Sabtu, 21 Mei 2011

Sejarah Khalifah Ali .r.a

Ali bin Abi Thalib memiliki
nama penuh Ali bin Abi Talib
bin Abdul Mutalib bin Hasyim
bin Abdul Manaf, beliau
dilahirkan sepuluh tahun
sebelum Islam lahir, yakni
pada tahun 602 M. Ali
memiliki usia yang jauh lebih
muda dari Rasulullah, yakni
terpaut sekitar 32 tahun di
bawah Rasulullah.
Ali tercatat sebagai
Assabiqunal Awwalun
(golongan orang-orang yang pertama kali
masuk Islam) dari kalangan anak-anak.
Beliau semenjak kecil telah dididik oleh
Rasulullah sehingga tidak tercemari naluri
kejahiliahan. Bersama Zaid bin Haritsah, Ali
diasuh oleh Rasulullah sejak kecil. Mereka
adalah orang-orang yang masuk Islam
setelah Khadijah. Kelak orang yang dididik
dan diasuh Rasulullah ini akan menjadi
sosok khalifah yang menggantikan estafet
perjuangan Rasulullah. Sejarah Khalifah Ali
bin Abi Thalib memberikan pelajaran
penting bagi perwujudan nilai-nilai
persatuan ummat Islam di masa sekarang.
Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah
menggantikan Usman bin Affan sebagai
khalifah ke empat setelah masa kenabian.
Pada awalnya Ali menolak penunjukan
dirinya sebagai khalifah, namun karena
kondisi yang mendesak, Ali akhirnya
menerima amanah sebagai khalifah. Beliau
pun dibaiat di Masjid Nabawi. Sosok
Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sosok
yang paling menonjol dari segi keilmuan.
Pada saat usia kanak-kanak, beliau telah
berani menantang para pemimpin Quraisy
yang mencemooh Rasulullah. Hingga
kemudian Rasulullah berkata. “Jika aku
adalah bangunan ilmu, maka Ali adalah
pintu gerbangnya. ” Demikianlah
perumpamaan yang disampaikan
Rasulullah terhadap kemampuan Ali dalam
hal ilmu pengetahuan. Sebelum
menorehkan kisah sejarah Khalifah Ali bin
Abi Thalib telah membuktikan perjuangan
dan sikap pembelaannya pada Islam.
Diantaranya adalah pada saat beliau
menggantikan posisi Nabi yang berhijrah
ke Madinah. Ali menggantikan posisi
Rasulullah yang sedang tidur dengan
menggunakan jubah yang dipakai oleh
Rasulullah. Ini adalah hal yang sangat
berbahaya, dan tidak mungkin dilakukan
tanpa landasan cinta dan dan nilai
perjuangan seseorang kepada Islam.
Menggantikan posisi Rasulullah tersebut
sama artinya siap menanggung resiko
dibunuh oleh kaum kafir Quraisy.
Ali juga sosok yang segani di medan
pertempuran, seperti pada perang Uhud,
Badar dan Khandak. Rasulullah menikahkan
Ali dengan putrinya Fatimah Az-Zahra.
Kisah cinta Ali dan Fatimah memiliki
keunikan tersendiri. Inilah sejarah yang
membuktikan betapa Rasulullah telah
mengajarkan prilaku yang arif dalam
mempertemukan cinta antara putrinya
dengan Ali. Kisah cinta inilah yang
seharusnya menjadi landasan jalan cinta
para pejuang dakwah Islam hari ini. Ali
mendapat julukan Karamallahu Wajhah
yakni wajah yang dimuliakan.
Ali bin Abi Thalib dan Kekhalifahannya
Sejarah Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah
sejarah terakhir masa kekhalifahan ummat
Islam dalam sejarah setelah masa
kenabian. Pada saat diangkat menjadi
khalifah, mewarisi kondisi yang sedang
kacau. Ketegangang politik terjadi akibat
pembunuhan atas Khalifah Usman bin
Affan. Seluruh jabatan gubernur saat itu
hampir seluruhnya diduduki oleh keluarga
Umayyah. Para gubernur ini menuntut Ali
untuk mengadili pembunuh Usman.
Tuntutan yang sama juga dilakukan oleh
Aisyah, dan Zubair dan Thalhah. Zubair dan
Thalhah juga termasuk ke dalam dua orang
yang pertama masuk Islam, sama seperti
Ali. Kondisi ini sangat mempersulit Ali
dalam menjalankan pemerintahan, juga
untuk menyelesaikan kasus pembunuhan
Usman. Ali pun melakukan pemecatan
terhadap beberapa pejabat yang berasal
dari keluarga Usman, dan mengambil tanah
yang telah dibagikan Usman kepada
keluarga-keluarganya. Hal ini memicu
kebencian dan tuduhan dari keluarga
Usman bahwa Ali terlibat dalam kasus
pembunuhan Usman.
Dalam Sejarah Khalifah Ali bin Abi Thalib,
tercatat beberapa macam pertempuran
yang terjadi di kalangan ummat Islam,
diantaranya; perang Jamal, perang Shiffin.
Akibat perpecahan di tubuh ummat Islam
kala itu, berakhirlah masa kekhalifahan
Islam sebagai model kepemimpinan dalam
Islam. Ali sendiri terbunuh ketika hendak
pulang dari Masjid, beliau diserang
menggunakan pedang. Dua hari berikutnya
Ali terbunuh, yakni bertepatan dengan
Ramadhan 40 Hijrah.

