Sabtu, 21 Mei 2011

Sejarah Khalifah Ali .r.a

Ali bin Abi Thalib memiliki
nama penuh Ali bin Abi Talib
bin Abdul Mutalib bin Hasyim
bin Abdul Manaf, beliau
dilahirkan sepuluh tahun
sebelum Islam lahir, yakni
pada tahun 602 M. Ali
memiliki usia yang jauh lebih
muda dari Rasulullah, yakni
terpaut sekitar 32 tahun di
bawah Rasulullah.
Ali tercatat sebagai
Assabiqunal Awwalun
(golongan orang-orang yang pertama kali
masuk Islam) dari kalangan anak-anak.
Beliau semenjak kecil telah dididik oleh
Rasulullah sehingga tidak tercemari naluri
kejahiliahan. Bersama Zaid bin Haritsah, Ali
diasuh oleh Rasulullah sejak kecil. Mereka
adalah orang-orang yang masuk Islam
setelah Khadijah. Kelak orang yang dididik
dan diasuh Rasulullah ini akan menjadi
sosok khalifah yang menggantikan estafet
perjuangan Rasulullah. Sejarah Khalifah Ali
bin Abi Thalib memberikan pelajaran
penting bagi perwujudan nilai-nilai
persatuan ummat Islam di masa sekarang.
Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah
menggantikan Usman bin Affan sebagai
khalifah ke empat setelah masa kenabian.
Pada awalnya Ali menolak penunjukan
dirinya sebagai khalifah, namun karena
kondisi yang mendesak, Ali akhirnya
menerima amanah sebagai khalifah. Beliau
pun dibaiat di Masjid Nabawi. Sosok
Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sosok
yang paling menonjol dari segi keilmuan.
Pada saat usia kanak-kanak, beliau telah
berani menantang para pemimpin Quraisy
yang mencemooh Rasulullah. Hingga
kemudian Rasulullah berkata. “Jika aku
adalah bangunan ilmu, maka Ali adalah
pintu gerbangnya. ” Demikianlah
perumpamaan yang disampaikan
Rasulullah terhadap kemampuan Ali dalam
hal ilmu pengetahuan. Sebelum
menorehkan kisah sejarah Khalifah Ali bin
Abi Thalib telah membuktikan perjuangan
dan sikap pembelaannya pada Islam.
Diantaranya adalah pada saat beliau
menggantikan posisi Nabi yang berhijrah
ke Madinah. Ali menggantikan posisi
Rasulullah yang sedang tidur dengan
menggunakan jubah yang dipakai oleh
Rasulullah. Ini adalah hal yang sangat
berbahaya, dan tidak mungkin dilakukan
tanpa landasan cinta dan dan nilai
perjuangan seseorang kepada Islam.
Menggantikan posisi Rasulullah tersebut
sama artinya siap menanggung resiko
dibunuh oleh kaum kafir Quraisy.
Ali juga sosok yang segani di medan
pertempuran, seperti pada perang Uhud,
Badar dan Khandak. Rasulullah menikahkan
Ali dengan putrinya Fatimah Az-Zahra.
Kisah cinta Ali dan Fatimah memiliki
keunikan tersendiri. Inilah sejarah yang
membuktikan betapa Rasulullah telah
mengajarkan prilaku yang arif dalam
mempertemukan cinta antara putrinya
dengan Ali. Kisah cinta inilah yang
seharusnya menjadi landasan jalan cinta
para pejuang dakwah Islam hari ini. Ali
mendapat julukan Karamallahu Wajhah
yakni wajah yang dimuliakan.
Ali bin Abi Thalib dan Kekhalifahannya
Sejarah Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah
sejarah terakhir masa kekhalifahan ummat
Islam dalam sejarah setelah masa
kenabian. Pada saat diangkat menjadi
khalifah, mewarisi kondisi yang sedang
kacau. Ketegangang politik terjadi akibat
pembunuhan atas Khalifah Usman bin
Affan. Seluruh jabatan gubernur saat itu
hampir seluruhnya diduduki oleh keluarga
Umayyah. Para gubernur ini menuntut Ali
untuk mengadili pembunuh Usman.
Tuntutan yang sama juga dilakukan oleh
Aisyah, dan Zubair dan Thalhah. Zubair dan
Thalhah juga termasuk ke dalam dua orang
yang pertama masuk Islam, sama seperti
Ali. Kondisi ini sangat mempersulit Ali
dalam menjalankan pemerintahan, juga
untuk menyelesaikan kasus pembunuhan
Usman. Ali pun melakukan pemecatan
terhadap beberapa pejabat yang berasal
dari keluarga Usman, dan mengambil tanah
yang telah dibagikan Usman kepada
keluarga-keluarganya. Hal ini memicu
kebencian dan tuduhan dari keluarga
Usman bahwa Ali terlibat dalam kasus
pembunuhan Usman.
Dalam Sejarah Khalifah Ali bin Abi Thalib,
tercatat beberapa macam pertempuran
yang terjadi di kalangan ummat Islam,
diantaranya; perang Jamal, perang Shiffin.
Akibat perpecahan di tubuh ummat Islam
kala itu, berakhirlah masa kekhalifahan
Islam sebagai model kepemimpinan dalam
Islam. Ali sendiri terbunuh ketika hendak
pulang dari Masjid, beliau diserang
menggunakan pedang. Dua hari berikutnya
Ali terbunuh, yakni bertepatan dengan
Ramadhan 40 Hijrah.

