berikutnya dalam sejarah Islam,
menurut Nyang, adalah periode
perdagangan budak, gelombang imigran
dari Timur Tengah, Yugoslavia dan Asia
Tenggara, dan dipeluknya Islam oleh
orang-orang Amerika, apakah itu orang
kulit putih, kulit hitam, orang Amerika asli,
atau pun Latin.
Terlupakan
Para ahli menyatakan bahwa banyak orang
tidak tahu bahwa umat Islam selalu bagian
dari pembentukan Amerika.
"Kebanyakan orang Amerika tidak
menganggap Muslim sebagai bagian dari
masa lalu mereka," sesal Dr Curtis.
Dia mengatakan keunggulan Muslim
generasi pertama dalam kehidupan
masyarakat, kemudian posisi umat Islam
sebagai "musuh" setelah peristiwa 9 / 11
di Amerika.
Profesor Nyang menyarankan mulai
sekarang ada organisasi-organisasi yang
mengumpulkan sejarah Muslim Amerika,
dan didedikasikan untuk pelestarian
sejarah Amerika itu sendiri.
"Melalui pengumpulan data historis, kita
mungkin bisa memberikan bimbingan
kepada generasi muda Muslim Amerika
untuk menambah pengayaan
Amerika." (sa/onislam)
Langganan:
Postingan (Atom)