RUNTUHNYA DAULAH ABBASIAH DAN LULUH LANTAKNYA KOTA BAGHDAD

Pernah tahu bangsa yang sangat terkenal
dengan kekejamannya? Bangsa yang telah
membasmi kaum muslimin dengan jumlah
yang fantastis? Jumlah yang sangat tinggi
(dengan peralatan perang pada masa itu)
dibanding apa yang telah dan sedang
terjadi di Irak saat ini (dengan peralatan
perang yang canggih)? Mereka adalah
bangsa Tartar. Mengapa mereka bisa
berbuat demikian? Di mana letak kesalahan
kaum muslimin dan pemimpin mereka?
Runtuhnya Baghdad (ibukota daulah
Abbasiah) di tangan bangsa Tartar tidak
terlepas dari pengkhianatan yang dilakukan
oleh al-wazir Umayyiduddien Muhammad
bin al-Alqami ar-tafidhi seorang Syiah
Rafidhah yang amat dendam terhadap ahlu
sunnah.
Dia menjabat wazir (Perdana Menteri) bagi
Khalifah al-Musta'shim billah, khalifah
terakhir bani Abbas di Iraq. Peristiwa
tersebut terjadi pada 12 Muharram 656 H.
Hulaku Khan, cucunya Jenggis Khan
mengepung Baghdad dengan seluruh bala
tentaranya yang berjumlah kurang lebih
200.000 tentara. Mereka mengepung istana
Khalifah dan menghujaninya dengan anak
panah dari segala arah, hingga
menewaskan seorang budak wanita yang
sedang bermain di hadapan Khalifah untuk
menghiburnya. Budak wanita tersebut
adalah seorang selir (gundik) bernama
Arafah.
Sebilah anak panah dating dari jendela
menembus tubuhnya pada saat is menari
di hadapan Khalifah maka cemaslah
Khalifah dan amat terkeiut. Pada anak
panah yang menewaskan selirnya itu,
mereka dapati tulisan: "Jika Allah
menghendaki melaksanakan Qadha dan
takdimya, maka dia akan melenyapkan akal
orang yang berakal"
Setelah itu Khalifah memerintahkan agar
memperketat keamanan. Perbuatan
pengkhianatan Wazir Ibnu al-Alqami yang
begitu dendam kepada ahlu sunnah itu,
disebabkan pada tahun lalu (655 H) terjadi
peperangan hebat antara ahlu sunnah
dengan rafidhah yang berakhir dengan
direbutnya kota al-Karkh yang merupakan
pusat rafidhah dan dijarahlah beberapa
rumah sanak famili al-Wazir al-Alqami.
Sebelum terjadinya peristiwa yang amat
memilukan ini, ia (Ibnul Alqami) secara
diam-diam berusaha mengurangi jumlah
tentaranya. Dengan cara memecat
sejumlah besar tentara dan mencoret nama
mereka dari dinas ketentaraan.
Sebelumnya, jumlah tentara pada masa
kekhalifahan al-Mustanshir (Khalifah
sebelum at-Musta'shim) mencapai 100.000
orang. Jumlah ini terus dikurangi oleh Ibnul
Alqami hingga menjadi 10.000 orang. pada
masa kekhalifahan at-Musta'shim billah.
Kemudian setelah itu barulah ia (Ibnul
Alqami) mengirim surat rahasia kepada
bangsa Tartar, memprovokasi mereka
untuk menyerang Baghdad. Dia terangkan
di dalam surat rahasia tersebut kelemahan
angkatan bersenjata daulah Abbasiah di
Baghdad. Oleh karena itu dengan mudah
sekali bangsa Tartar dapat menaklukkan
Baghdad.
Semua itu ia (Ibnu) Alqami) lakukan untuk
membalas dendam kesumatnya dan
ambisinya untuk melenyapkan as-sunnah
dan memunculkan bid'ah Rafidhah.
Wallahul Musta'an (Hanya Allah-lah tempat
memohon pertolongan).
Tatkala tentara Tartar mengepung benteng
Baghdad mulai 12 Muharram 656 H,
mulailah al-Wazir Ibnul Alqami
menunjukkan pengkhianatannya yang
kedua kali, yaitu dialah orang yang
pertama sekali menemui tentara Tartar. Dia
keluar dari Baghdad bersama keluarga
pembantu dan pengikutnya pada saat-saat
genting untuk menemui Hulaku Khan.
Kemudian ia kembali ke Baghdad, lalu
membujuk Khalifah agar keluar
bersamanya menemui Hulaku Khan untuk
mengadakan perdamaian dengan
memberikan setengah hasil devisa negara
kepada mereka (bangsa Tartar).
Maka berangkatlah Khalifah bersama para
Qadhi. Fuqaha' shufiyah, tokoh-tokoh
negara, masyarakat dan petinggi-tinggi
daulah dengan 700 kendaraan. Tatkala
mereka hampir mendekati markas Hulaku
Khan mereka di tahan oleh tentara Tartar,
dan tidak diizinkan menemui Hulaku Khan,
kecuali Khalifah bersama 17 orang saja.
Lalu Khalifahpun menemui Hulalu Khan
bersama 17 orang tersebut. sedangkan
yang lain menunggu bersama kendaraan
mereka. Sepeninggal Khalifah, sisa
rombongan ini dirampok dan dibunuh oleh
tentara Tartar. Selanjutnya Khalifah
dihadapkan kepada Hulaku Khan, dan
ditanya macam-macam, tatkala itu Khalifah
menjawab dengan suara bergetar
ketakutan karena diteror dan ditekan.
Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad
disertai oleh al-Wazir Ibnul al-Alqami dan
Khawajah Nashiruddin ath-Thuusi. Dan di
bawah rasa takut dan tertekan,
Khalifahpun mengeluarkan emas,
perhiasan, permata dan lain-lain dalam
jumlah yang amat banyak. Akan tetapi
sebelum itu gembong-gembong Rafidhah
sudah membisiki Hulaku Khan agar tidak
menerima tawaran perdamaian dad
Khalifah. al-Wazir Ibnul Alqami berhasil
mempengaruhi Hulaku Khan, bahwa
perdamaian untuk nanti hanya bertahan 1
sampai 2 tahun saja, dan mendorongnya
untuk membunuh Khalifah.
Tatkala Khalifah kembali dengan membawa
barang yang banyak kepada Hulaku Khan,
Hulaku Khan memerintahkan untuk
mengeksekusi Khalifah. Maka pada tanggal
14 Shafar bertepatan pada hari Rabu
terbunuhlah Khalifah al-Musta'shim billah.
Konon kabarnya yang mengisyaratkan agar
membunuh Khalifah adalah al-Wazir Ibnul
al-Qami dan al-Maula Nashiruddin ath-
Thuusi.
Dan bersamaan dengan tewasnya Khalifah,
maka tentara Tartarpun menyerbu
Baghdad tanpa perlawanan lagi. Maka
rubuhlah Baghdad di tangan bangsa Tartar.
Dilaporkan bahwa jumlah yang tewas
ketika itu lebih kurang 2 juta orang. Tidak
ada yang selamat kecuali ahlu dzimmah
(Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang
yang meminta perlindungan kepada
bangsa Tartar, atau yang berlindung di
rumah al-Wazir Ibnul Alqami dan para
konglomerat yang membagikan harta
mereka kepada Tartar dengan jaminan
keamanan pribadi.
Turut terbunuh juga bersama KhalIfah, dua
putra beliau yaitu Abul Abbas Ahmad (25
tahun) dan Abul Fadhl Abdurrahman (23
tahun) dan ustadz istana Khalifah yaitu
syeikh Muhyiddin Abdul Faraj Ibnul Jauzi
bersama tiga putra beliau yaitu Abdullah,
Abdurrahman dan Abdul Karim. Sedang
putra terkecil Khalifah yaitu Mubarak
ditawan bersama tiga saudara
perempuannya yaitu Fathimah, Khadijah
dan Maryam. Dikatakan bahwa para gadis
yang ditawan tentara Tartar dari istana
Khalifah mencapai 1000 orang. 1
Dengan runtuhnya Baghdad maka
runtuhlah Daulah bani Abbas yang
berkuasa selama 524 tahun. Mungkin
pembaca bertanya-tanya untuk apa sejarah
memilukan ini dituangkan di sini?!
Sungguh kami tidak akan memuatnya,
seandainya bukan karena hadits Rasul yang
berbunyi:
Seorang Mu'min tidak akan disengat dua
kali dan satu lubang. (HR Bukhari dan
Muslim. dari hadits Abu Hurairah)
Sungguh kita tidak ingin sejarah hitam
tersebut berulang kembali!. Kita harus
mengambil ibrah dari sejarah tersebut.
Kalau kita lihat kembali, keruntuhan
Baghdad (daulah Abbasiah) banyak
disebabkan pengkhianatan dari al-Wazir
Ibnul Alqami seorang mubtadi' (ahli
bid'ah). Merupakan kesalahan yang amat
fatal memberikan kepercayaan kepada
mereka.

Rabu, 18 Mei 2011

Awam: ISLAM DI AUSTRALIA

Awam: ISLAM DI AUSTRALIA: "Australia adalah tempat jumlah umat Islamnya terus bertambah. Menurut sensus terakhir tahun 2006, lebih dari 340.000 orang mengide..."