RUNTUHNYA DAULAH ABBASIAH DAN LULUH LANTAKNYA KOTA BAGHDAD

Pernah tahu bangsa yang sangat terkenal
dengan kekejamannya? Bangsa yang telah
membasmi kaum muslimin dengan jumlah
yang fantastis? Jumlah yang sangat tinggi
(dengan peralatan perang pada masa itu)
dibanding apa yang telah dan sedang
terjadi di Irak saat ini (dengan peralatan
perang yang canggih)? Mereka adalah
bangsa Tartar. Mengapa mereka bisa
berbuat demikian? Di mana letak kesalahan
kaum muslimin dan pemimpin mereka?
Runtuhnya Baghdad (ibukota daulah
Abbasiah) di tangan bangsa Tartar tidak
terlepas dari pengkhianatan yang dilakukan
oleh al-wazir Umayyiduddien Muhammad
bin al-Alqami ar-tafidhi seorang Syiah
Rafidhah yang amat dendam terhadap ahlu
sunnah.
Dia menjabat wazir (Perdana Menteri) bagi
Khalifah al-Musta'shim billah, khalifah
terakhir bani Abbas di Iraq. Peristiwa
tersebut terjadi pada 12 Muharram 656 H.
Hulaku Khan, cucunya Jenggis Khan
mengepung Baghdad dengan seluruh bala
tentaranya yang berjumlah kurang lebih
200.000 tentara. Mereka mengepung istana
Khalifah dan menghujaninya dengan anak
panah dari segala arah, hingga
menewaskan seorang budak wanita yang
sedang bermain di hadapan Khalifah untuk
menghiburnya. Budak wanita tersebut
adalah seorang selir (gundik) bernama
Arafah.
Sebilah anak panah dating dari jendela
menembus tubuhnya pada saat is menari
di hadapan Khalifah maka cemaslah
Khalifah dan amat terkeiut. Pada anak
panah yang menewaskan selirnya itu,
mereka dapati tulisan: "Jika Allah
menghendaki melaksanakan Qadha dan
takdimya, maka dia akan melenyapkan akal
orang yang berakal"
Setelah itu Khalifah memerintahkan agar
memperketat keamanan. Perbuatan
pengkhianatan Wazir Ibnu al-Alqami yang
begitu dendam kepada ahlu sunnah itu,
disebabkan pada tahun lalu (655 H) terjadi
peperangan hebat antara ahlu sunnah
dengan rafidhah yang berakhir dengan
direbutnya kota al-Karkh yang merupakan
pusat rafidhah dan dijarahlah beberapa
rumah sanak famili al-Wazir al-Alqami.
Sebelum terjadinya peristiwa yang amat
memilukan ini, ia (Ibnul Alqami) secara
diam-diam berusaha mengurangi jumlah
tentaranya. Dengan cara memecat
sejumlah besar tentara dan mencoret nama
mereka dari dinas ketentaraan.
Sebelumnya, jumlah tentara pada masa
kekhalifahan al-Mustanshir (Khalifah
sebelum at-Musta'shim) mencapai 100.000
orang. Jumlah ini terus dikurangi oleh Ibnul
Alqami hingga menjadi 10.000 orang. pada
masa kekhalifahan at-Musta'shim billah.
Kemudian setelah itu barulah ia (Ibnul
Alqami) mengirim surat rahasia kepada
bangsa Tartar, memprovokasi mereka
untuk menyerang Baghdad. Dia terangkan
di dalam surat rahasia tersebut kelemahan
angkatan bersenjata daulah Abbasiah di
Baghdad. Oleh karena itu dengan mudah
sekali bangsa Tartar dapat menaklukkan
Baghdad.
Semua itu ia (Ibnu) Alqami) lakukan untuk
membalas dendam kesumatnya dan
ambisinya untuk melenyapkan as-sunnah
dan memunculkan bid'ah Rafidhah.
Wallahul Musta'an (Hanya Allah-lah tempat
memohon pertolongan).
Tatkala tentara Tartar mengepung benteng
Baghdad mulai 12 Muharram 656 H,
mulailah al-Wazir Ibnul Alqami
menunjukkan pengkhianatannya yang
kedua kali, yaitu dialah orang yang
pertama sekali menemui tentara Tartar. Dia
keluar dari Baghdad bersama keluarga
pembantu dan pengikutnya pada saat-saat
genting untuk menemui Hulaku Khan.
Kemudian ia kembali ke Baghdad, lalu
membujuk Khalifah agar keluar
bersamanya menemui Hulaku Khan untuk
mengadakan perdamaian dengan
memberikan setengah hasil devisa negara
kepada mereka (bangsa Tartar).
Maka berangkatlah Khalifah bersama para
Qadhi. Fuqaha' shufiyah, tokoh-tokoh
negara, masyarakat dan petinggi-tinggi
daulah dengan 700 kendaraan. Tatkala
mereka hampir mendekati markas Hulaku
Khan mereka di tahan oleh tentara Tartar,
dan tidak diizinkan menemui Hulaku Khan,
kecuali Khalifah bersama 17 orang saja.
Lalu Khalifahpun menemui Hulalu Khan
bersama 17 orang tersebut. sedangkan
yang lain menunggu bersama kendaraan
mereka. Sepeninggal Khalifah, sisa
rombongan ini dirampok dan dibunuh oleh
tentara Tartar. Selanjutnya Khalifah
dihadapkan kepada Hulaku Khan, dan
ditanya macam-macam, tatkala itu Khalifah
menjawab dengan suara bergetar
ketakutan karena diteror dan ditekan.
Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad
disertai oleh al-Wazir Ibnul al-Alqami dan
Khawajah Nashiruddin ath-Thuusi. Dan di
bawah rasa takut dan tertekan,
Khalifahpun mengeluarkan emas,
perhiasan, permata dan lain-lain dalam
jumlah yang amat banyak. Akan tetapi
sebelum itu gembong-gembong Rafidhah
sudah membisiki Hulaku Khan agar tidak
menerima tawaran perdamaian dad
Khalifah. al-Wazir Ibnul Alqami berhasil
mempengaruhi Hulaku Khan, bahwa
perdamaian untuk nanti hanya bertahan 1
sampai 2 tahun saja, dan mendorongnya
untuk membunuh Khalifah.
Tatkala Khalifah kembali dengan membawa
barang yang banyak kepada Hulaku Khan,
Hulaku Khan memerintahkan untuk
mengeksekusi Khalifah. Maka pada tanggal
14 Shafar bertepatan pada hari Rabu
terbunuhlah Khalifah al-Musta'shim billah.
Konon kabarnya yang mengisyaratkan agar
membunuh Khalifah adalah al-Wazir Ibnul
al-Qami dan al-Maula Nashiruddin ath-
Thuusi.
Dan bersamaan dengan tewasnya Khalifah,
maka tentara Tartarpun menyerbu
Baghdad tanpa perlawanan lagi. Maka
rubuhlah Baghdad di tangan bangsa Tartar.
Dilaporkan bahwa jumlah yang tewas
ketika itu lebih kurang 2 juta orang. Tidak
ada yang selamat kecuali ahlu dzimmah
(Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang
yang meminta perlindungan kepada
bangsa Tartar, atau yang berlindung di
rumah al-Wazir Ibnul Alqami dan para
konglomerat yang membagikan harta
mereka kepada Tartar dengan jaminan
keamanan pribadi.
Turut terbunuh juga bersama KhalIfah, dua
putra beliau yaitu Abul Abbas Ahmad (25
tahun) dan Abul Fadhl Abdurrahman (23
tahun) dan ustadz istana Khalifah yaitu
syeikh Muhyiddin Abdul Faraj Ibnul Jauzi
bersama tiga putra beliau yaitu Abdullah,
Abdurrahman dan Abdul Karim. Sedang
putra terkecil Khalifah yaitu Mubarak
ditawan bersama tiga saudara
perempuannya yaitu Fathimah, Khadijah
dan Maryam. Dikatakan bahwa para gadis
yang ditawan tentara Tartar dari istana
Khalifah mencapai 1000 orang. 1
Dengan runtuhnya Baghdad maka
runtuhlah Daulah bani Abbas yang
berkuasa selama 524 tahun. Mungkin
pembaca bertanya-tanya untuk apa sejarah
memilukan ini dituangkan di sini?!
Sungguh kami tidak akan memuatnya,
seandainya bukan karena hadits Rasul yang
berbunyi:
Seorang Mu'min tidak akan disengat dua
kali dan satu lubang. (HR Bukhari dan
Muslim. dari hadits Abu Hurairah)
Sungguh kita tidak ingin sejarah hitam
tersebut berulang kembali!. Kita harus
mengambil ibrah dari sejarah tersebut.
Kalau kita lihat kembali, keruntuhan
Baghdad (daulah Abbasiah) banyak
disebabkan pengkhianatan dari al-Wazir
Ibnul Alqami seorang mubtadi' (ahli
bid'ah). Merupakan kesalahan yang amat
fatal memberikan kepercayaan kepada
mereka.