ISLAM DI PAPUA NUGINI

Islam di Papua Nugini adalah agama
minoritas; departemen negara AS
memperkirakan bahwa ada sekitar 2.000
penduduk Muslim di negara itu.
Sejarah
Orang-orang yang saat ini Papua Nugini
dan Papua Barat berdagang dengan Cina
dan kerajaan malay, yang terakhir yang
beragama Islam, dimulai pada abad ke-16.
Pada tahun 1988, umat Islam di Papua
Nugini mendirikan pusat Islam pertama,
dengan bantuan dari Malaysia berbasis
organisasi Islam dan Kementerian urusan
Islam Arab Saudi. Pada tahun 1996, tiga
pusat Islam didirikan, dengan bantuan dari
Liga Muslim Dunia. Sekarang ada tujuh
pusat-pusat Islam di negara ini. Masjid
pertama yang dibangun di Port Moresby,
dengan kapasitas untuk menyimpan
hingga 1.500 jamaah.
Islam masa kini di Papua Nugini
Saat ini, ada sekitar 4.000 Muslim di negeri
ini, dengan banyak memeluk kepercayaan
ini dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, pejuang
dari milisi Islam Laskar Jihad muncul di
negara tetangga Papua sepanjang
perbatasan bersama.
Di Papua Nugini, gerakan-gerakan
misionaris Islam baru mulai berkembang.
Ada kantong-kantong Muslim di sekitar
Port Moresby, di Baimuru, Daru, Marchall
Lagoon, yang Musa Valley dan di pulau New
Britain dan New Irlandia. Itu adalah di
dataran tinggi bahwa Islam mengalami
pertumbuhan yang paling pesat.

ISLAM DI RUMANIA

Islam di Rumania memiliki persentasi
sebesar 0.3 persen dari jumlah penduduk di
Rumania. Kebanyakan penganut Islam di
Rumania merupakan orang beretnis Tatar
dan Turki dan menganut Islam Sunni.
Agama Islam merupakan salah satu dari 16
agama yang diakui oleh Rumania.
Islam sudah ada di wilayah Dobrogea Utara
(sebuah wilayah di pantai Laut Hitam)
selama 700 tahun. Kehadiran Islam di
Dobrogea Utara dipengaruhi oleh imigrasi
Kesultanan Utsmaniyah, tetapi pelan-pelan
berkurang pada akhir abad ke-19.

MUSLIM TIBET

Muslim Tibet, juga dikenal sebagai Kachee
(Kache), merupakan minoritas kecil di
Tibet. Meskipun muslim, mereka
diklasifikasikan sebagai orang Tibet, tidak
seperti Muslim Hui, yang juga dikenal
sebagai Kyangsha atau Gya Kachee (Cina
Muslim). Kata Kachee Tibet secara harfiah
berarti Kashmir dan Kashmir dikenal
sebagai Kachee Yul (Yul = Negara).
Karena populasi kecil mereka, Muslim Tibet
yang tersebar di seluruh Tibet, banyak di
antaranya dapat ditemukan di Lhasa dan
Shigatse. Jika mereka tidak tinggal di
Daerah Otonomi Tibet tidak dikecualikan,
kelompok-kelompok etnis seperti Balti dan
Burig, yang juga berasal dari Tibet dan
menganggap dirinya sebagai etnis Tibet
yang juga Muslim. Kelompok-kelompok ini,
bagaimanapun, adalah kebanyakan
ditemukan di Ladakh di bawah kontrol
India dan Baltistan di bawah kontrol
Pakistan.
Keturunan
Secara umum, Muslim Tibet yang unik
dalam kenyataan bahwa mereka adalah
sebagian besar dari Kashmir dan Persia/
Arab/keturunan Turki melalui garis
keturunan patrilineal dan juga sering
keturunan Tibet asli melalui garis
keturunan matrilineal, meskipun
kebalikannya tidak biasa. Dengan demikian,
banyak dari mereka menampilkan
campuran Arya dan fitur adat Tibet.
Karena pengaruh Tibet, mereka telah
mengadopsi nama Tibet sementara tetap
mempertahankan nama keluarga Persia
atau Urdu. Namun, ini bukan yang biasa
seperti orang-orang di antara Burig dan
Balti. Dalam Baltistan atau Baltiyul sebagai
pribumi menyebutnya, Muslim anak sudah
mulai penamaan sendiri dalam bahasa
Tibet lokal seperti Ali Tsering, Sengge
Thsering, Wangchen, Namgyal, Shesrab,
Mutik, Mayoor, Gyalmo, Odzer, Lobsang,
Odchen, Rinchen, Anchan, dan sebagainya.
Di antara Khaches, meskipun mayoritas
menggunakan Tibet untuk komunikasi
sehari-hari, bahasa Urdu atau Arab yang
digunakan untuk layanan keagamaan.
Setelah melarikan diri ke India,Muslim Tibet
India diberikan kewarganegaraan oleh
Pemerintah India, yang menganggap Tibet
Muslim Kashmir, dan dengan demikian
warga negara India, tidak seperti para
pengungsi Tibet lainnya, yang membawa
Sertifikat Status Pengungsi.

ISLAM DI JEPANG

Islam di Jepang biasanya dianut oleh orang
Turki, Arab, Melayu, dan Indonesia yang
pendidikan/bekerja di Jepang. Islam dalam
bahasa Jepang adalah イスラム教 (bahasa
Jepang: isuramukyou)
Antara 1877 dan Perang Dunia II
Hubungan Islam dengan Jepang ini masih
terbilang belia jika dibandingkan hubungan
agama ini dengan negara-negara yang lain
di seluruh dunia.
Tidak terdapat sebuah hitungan yang nyata
tentang hubungan-hubungan antara
agama Islam dengan Jepang atau cerita
sejarah tentang Islam di Jepang melalui
penyebaran agama, kecuali beberapa
hubungan tersembunyi antara penduduk-
penduduk Jepang dengan orang-orang
Muslim dari negara lain sebelum tahun
1868.
Agama Islam diketahui untuk pertama kali
oleh penduduk Jepang pada tahun 1877
sebagai sebagian pemikiran agama barat
dan pada sekitar tahun itu, kehidupan Nabi
Muhammad diterjemahkan dalam Bahasa
Jepang. Ini membantu agama Islam
menempatkan diri dalam pemikiran intelek
orang Jepang, tapi hanya sebagai satu
pengetahuan dan pemikiran.
Lagi satu hubungan yang penting dibuat
pada tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah
mengirim utusan yang menumpang
sebuah kapal yang dinamakan "Ertugrul" ke
Jepang untuk tujuan menjalin hubungan
diplomatik antara kedua negara serta
untuk saling memperkenalkan orang
Muslim dan orang Jepang. Kapal itu yang
membawa 609 orang penumpang dalam
pelayaran pulang ke negara mereka
tenggelam dengan 540 penumpang tewas.
Dua orang Jepun Muslim pertama yang
diketahui ialah Mitsutaro Takaoka yang
memeluk Islam pada tahun 1909 dan
mengambil nama Omar Yamaoka setelah
menunaikan haji di Mekah, serta
Bumpachiro Ariga yang pada masa yang
lebih kurang sama telah pergi ke India
untuk berdagang dan kemudian memeluk
Islam di bawah pengaruh orang-orang
Muslim di sana serta mengambil nama
Ahmad Ariga. Bagaimanapun, kajian-kajian
ini telah membuktikan bahwa seorang
Jepang yang dikenali sebagai Torajiro
Yamada mungkin merupakan orang Jepang
Muslim yang pertama ketika ia melawat
negara Turki disebabkan turut berduka cita
dengan korban tewas dalam kecelakaan
maut Ertugrul. Beliau mengambil nama
Abdul Khalil dan mungkin pergi ke Mekah
untuk naik haji.
Bagaimana pun, kehidupan komunitas
Muslim yang benar tidak bermula sehingga
beratus-ratus pelarian Muslim Turki,
Uzbekistan, Tajikistan, Kirghizstan,
Kazakhstan dan Tatar Turki yang lain dari
Asia Tengah dan Rusia, pengaruh Revolusi
Bolshevik semasa Perang Dunia I. Orang-
orang Muslim ini yang diberikan
perlindungan di Jepang menetap di
beberapa pelabuhan utama di sekitar
Jepang dan mendirikan komunitas-
komunitas Islam. Segelintir orang Jepang
memeluk Islam melalui hubungan mereka
dengan orang-orang Muslim ini.
Dengan pembentukan komunitas-
komunitas Muslim ini, beberapa buah
masjid telah didirikan. Masjid yang paling
penting di antaranya ialah Masjid Kobe
yang didirikan pada tahun 1935, dan Masjid
Tokyo yang didirikan pada tahun 1938.
Bagaimanapun, orang Jepang Muslim tidak
mengambil bagian dalam pengelolaan
masjid-masjid ini dan tidak terdapat orang
Jepang yang menjadi imam, dengan
pengecualian Syaikh Ibrahim Sawada,
imam pada Ahlulbayt Islamic Centre di
Tokyo.