Rabu, 18 Mei 2011

Awam: ISLAM DI AUSTRALIA

Awam: ISLAM DI AUSTRALIA: "Australia adalah tempat jumlah umat Islamnya terus bertambah. Menurut sensus terakhir tahun 2006, lebih dari 340.000 orang mengide..."

ISLAM DI PAPUA NUGINI

Islam di Papua Nugini adalah agama
minoritas; departemen negara AS
memperkirakan bahwa ada sekitar 2.000
penduduk Muslim di negara itu.
Sejarah
Orang-orang yang saat ini Papua Nugini
dan Papua Barat berdagang dengan Cina
dan kerajaan malay, yang terakhir yang
beragama Islam, dimulai pada abad ke-16.
Pada tahun 1988, umat Islam di Papua
Nugini mendirikan pusat Islam pertama,
dengan bantuan dari Malaysia berbasis
organisasi Islam dan Kementerian urusan
Islam Arab Saudi. Pada tahun 1996, tiga
pusat Islam didirikan, dengan bantuan dari
Liga Muslim Dunia. Sekarang ada tujuh
pusat-pusat Islam di negara ini. Masjid
pertama yang dibangun di Port Moresby,
dengan kapasitas untuk menyimpan
hingga 1.500 jamaah.
Islam masa kini di Papua Nugini
Saat ini, ada sekitar 4.000 Muslim di negeri
ini, dengan banyak memeluk kepercayaan
ini dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, pejuang
dari milisi Islam Laskar Jihad muncul di
negara tetangga Papua sepanjang
perbatasan bersama.
Di Papua Nugini, gerakan-gerakan
misionaris Islam baru mulai berkembang.
Ada kantong-kantong Muslim di sekitar
Port Moresby, di Baimuru, Daru, Marchall
Lagoon, yang Musa Valley dan di pulau New
Britain dan New Irlandia. Itu adalah di
dataran tinggi bahwa Islam mengalami
pertumbuhan yang paling pesat.

ISLAM DI RUMANIA

Islam di Rumania memiliki persentasi
sebesar 0.3 persen dari jumlah penduduk di
Rumania. Kebanyakan penganut Islam di
Rumania merupakan orang beretnis Tatar
dan Turki dan menganut Islam Sunni.
Agama Islam merupakan salah satu dari 16
agama yang diakui oleh Rumania.
Islam sudah ada di wilayah Dobrogea Utara
(sebuah wilayah di pantai Laut Hitam)
selama 700 tahun. Kehadiran Islam di
Dobrogea Utara dipengaruhi oleh imigrasi
Kesultanan Utsmaniyah, tetapi pelan-pelan
berkurang pada akhir abad ke-19.

MUSLIM TIBET

Muslim Tibet, juga dikenal sebagai Kachee
(Kache), merupakan minoritas kecil di
Tibet. Meskipun muslim, mereka
diklasifikasikan sebagai orang Tibet, tidak
seperti Muslim Hui, yang juga dikenal
sebagai Kyangsha atau Gya Kachee (Cina
Muslim). Kata Kachee Tibet secara harfiah
berarti Kashmir dan Kashmir dikenal
sebagai Kachee Yul (Yul = Negara).
Karena populasi kecil mereka, Muslim Tibet
yang tersebar di seluruh Tibet, banyak di
antaranya dapat ditemukan di Lhasa dan
Shigatse. Jika mereka tidak tinggal di
Daerah Otonomi Tibet tidak dikecualikan,
kelompok-kelompok etnis seperti Balti dan
Burig, yang juga berasal dari Tibet dan
menganggap dirinya sebagai etnis Tibet
yang juga Muslim. Kelompok-kelompok ini,
bagaimanapun, adalah kebanyakan
ditemukan di Ladakh di bawah kontrol
India dan Baltistan di bawah kontrol
Pakistan.
Keturunan
Secara umum, Muslim Tibet yang unik
dalam kenyataan bahwa mereka adalah
sebagian besar dari Kashmir dan Persia/
Arab/keturunan Turki melalui garis
keturunan patrilineal dan juga sering
keturunan Tibet asli melalui garis
keturunan matrilineal, meskipun
kebalikannya tidak biasa. Dengan demikian,
banyak dari mereka menampilkan
campuran Arya dan fitur adat Tibet.
Karena pengaruh Tibet, mereka telah
mengadopsi nama Tibet sementara tetap
mempertahankan nama keluarga Persia
atau Urdu. Namun, ini bukan yang biasa
seperti orang-orang di antara Burig dan
Balti. Dalam Baltistan atau Baltiyul sebagai
pribumi menyebutnya, Muslim anak sudah
mulai penamaan sendiri dalam bahasa
Tibet lokal seperti Ali Tsering, Sengge
Thsering, Wangchen, Namgyal, Shesrab,
Mutik, Mayoor, Gyalmo, Odzer, Lobsang,
Odchen, Rinchen, Anchan, dan sebagainya.
Di antara Khaches, meskipun mayoritas
menggunakan Tibet untuk komunikasi
sehari-hari, bahasa Urdu atau Arab yang
digunakan untuk layanan keagamaan.
Setelah melarikan diri ke India,Muslim Tibet
India diberikan kewarganegaraan oleh
Pemerintah India, yang menganggap Tibet
Muslim Kashmir, dan dengan demikian
warga negara India, tidak seperti para
pengungsi Tibet lainnya, yang membawa
Sertifikat Status Pengungsi.