Setelah Perang Dunia II

Saat Perang Dunia II, satu "Ledakan Islam"
telah dimulai oleh kelompok tentara di
Jepang melalui pendirian pusat-pusat
penyelidikan untuk mengkaji Islam dan
Dunia Muslim. Telah dikatakan bahwa pada
waktu itu, melebihi 100 buah buku dan
jurnal mengenai Islam telah diterbitkan di
Jepang. Bagaimanapun, Pusat-pusat
penyelidikan ini sama sekali tidak diketuai
atau diurus oleh orang-orang Muslim dan
tujuannya bukan untuk penyebaran Islam.
Tujuan yang sebenarnya adalah untuk
menambah wawasan tentara dengan
pengetahuan yang diperlukan mengenai
Islam dan orang Muslim karena terdapat
komunitas-komunitas Muslim yang besar di
kawasan-kawasan yang diduduki oleh
angkatan tentara Jepang di negara RRC dan
negara-negaraAsia Tenggara. Oleh itu,
dengan berakhirnya perang pada tahun
1945, pusat-pusat penyelidikan ini
menghilang sama sekali.
Ada lagi satu "Ledakan Islam", kali ini
selepas krisis minyak 1973. Media massa
Jepang telah memberi penerbitan yang
besar tentang Dunia Muslim, dan
khususnya kepada Dunia Arab, selepas
menyadari kepentingan negara-negara ini
terhadap ekonomi Jepang. Dengan
penerbitan ini, banyak orang Jepang yang
tidak mempunyai secuil pengetahuan
tentang Islam mempunyai peluang untuk
melihat rukun Islam ke-5, Haji di Mekah
serta untuk mendengar panggilan Azan
(panggilan Islam untuk salat) dan
pembacaan Al-Quran. Selain daripada
banyak orang Jepang yang memeluk Islam
secara terang-terangan ketika itu, terdapat
juga banyak upacara Islamisasi ramai-
ramai yang terdiri daripada berpuluh-puluh
ribu orang. Bagaimanapun, selepas krisis
minyak selesai, kebanyakan pemeluk Islam
meninggalkan agama itu.
Orang-orang Turki merupakan komunitas
Muslim yang terbesar di Jepang sehingga
akhir-akhir ini. Pilot-pilot Jepang yang
pergi ke negara-negara Asia Tenggara
seperti Malaysia sebagai tentara semasa
Perang Dunia II diajarkan/diajak
mengungkapkan "La ilaha illa Allah" ketika
pesawat-pesawat mereka ditembak jatuh
di kawasan-kawasan ini supaya mereka
tidak dibunuh. Sebuah pesawat Jepang
telah dikatakan ditembak jatuh dan
pilotnya diamankan oleh penduduk
setempat. Apabila pilot itu mengucap kata-
kata "ajaib" itu, ia terasa terharu ketika
penduduk-penduduk itu berubah sikap
terhadapnya, dan memperlakukannya
dengan baik.
Persatuan Muslim Jepang
Serangan Jepang terhadap China dan
negara-negara Asia Tenggara semasa
Perang Dunia II menghasilkan hubungan-
hubungan antara orang-orang Jepang
dengan orang-orang Muslim. Mereka yang
memeluk agama Islam melalui hubungan-
hubungan itu kemudian mengasaskan
Persatuan Jepang Muslim di bawah
pimpinan Allahyarham Sadiq Imaizumi
pada tahun 1953. Persatuan tersebut ialah
organisasi Jepang Muslim yang pertama.
Ketua kedua persatuan ini ialah
Allahyarham Umar Mita. Mita merupakan
orang Islam yang tipikal bagi generasi
tuanya yang mempelajari Islam di wilayah-
wilayah yang diduduki oleh Kekaisaran
Jepang. Melalui hubungan-hubungannya
dengan orang-orang Cina Muslim, beliau
memeluk Islam di Beijing. Saat Mita
kembali ke Jepang selepas perang, beliau
menunaikan haji, dan merupakan orang
Jepang pertama sesudah peperangan untuk
berbuat demikian. Mita juga membuat
terjemah Al-Quran bahasa Jepang untuk
pertama kali. Oleh itu, hanya selepas
Perang Dunia II baru terdapat sebuah
komunitas di Jepang.
Orang Jepang Muslim
Tidak terdapat sensus yang bisa dilihat
tentang bilangan orang Jepang Muslim di
Jepang. Sebagian orang menyatakan
bahwa bilangannya hanya dalam beberapa
ratus. Ketika ditanya, Abu Bakr Morimoto
manjawab, "Berbicara jujur, hanya seribu.
Dalam pengertiannya yang paling umum,
jika kita memasukkan mereka yang
memeluk Islam tetapi tidak mengamalkan
agama ini, umpamanya hanya untuk
perkawinan, bilangannya mungkin dalam
beberapa ribu.".
Tetapi terdapat juga kelemahan dari segi
orang-orang Islam Jepang sendiri juga.
Terdapat perbedaan orientasi antara
generasi yang tua dengan generasi yang
baru. Bagi generasi yang tua, Islam
disamakan dengan orang Islam Malaysia,
Indonesia, China, dan sebagainya. Tetapi
bagi generasi baru, negara-negara Asia
Tenggara tidak begitu menarik hati
disebabkan orientasi barat mereka dan
oleh itu, mereka lebih dipengaruhi oleh
Islam di negara-negara Arab.
Ketika melawat negara-negara Muslim,
kata-kata bahwa orang-orang Muslim
Jepang adalah kumpulan agama minoritas
sering menimbulkan masalah daripada
para hadirin, "Berapakah jumlah orang
Muslim di Jepang?" Jawaban ketika ini:
"Satu daripada seratus ribu."
Dakwah di Jepang
Statistik menunjukkan bahwa di sekitar
80% daripada jumlah penduduk Jepang
adalah penganut Buddha atau Shinto,
sedangkan hanya 0,095% atau hanya
berjumlah 121.062 orang. Bilangan
pendakwah yang berpotensi dalam
komunitas Muslim di Jepang adalah amat
kecil, dan terdiri daripada para pelajar dan
berbagai jenis pekerjaan yang bertumpu di
kota besar seperti Hiroshima, Kyoto,
Nagoya, Osaka dan Tokyo.
Terdapat keperluan yang lanjut untuk
orang-orang Muslim bertahan daripada
tekanan-tekanan dan godaan-godaan gaya
hidup modern yang lebih gairah. Orang-
orang Muslim juga menghadapi kesusahan
terhadap komunikasi, perumahan,
pendidikan anak, makanan halal, serta
kesusasteraan Islam, dan semua ini
menghalang kegiatan-kegiatan dakwah di
Jepang.
Tanggapan salah terhadap ajaran Islam
yang diperkenalkan oleh media-media
barat perlu dibetulkan dengan cara yang
lebih cekap dan yang mengambil kira ciri
penting masyarakat Jepang sebagai salah
satu negara yang paling tidak buta huruf di
dunia. Bagaimanapun, disebabkan
persebaran orang Muslim yang amat
sedikit, terjemah Alquran dalam bahasa
Jepang juga tidak mudah didapati. Hampir
tidak adanya kesusasteraan Islam di dalam
toko-toko buku atau perpustakaan-
perpustakaan umum, kecuali beberapa esai
dan buku dalam bahasa Inggris yang dijual
pada harga yang agak mahal.
Oleh itu, tidaklah mengejutkan untuk
mendapati bahwa pengetahuan orang
Jepang yang biasa tentang agama Islam
hanya dihadapkan kepada beberapa istilah
yang berkaitan dengan poligami, Sunni dan
Syiah, Ramadhan, Haji, Nabi Muhammad,
dan Allah. Dengan kesan-kesan yang
semakin terang tentang kesadaran
kewajiban komunitas-komunitas Islam
serta penilaian yang rasional, Umat Muslim
telah menunjukkan tanggungan yang lebih
kuat terhadap pelaksanaan kegiatan-
kegiatan dakwah dengan cara yang lebih
teratur.