ISLAM DI JEPANG

Islam di Jepang biasanya dianut oleh orang
Turki, Arab, Melayu, dan Indonesia yang
pendidikan/bekerja di Jepang. Islam dalam
bahasa Jepang adalah イスラム教 (bahasa
Jepang: isuramukyou)
Antara 1877 dan Perang Dunia II
Hubungan Islam dengan Jepang ini masih
terbilang belia jika dibandingkan hubungan
agama ini dengan negara-negara yang lain
di seluruh dunia.
Tidak terdapat sebuah hitungan yang nyata
tentang hubungan-hubungan antara
agama Islam dengan Jepang atau cerita
sejarah tentang Islam di Jepang melalui
penyebaran agama, kecuali beberapa
hubungan tersembunyi antara penduduk-
penduduk Jepang dengan orang-orang
Muslim dari negara lain sebelum tahun
1868.
Agama Islam diketahui untuk pertama kali
oleh penduduk Jepang pada tahun 1877
sebagai sebagian pemikiran agama barat
dan pada sekitar tahun itu, kehidupan Nabi
Muhammad diterjemahkan dalam Bahasa
Jepang. Ini membantu agama Islam
menempatkan diri dalam pemikiran intelek
orang Jepang, tapi hanya sebagai satu
pengetahuan dan pemikiran.
Lagi satu hubungan yang penting dibuat
pada tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah
mengirim utusan yang menumpang
sebuah kapal yang dinamakan "Ertugrul" ke
Jepang untuk tujuan menjalin hubungan
diplomatik antara kedua negara serta
untuk saling memperkenalkan orang
Muslim dan orang Jepang. Kapal itu yang
membawa 609 orang penumpang dalam
pelayaran pulang ke negara mereka
tenggelam dengan 540 penumpang tewas.
Dua orang Jepun Muslim pertama yang
diketahui ialah Mitsutaro Takaoka yang
memeluk Islam pada tahun 1909 dan
mengambil nama Omar Yamaoka setelah
menunaikan haji di Mekah, serta
Bumpachiro Ariga yang pada masa yang
lebih kurang sama telah pergi ke India
untuk berdagang dan kemudian memeluk
Islam di bawah pengaruh orang-orang
Muslim di sana serta mengambil nama
Ahmad Ariga. Bagaimanapun, kajian-kajian
ini telah membuktikan bahwa seorang
Jepang yang dikenali sebagai Torajiro
Yamada mungkin merupakan orang Jepang
Muslim yang pertama ketika ia melawat
negara Turki disebabkan turut berduka cita
dengan korban tewas dalam kecelakaan
maut Ertugrul. Beliau mengambil nama
Abdul Khalil dan mungkin pergi ke Mekah
untuk naik haji.
Bagaimana pun, kehidupan komunitas
Muslim yang benar tidak bermula sehingga
beratus-ratus pelarian Muslim Turki,
Uzbekistan, Tajikistan, Kirghizstan,
Kazakhstan dan Tatar Turki yang lain dari
Asia Tengah dan Rusia, pengaruh Revolusi
Bolshevik semasa Perang Dunia I. Orang-
orang Muslim ini yang diberikan
perlindungan di Jepang menetap di
beberapa pelabuhan utama di sekitar
Jepang dan mendirikan komunitas-
komunitas Islam. Segelintir orang Jepang
memeluk Islam melalui hubungan mereka
dengan orang-orang Muslim ini.
Dengan pembentukan komunitas-
komunitas Muslim ini, beberapa buah
masjid telah didirikan. Masjid yang paling
penting di antaranya ialah Masjid Kobe
yang didirikan pada tahun 1935, dan Masjid
Tokyo yang didirikan pada tahun 1938.
Bagaimanapun, orang Jepang Muslim tidak
mengambil bagian dalam pengelolaan
masjid-masjid ini dan tidak terdapat orang
Jepang yang menjadi imam, dengan
pengecualian Syaikh Ibrahim Sawada,
imam pada Ahlulbayt Islamic Centre di
Tokyo.