ISLAM DI TAIWAN

Islam di Taiwan termasuk agama yang
relatif kecil meski dianut oleh cukup
banyak orang. Masuknya Islam ke Taiwan
(waktu itu masih bernama Pulau Formosa)
tidak lepas dari sejarah masuknya Islam ke
negeri Tiongkok. Islam masuk ke Tiongkok
melalui kawasan barat negeri itu,
bersamaan dengan kedatangan pedagang
Muslim pada abad ketujuh Masehi yang
kemudian menikahi perempuan setempat.
Perkawinan mereka menghasilkan
kelompok etnis baru di Tiongkok yang
bernama etnis Hui. Itu sebabnya mula-
mula masyarakat Tiongkok biasa menyebut
agama Islam dengan sebutan 回教 (Huì
Jiào)yang berarti “agama Hui”. Tapi
belakangan masyarakat lebih terbiasa
dengan sebutan 伊斯蘭教 (Yīsīlán Jiào)
atau “agama Islam”.
Di Tiongkok ada sekitar 20 juta orang
beragama Islam. Sebagian di antara
mereka kemudian berhijrah ke Taiwan pada
abad ke-17 saat orang Muslim yang tinggal
di provinsi Fujian yang berada di pesisir
selatan Tiongkok bergabung dengan
pasukan Koxinga (Cheng Cheng-Kung)
menyerbu Taiwan untuk mengusir pasukan
Belanda yang menduduki pulau itu. Usai
perang, sebagian pasukan Koxinga yang
beragama Islam itu ada yang memilih
menetap di Taiwan.
Keturunan mereka kemudian menikah dan
berasimilasi dengan masyarakat setempat.
Sebagian mereka ada yang tetap menjadi
Muslim, sedangkan sebagian lain berpindah
agama.
Menurut Profesor Lien Ya Tang dalam
bukunya yang berjudul History of Taiwan
(1918), meskipun mereka beragama Islam,
orang Muslim yang menetap di pulau
Formosa itu tidak aktif menyebarkan
agamanya. Mereka juga tidak membangun
masjid di pulau tersebut.
Gelombang kedua kedatangan orang
Muslim ke Taiwan berlangsung selama
perang sipil Tiongkok pada abad ke-20.
Pada saat itu sekitar 20.000 tentara Muslim
beserta keluarganya yang pro partai
nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang
Kai Shek ikut hijrah ke Taiwan pada tahun
1949, karena tidak sudi berada di Tiongkok
daratan yang dikuasai Partai Komunis
Tiongkok.
Kebanyakan mereka adalah tentara dan
pegawai negeri yang berasal dari provinsi
Tiongkok bagian selatan dan barat yang
banyak dihuni orang Islam, seperti Yunnan,
Xinjiang, Ningxia, dan Gansu.
Selama tahun 1950-an kontak antara etnis
Hui (masyarakat Muslim) dan etnis Han
sangat terbatas karena perbedaan adat
istiadat di antara mereka. Kebanyakan
masyarakat Muslim lebih mengandalkan
hubungan antar mereka sendiri melalui
pertemuan komunitas mereka di sebuah
rumah di Jalan Lishui ( 麗水街) di Taipei.
Namun ketika tahun 1960-an kaum
Muslimin melihat kenyataan bahwa
kembali ke Tiongkok daratan tidak lebih
baik, kontak dengan etnis Han jadi lebih
sering. Meski begitu interaksi dan saling
bantu dengan sesama umat Islam tetap
terus dijaga.
Pada tahun 1980-an ribuan umat Islam
dari Myanmar dan Thailand bermigrasi ke
Taiwan untuk mencari kehidupan yang
lebih baik. Mereka adalah keturunan
tentara pro nasionalis yang melarikan diri
dari provinsi Yunnan ketika kelompok
komunis berhasil menguasai Tiongkok
daratan.
Saat ini ada sekitar 53.000 orang Taiwan
yang beragama Islam serta lebih dari
80.000 orang Muslim Indonesia yang
menjadi pekerja ( TKI) di Taiwan. Sehingga
saat ini (tahun 2007) ada sekitar 140.000
umat Islam di Taiwan.
Meskipun perkembangan umat Islam di
negeri ini sangat lambat namun dilaporkan
setiap tahun ada sekitar 100 orang Taiwan
yang masuk Islam, terutama karena
menikah dengan pria Muslim.

SEJARAH SINGKAT MASUKNYA ISLAM DI KOREA

Korea adalah negara yang miskin dan
menderita dan keadaan ini akibat dari
berkecamuknya perang Korea yang
berlangsung sejak 25 Juni 1950, dan
diantara reruntuhan perang inilah Islam
hadir dan tumbuh dan berkembang melalui
anggota pasukan perdamaian PBB dari
Turki Mr. Zubercoch dan Mr. Abdul Rahman
yang selama keberadaannya di Korea
membangun sebuah tempat sementara
yang di pergunakan sebagai Masjid, di
mana kemudian beliau berdua
memperkenalkan ajaran Islam kepada
penduduk Korea.
Tentara Turki menjadi sangat dekat dengan
penduduk Korea di Masjid tenda yang di
bangun di tengah-tengah tenda
pengungsian, dan ternyata ajaran Islam
membuat mereka sedikit banyak
mengurangi penderitaan akibat perang, di
dalam agama ini di ajarkan bahwa ada
kehidupan lagi setelah mati, kehidupan di
dunia hanyalah sementara dan kehidupan
abadi adalah di Akhirat kelak. Dengan
demikian mereka timbul semangat untuk
terus mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Sebagai langkah awal agar Islam dapat
berkembang efektif di Korea, di bentuklah
wadah Muslim untuk penduduk Korea yang
di beri nama Korean Moslem Society ( KMS )
yang di kemudian hari berubah menjadi
Korean Moslem federation ( KMF ). Sebagai
Imam masyarakat Muslim Korea ini di pilih
Mr. Muhammad Umar Kim Jin Kyu, dan
selanjutnya Imam beserta beberapa Muslim
Korea di berikan kesempatan untuk
mengunjungi negara-negara Muslim dan
beberapa diantaranya kemudian di kirim ke
Universitas Muslim di Malaysia untuk
belajar agama Islam. Mereka di latih
menjadi da'i-da'i yang handal untuk
berdakwah terhadap masyarakat Korea
yang belum memeluk Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya KMS
membuat proposal perencanaan Masjid,
pemerintah Malaysia menyambut baik
rencana ini dan melalui PM Tunku Abdul
Razak memberikan dana sebesar US$
33.000 pada tahun 1963, namun
pembangunan belum dapat dilaksanakan
karena negara Korea sedang inflasi.
Sungguh tidak mudah untuk mewujudkan
rencana pembangunan Masjid yang
pertama di Korea ini, banyak permasalahan
yang timbul diantaranya adalah perihal ijin
dari pemerintah . Tetapi meskipun
demikian pengabdian para muallaf untuk
mengembangkan agama Islam tidak
luntur, dengan kepercayaan dan kesetiaan
penuh kepada Allah SWT. Dan akhirnya
pemerintah Korea melalui Menteri
Informasi dan Kebudayaan mengeluarkan
ijin untuk KMS (registrasi No. 114 March,
1967, dengan Ketua Sulaeman Lee Hwa
Shik dan Sekretaris Jenderal Abdul Aziz Kim
Il Cho ). Berbekal surat ijin ini KMS menjadi
lebih leluasa berdakwah dan membuka
babak baru sejarah perkembangan Islam di
Korea.
Mimpi panjang mendirikan Masjid baru
terwujud 9 tahun kemudian, pada bulan
Mei tahun 1976 Central Masjid Itaewon
secara resmi di buka dengan di hadiri 55
tamu undangan dari 20 negara yang turut
membantu mewujudkan mimpi
masyarakat muslim Korea. PM Choi Gyu
Hwa turut hadir mewakili pemerintah
Korea hal ini sekaligus, sebagai bukti
bahwa Islam telah mendapatkan jalan yang
terang untuk berkembang di Korea.
Dalam perkembangan selanjutnya pada
tahun 1978 KMS mengirim 130 jamaah
untuk ziarah dan menunaikan ibadah haji
ke Tanah Suci Mekkah, dan selanjutnya
pada tahun 1979 tercatat 104 jamaah ,
aktifitas ini kemudian di kenal dengan "
Boom Of Middle East " yang mencerminkan
bahwa syiar Islam telah menyala di Korea.
KRONOLOGI MASUKNYA ISLAM DI KOREA
September 1955 : Mr. Zubercoch dan Mr.
Abdul Rahman anggota pasukan
perdamaian PBB dari Turki
memperkenalkan risalah Islam pertama kali
di Korea
Oktober 1955 : Pendirian organisasi
masyarakat Muslim Korea dengan nama
Korean Moslem Society.
September 1961 : Pemerintah Malaysia
mengirimkan utusan yang beranggotakan
14 orang untuk memantau perkembangan
Islam di Korea di pimpin oleh Senator
Ubaidullah, yang tinggal di negara ini
selama 2 pekan.
Agustus 1962 : Pemerintah Malaysia
menyetujui proposal pembangunan Masjid
di Korea.
Oktober 1963 : Utusan pemerintah
Malaysia H. Muhammad Noh berkunjung
ke Korea dan memberikan dana sebesar
US$ 33.000
Maret 1967 : Pemerintah Korea melalui
Menteri Informasi dan Kebudayaan
mengeluarkan ijin dengan registrasi No.
114 March, 1967
Mei 1976 : Pembangunan Central
Masjid Itaewon selesai dan di resmikan
penggunaannya.
Desember 1976 : Masjid sementara Busan
di buka dengan Imam Mr. Kim Myung
Hwan.
Maret 1977 : Pusat kebudayaan Islam
Korea di buka di Jeddah, Arab Saudi.
April 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka dengan Imam Mr.
Abdullah Jun Deuk Lin.
Oktober 1978 : 130 jamaah haji Korea
berangkat ke Tanah Suci untuk yang
pertama kali .
Oktober 1978 : Masjid sementara
Kwangju di buka.
Juli 1980 : Pembangunan Masjid
Rabita Anyang.
September 1980 : Peresmian Masjid Al
Fatah Busan.
Juni 1981 : Peresmian Masjid
Kwangju.
Agustus 1982 : World Assembly Moslem
Youth ( WAMY ) mengadakan kunjungan ke
Korea untuk memberikan Pendidikan
Islam, dan berturut-turut setiap bulan
Agustus hingga tahun 1988, kegiatan
WAMY ini di kenal dengan " WAMY SUMMER
CAMP "
April 1986 : Peresmian Masjid Rabita
Anyang.
September 1986 : Persemian Masjid
Abubakar Assidiq dengan Imam Dr.
Abdulwahab Zahid dari Syria, beliau
sekaligus menjabat sebagai General Mufthy
Of Korea.
Informasi tentang Islam di Korea dan
Tentang Mufthy Of Korea :

Awam: SEJARAH ISLAM DI RUSIA

Awam: SEJARAH ISLAM DI RUSIA: "Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua[1] setelah Kristen Ortodoks[2], yakni sekitar 28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari sekit..."