Setelah Perang Dunia II

Saat Perang Dunia II, satu "Ledakan Islam"
telah dimulai oleh kelompok tentara di
Jepang melalui pendirian pusat-pusat
penyelidikan untuk mengkaji Islam dan
Dunia Muslim. Telah dikatakan bahwa pada
waktu itu, melebihi 100 buah buku dan
jurnal mengenai Islam telah diterbitkan di
Jepang. Bagaimanapun, Pusat-pusat
penyelidikan ini sama sekali tidak diketuai
atau diurus oleh orang-orang Muslim dan
tujuannya bukan untuk penyebaran Islam.
Tujuan yang sebenarnya adalah untuk
menambah wawasan tentara dengan
pengetahuan yang diperlukan mengenai
Islam dan orang Muslim karena terdapat
komunitas-komunitas Muslim yang besar di
kawasan-kawasan yang diduduki oleh
angkatan tentara Jepang di negara RRC dan
negara-negaraAsia Tenggara. Oleh itu,
dengan berakhirnya perang pada tahun
1945, pusat-pusat penyelidikan ini
menghilang sama sekali.
Ada lagi satu "Ledakan Islam", kali ini
selepas krisis minyak 1973. Media massa
Jepang telah memberi penerbitan yang
besar tentang Dunia Muslim, dan
khususnya kepada Dunia Arab, selepas
menyadari kepentingan negara-negara ini
terhadap ekonomi Jepang. Dengan
penerbitan ini, banyak orang Jepang yang
tidak mempunyai secuil pengetahuan
tentang Islam mempunyai peluang untuk
melihat rukun Islam ke-5, Haji di Mekah
serta untuk mendengar panggilan Azan
(panggilan Islam untuk salat) dan
pembacaan Al-Quran. Selain daripada
banyak orang Jepang yang memeluk Islam
secara terang-terangan ketika itu, terdapat
juga banyak upacara Islamisasi ramai-
ramai yang terdiri daripada berpuluh-puluh
ribu orang. Bagaimanapun, selepas krisis
minyak selesai, kebanyakan pemeluk Islam
meninggalkan agama itu.
Orang-orang Turki merupakan komunitas
Muslim yang terbesar di Jepang sehingga
akhir-akhir ini. Pilot-pilot Jepang yang
pergi ke negara-negara Asia Tenggara
seperti Malaysia sebagai tentara semasa
Perang Dunia II diajarkan/diajak
mengungkapkan "La ilaha illa Allah" ketika
pesawat-pesawat mereka ditembak jatuh
di kawasan-kawasan ini supaya mereka
tidak dibunuh. Sebuah pesawat Jepang
telah dikatakan ditembak jatuh dan
pilotnya diamankan oleh penduduk
setempat. Apabila pilot itu mengucap kata-
kata "ajaib" itu, ia terasa terharu ketika
penduduk-penduduk itu berubah sikap
terhadapnya, dan memperlakukannya
dengan baik.
Persatuan Muslim Jepang
Serangan Jepang terhadap China dan
negara-negara Asia Tenggara semasa
Perang Dunia II menghasilkan hubungan-
hubungan antara orang-orang Jepang
dengan orang-orang Muslim. Mereka yang
memeluk agama Islam melalui hubungan-
hubungan itu kemudian mengasaskan
Persatuan Jepang Muslim di bawah
pimpinan Allahyarham Sadiq Imaizumi
pada tahun 1953. Persatuan tersebut ialah
organisasi Jepang Muslim yang pertama.
Ketua kedua persatuan ini ialah
Allahyarham Umar Mita. Mita merupakan
orang Islam yang tipikal bagi generasi
tuanya yang mempelajari Islam di wilayah-
wilayah yang diduduki oleh Kekaisaran
Jepang. Melalui hubungan-hubungannya
dengan orang-orang Cina Muslim, beliau
memeluk Islam di Beijing. Saat Mita
kembali ke Jepang selepas perang, beliau
menunaikan haji, dan merupakan orang
Jepang pertama sesudah peperangan untuk
berbuat demikian. Mita juga membuat
terjemah Al-Quran bahasa Jepang untuk
pertama kali. Oleh itu, hanya selepas
Perang Dunia II baru terdapat sebuah
komunitas di Jepang.
Orang Jepang Muslim
Tidak terdapat sensus yang bisa dilihat
tentang bilangan orang Jepang Muslim di
Jepang. Sebagian orang menyatakan
bahwa bilangannya hanya dalam beberapa
ratus. Ketika ditanya, Abu Bakr Morimoto
manjawab, "Berbicara jujur, hanya seribu.
Dalam pengertiannya yang paling umum,
jika kita memasukkan mereka yang
memeluk Islam tetapi tidak mengamalkan
agama ini, umpamanya hanya untuk
perkawinan, bilangannya mungkin dalam
beberapa ribu.".
Tetapi terdapat juga kelemahan dari segi
orang-orang Islam Jepang sendiri juga.
Terdapat perbedaan orientasi antara
generasi yang tua dengan generasi yang
baru. Bagi generasi yang tua, Islam
disamakan dengan orang Islam Malaysia,
Indonesia, China, dan sebagainya. Tetapi
bagi generasi baru, negara-negara Asia
Tenggara tidak begitu menarik hati
disebabkan orientasi barat mereka dan
oleh itu, mereka lebih dipengaruhi oleh
Islam di negara-negara Arab.
Ketika melawat negara-negara Muslim,
kata-kata bahwa orang-orang Muslim
Jepang adalah kumpulan agama minoritas
sering menimbulkan masalah daripada
para hadirin, "Berapakah jumlah orang
Muslim di Jepang?" Jawaban ketika ini:
"Satu daripada seratus ribu."
Dakwah di Jepang
Statistik menunjukkan bahwa di sekitar
80% daripada jumlah penduduk Jepang
adalah penganut Buddha atau Shinto,
sedangkan hanya 0,095% atau hanya
berjumlah 121.062 orang. Bilangan
pendakwah yang berpotensi dalam
komunitas Muslim di Jepang adalah amat
kecil, dan terdiri daripada para pelajar dan
berbagai jenis pekerjaan yang bertumpu di
kota besar seperti Hiroshima, Kyoto,
Nagoya, Osaka dan Tokyo.
Terdapat keperluan yang lanjut untuk
orang-orang Muslim bertahan daripada
tekanan-tekanan dan godaan-godaan gaya
hidup modern yang lebih gairah. Orang-
orang Muslim juga menghadapi kesusahan
terhadap komunikasi, perumahan,
pendidikan anak, makanan halal, serta
kesusasteraan Islam, dan semua ini
menghalang kegiatan-kegiatan dakwah di
Jepang.
Tanggapan salah terhadap ajaran Islam
yang diperkenalkan oleh media-media
barat perlu dibetulkan dengan cara yang
lebih cekap dan yang mengambil kira ciri
penting masyarakat Jepang sebagai salah
satu negara yang paling tidak buta huruf di
dunia. Bagaimanapun, disebabkan
persebaran orang Muslim yang amat
sedikit, terjemah Alquran dalam bahasa
Jepang juga tidak mudah didapati. Hampir
tidak adanya kesusasteraan Islam di dalam
toko-toko buku atau perpustakaan-
perpustakaan umum, kecuali beberapa esai
dan buku dalam bahasa Inggris yang dijual
pada harga yang agak mahal.
Oleh itu, tidaklah mengejutkan untuk
mendapati bahwa pengetahuan orang
Jepang yang biasa tentang agama Islam
hanya dihadapkan kepada beberapa istilah
yang berkaitan dengan poligami, Sunni dan
Syiah, Ramadhan, Haji, Nabi Muhammad,
dan Allah. Dengan kesan-kesan yang
semakin terang tentang kesadaran
kewajiban komunitas-komunitas Islam
serta penilaian yang rasional, Umat Muslim
telah menunjukkan tanggungan yang lebih
kuat terhadap pelaksanaan kegiatan-
kegiatan dakwah dengan cara yang lebih
teratur.