SEJARAH ISLAM DI RUSIA

Islam di Rusia adalah agama terbesar
kedua[1] setelah Kristen Ortodoks[2], yakni
sekitar 28 juta penduduk atau 15 – 20
persen dari sekitar 142 juta penduduk.
Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga
kian membaik dibanding masa Komunis
dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah
Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin)
memasukkan menteri Muslim dalam
kabinetnya dan mengakui eksistensi
Muslim Rusia.
1. Sejarah
Muslim pertama di wilayah Rusia terkini
adalah masyarakat Daghestani di (kawasan
Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad
ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah
Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar
mewarisi agama Islam dari negeri itu.
Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa
dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam.
Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan
yang lama, melebarkan ke seawal
penaklukan kawasan Volga Tengah pada
abad ke-16, yang membawa orang Tatar
dan berkenaan Orang Turki di Volga Tengah
ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18
dan ke-19, taklukan Rusia di Caucasus
Utara membawa orang-orang Muslim dari
kawasan ini – Dagestan, Chechen, Circassia,
Ingush, dan lain-lain ke dalam negara
Rusia.
Kievan Rus juga telah dapat kesempatan
untuk memeluk Islam dari misionaris Volga
Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur
menerima agama Kristen.
Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran
Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan,
terutama di Chechnya, ada tradisi Sufisme,
sebuah variasi bermistik Islam yang
menegaskan pada carian jalan seorang
individu bersatu dengan Tuhan. Ritual Sufi,
diamalkan untuk memberikan orang
Chechen semangat kuat untuk menolak
tekanan orang asing, telah menjadi legenda
di antara pasukan Rusia yang melawan
orang Chechen pada zaman Tsar. Orang
Azeri juga pada sejarah dan masih lagi
pengikut Islam Syiah, disaat republik
mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak
orang Azeri yang datang ke Rusia untuk
mencari pekerjaan.
Qur’an pertama yang dicetak diterbitkan
di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi
fenomena yang terjadi adalah gerakan
Wäisi.
2. Demografi
Menurut United States Department of
State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah
penduduk Muslim di Rusia, sekurang-
kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk
negara ini dan membentukkan agama
minoritas yang terbesar. Masyarakat besar
Islam dikonsentrasikan di antara warga
negara minoritas yang tinggal diantara
Laut Hitam dan Laut Kaspia: Adyghe, Balkar,
Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush,
Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan
warga negara Dagestan. Di Volga Basin
tengah ada penduduk besar Tatar dan
Bashkir, kebanyakan mereka Muslim.
Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai
dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod,
Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast
(kebanyakannya kaum Tatar).
3. Masjid
Secara resmi jumlah masjid di Rusia
mencapai 4750 masjid, namun jumlah
sebenarnya jauh lebih besar dan terus
bertambah. Di Dagestan saja terdapat
antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh
tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan
telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia
dengan jumlah pemeluk Islam yang
melebihi 1 juta orang terdapat 20
komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut
pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000
masjid di Rusia.
4. Organisasi
Menurut data register negara, kini telah
tercatat 3345 organisasi keagamaan
Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-
organisasi keagamaan Muslim terdaftar di
daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus
Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan
jumlah organisasi keagamaan Muslim di
daerah lainnya lebih kecil.[1]
Mayoritas Muslim di Rusia adalah Sunni.
Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu
Mazhab Shafii di Kaukasus Utara dan
Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.
Tiga organisasi Muslim menurut status
dewan federal (pusat) adalah:
* Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa).
Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan
ini memimpin 1,686 komunitas.
* Administrasi Keagamaan Pusat dari
Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin
oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan
mempersatukan 522 komunitas.
* Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus
Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev,
Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah
Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.
Paska bubarnya Uni Soviet, kebebasan
beragama mulai bergeliat kembali. Salah
satu agama yang berkembang pesat di
negara tersebut adalah islam. Data terakhir
mencatat populasi muslim negara itu
mencapai 28 juta jiwa. Dengan jumlah itu,
Rusia menjadi negara dengan pemeluk
Islam terbesar di benua Eropa.
Komunitas muslim yang selama era Soviet
tertindas dan terisolasi, kini bisa
melaksanakan kegiatan keagamaan dengan
begitu semarak. Jumlah pemeluk Islam di
Rusia demikian banyak. Karena itu, prediksi
umat Islam akan menjadi mayoritas di
Rusia, tampaknya bukan suatu hal yang
mustahil.
Faktor utama dari meningkatnya populasi
muslim di Rusia selain runtuhnya Soviet
adalah kelahiran. Konon, diantara
komunitas agama lain di Rusia, pemeluk
islam dalam merencanakan keluarga tidak
memikirkan betapa sulitnya biaya hidup di
Rusia. Bagi komunitas muslim, melahirkan
generasi baru yang islami merupakan misi
yang jauh lebih berharga ketimbang
memikirkan kesulitan hidup di Rusia.
2050, Rusia Bakal Menjadi Negara Islam
Pakar Asia Tengah, Muhammad Salamah,
dalam sebuah seminar tentang Islam di
Rusia mengatakan, puluhan pengkaji
akademisi di Rusia telah menyimpulkan,
berdasarkan perkembangan yang terlihat
dari negara-negara Muslim pecahan Uni
Soviet ini, maka pada tahun 2050 nanti
negara Rusia diprediksikan akan menjadi
bagian dari negara Islam.
Salamah kemudian menambahkan, sejak
20 tahun lalu dirinya terus mengamati
perkembangan Islam di Rusia. Semenjak
Muslim di sana berada di bawah
pemerintahan yang komunis dan
mengalami masa-masa pengekangan,
seperti dilarangnya membawa mushaf Al
Qur ’an, masjid-masjid di tutup, hingga
akhirnya sekarang, Muslim Rusia telah
mendapatkan hak-hak mereka dengan
baik. Dan Islam pun kini menjadi agama
kedua di negeri itu.
Salamah juga mengatakan penyebaraan
Islam di Rusia berjalan damai. Bahkan
dirinya telah mendirikan sebuah
Universitas Islam di Moskow, dan
mengajarkan tentang apa itu agama Islam,
termasuk kepada para politisi senior negeri
itu, di antaranya adalah Vladimar Putin,
Perdana Menteri Rusia.
* dari berbagai sumber

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JERMAN

Sebenarnya islam sudah dikenal oleh
bangsa Jerman sejak zaman pendudukan
Kekhalifahan Islam di Spanyol. Pada saat
itulah kekuasaan dan kemajuan dunia islam
disegani oleh bangsa-bangsa Eropa.
Andalusia dijadikan pusat pengembangan
ilmu pengetahuan dibawah Kekhalifahan
Islam. Eropa mulai memasuki abad
pertengahan, mereka menyebutnya
sebagai zaman kegelapan atau The Dark
Age. Memang tepat sekali sebutan tersebut
bagi bangsa Eropa pada zaman itu.
Ekspansi dan kemajuan besar-besaran
Kekhalifahan Islam baik dibidang politik,
ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan
jauh melampaui bangsa Eropa. Pada zaman
perang salib, peperangan terjadi antara
kaum muslim dengan bangsa Eropa,
terutama Perancis, Jerman dan Inggris.
Setelah perang salib berakhir, toleransi
antar agama dan kebudayaan pun
berlangsung. Di saat itulah bangsa Eropa
termasuk Jerman mulai mengenal lebih
jauh tentang Islam. Sastrawan nomor satu
di Jerman, Wolfgang von Goethe, adalah
seorang pengagum Muhammad saw.
Harian Republika pernah memuat biografi
tentang Wolfgang von Goethe pada rubrik
dunia islam. Dikatakan pada tulisan
tersebut bahwa von Goethe memasukan
ajaran-ajaran islam pada hasil karyanya.
Tulisan basmallah pun menghiasi buku-
buku yang dibuatnya. Pada akhir khayatnya
beliau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Hubungan antara Jerman dan Islam terus
berlanjut. Seperti yang diungkap pada
harian Medan Waspada, bahwa pada tahun
1739, raja Friedrich Wilhelm I mendirikan
sebuah masjid di kota Potsdam untuk
tentaranya yang beragama islam, mereka
disebut dengan nama pasukan
Muhammadaner. Mereka juga diberikan
jaminan kebebasan beribadah. Pada
Pebruari 1807 pasukan Muhammadaner
membantu raja Wilhelm memerangi
Napoleon dari Perancis. Bersama pasukan
Jerman lainnya, mereka pun memerangi
Rusia dan Polandia. Pada satu resimen
bernama Towarczy, 1220 tentara
beragama Islam dan 1320 tentara lainnya
beragama kristen. Pada zaman itu, kaum
muslim di Jerman selain menjadi tentara,
mereka juga banyak yang menjadi
pedagang, diplomat, ilmuwan, dan penulis.
Pada saat Perang Dunia Pertama, Jerman
kembali bersekutu dengan tentara muslim
dari Kekhalifahan Turki. Hal ini membuat
komunitas muslim di Jerman bertambah
banyak dan makin menguatkan
eksistensinya. Lembaga Muslim Jerman
sudah berdiri pada tahun 1930. Antara
1933 dan 1945, tercatat lebih dari tiga ribu
warga Jerman beragama Islam, dan tiga
ratus di antaranya berdarah etnis Jerman.
Sayangnya, pada saat kepemimpinan Hitler
dan perang dunia kedua, umat islam
terpecah-pecah. Kebebasan beribadah
terancam. Sebagian umat islam pergi
melarikan diri ke negara balkan. Setelah
perang dunia kedua berakhir dengan
kekalahan besar yang didapatkan Jerman,
hubungan antara Jerman dan umat islam
kembali terjalin. Keberadaan Islam di
Jerman meningkat pada tahun 1960-an.
Akibat perang dunia, negara Jerman hancur
berantakan. Jerman membutuhkan banyak
tenaga kerja. Para pekerja berdatangan dari
Italia, Turki dan Eropa Timur untuk
membangun Jerman kembali. Setelah
kontrak kerja mereka selesai, para pekerja
ini menolak untuk pulang ke negara
mereka, bahkan mereka mendatangkan
keluarga-keluarganya untuk tinggal
menetap di Jerman. Berlin menjadi kota
dengan jumlah komunitas Turki terbesar
setelah Istanbul. Umat muslim dari
Yugoslavia dan Iran pun berdatangan dan
menetap di Jerman. Hal-hal tersebut
membuat jumlah penduduk yang
beragama Islam di Jerman mencapai lebih
dari dua juta jiwa pada awal tahun 1990.
Pembicaraan mengenai Islam dan
komunitas Muslim di negara-negara Barat
kini menjadi salah satu topik menarik. Hal
ini tidak hanya karena perkembangnya
yang cukup signifikan tapi juga karena
memberi dampak terhadap kehidupan
sosial politik negara-negara tersebut. Di
sebagian besar negara-negara Eropa Islam
kini telah menjadi agama terbesar kedua
dan keberadaanya saat ini mulai
diperhitungkan sebagai agama yang
“diakui” pemerintah. Salah satu negara
Eropah yang memiliki penduduk Muslim
yang besar adalah Jerman, dengan jumlah
berkisar 3.7 juta jiwa. Tulisan ini mencoba
memaparkan sekilas tentang
perkembangan Islam di Jerman, yang
sebagian berasal dari pengalaman penulis
selama enam tahun berada di negeri
tersebut.
Komunitas Muslim di Jerman
Keberadaaan orang-orang Islam pertama
sekali di negeri Jerman tidak terlepas dari
masuknya bangsa Turki ke wilayah
tersebut di akhir abad ke 17 yang
merupakan respons perlawanan terhadap
kolonialisme Barat. Mereka menetap dan
berketurunan di wilayah tersebut. Ketika
bangkitnya industri-industri di Eropah,
banyak warga Muslim dari Turki dan Timur
Tengah melakukan migrasi untuk mencari
pekerjaan ke Eropah termasuk Jerman.
Tahun 1961, 1963, dan 1965 orang-orang
keturunan Turki, Maroko, dan Tunisia
direkrut sebagai pekerja di Jerman atas
persetujuan antara pemerintah Jerman
dengan negara-negara bersangkutan.
Belakangan warga Muslim dari Libanon,
Palestina, Afganistan, Aljazair, Iran, Iran
dan Bosnia juga datang ke Jerman
mengungsi karena negara mereka dilanda
perang. Karena merupakan negara maju,
Jerman juga menjadi target bisnis dan
pendidikan. Banyak para profesional,
pebisnis, pekerja dan mahasiswa Muslim
dari India, Pakistan, dan Asia Tenggara
datang dan sebagian menetap di sana.
Jumlah penduduk Muslim di Jerman saat ini
berkisar 3,7 juta jiwa. Mayoritas adalah
keturunan Turki dengan jumlah lebih dari 2
juta orang. Menurut statistik tahun 1999,
komposisi kaum Muslim di negeri ini adalah
sbb: Turki 2.053.564, Bosnia 167.690, Iran
116.446, Marokko 81.450, Afghanistan
71.955, Libanon 54.063, Pakistan 36.924,
Tunisia 26.396, Syiria 19.055, Aljazair
17.705, Irak 16.745, Mesir 13.455, Yordania
12.249, Albania 10.528, Indonesia 9.470,
Somalia 8.248, Banglades 7.156, Sudan
4.615, Malaysia 3.084, Senegal, 2.509,
Gambia 2.371, Libya 1.898, Kirgistan 1.662,
Azerbaijan 1.399, Guinea 1.287, Usbekistan
1.249, Yaman 1.083. Tidak jelas berapa
jumlah Muslim yang berasal dari Jerman
sendiri. Satu laporan dari Lembaga Statistik
Khusus umat Islam di Jerman menyebutkan
sedikitnya 18.000-an orang, namun ada
dugaan menyebutkan sekitar 40.000
orang.
Konversi Agama ke Islam
Satu fenomena yang menarik belakangan
bahwa tingkat konversi orang-orang
Jerman ke Islam cukup tinggi. Majalah
ternama Jerman Der Spiegel pernah
menyebutkan bahwa antara Juli 2004 dan
Juni 2005 saja terdapat sekitar 4000 orang
di Jerman masuk Islam (lihat juga laporan
RTL: http://www.youtube. com/watch?
v=mhMdTjLXo). Kebanyakan para muallaf
berasal dari kalangan terpelajar.
Menariknya, fenomena ini terjadi justru
disaat media-media Barat gencar
mengaitkan Islam dengan terorisme.
Apa motivasi masuknya orang-orang
Jerman ke Islam? Monika Wohlrab-Sahr dari
Institut für Kulturwissenschaften
Universitas Leipzig dalam studinya
menyatakan “viele auf der Suche nach
dem “Andersartigen” (banyak yang
sedang mencari “bentuk lain”). Dalam
banyak kasus, katanya. “..die Konvertiten
meist aus einer vorangegangenen
Lebenskrise heraus den Islam entdeckten
und nicht, wie oft im Nachhinein
geschildert werde, ein tatsächlicher
Vergleich mit anderen Religionen
stattgefunden habe. (Banyak pelaku
konversi tersebut mengalami problematika
kehidupan dan menemukan solusi dalam
Islam, bukan karena membanding-
bandingkannya dengan agama lain,
sebagaimana yang kerap digambarkan).
Monika menyebutkan bahwa penekanan
terhadap kedisiplinan dan kepatuhan
dalam Islam lebih kuat. Salah seorang
muallaf menyebutkan tertarik pada Islam
karena ajaran ini paling jelas merinci
tuntunan hidup bagi umatnya. Ada juga
yang mengakui meski Islam saat mundur
dari peradaban Barat, namun ajarannya
tetap relevan hingga saat ini.
Kebebasan Beragama
Di Jerman, kebebasan beragama dijamin
oleh Undang-Undang. Pasal 4 ayat 1
Undang-Undang Dasar Jerman
(Grundgesetz) menyebutkan Die Freiheit
des Glaubens, des Gewissens und die
Freiheit des religiösen und
weltanschaulichen Bekenntnisses sind
unverletzlich. (Kebebasan beragama dan
memiliki pandangan filosofis hidup tidak
boleh diganggu). Memang belakangan
terdapat beberapa kasus dimana warga
Muslim mendapat diskriminasi di Jerman
misalnya dalam masalah jilbab. Namun hal
ini bukanlah kasus yang fenomenal dan
tidak merubah kebijakan pemerintah
Jerman terhadap umat Islam. Secara
umum, masyarakat Jerman sangat
menghargai kebebasan beragama. Sebuah
survey yang pernah dilakukan Stiftung
Konrad Adenauer menunjukkan bahwa dua
pertiga peserta polling percaya bahwa
umat Islam harus diberikan kebebasan
untuk melaksanakan ajaran agama mereka.
Organisasi-organisasi Islam di Jerman
umumnya berafilisasi kepada kelompok-
kelompok kultural seperti tersebut diatas.
Namun belakangan ada upaya-upaya
penyatuan dengan membuat lembaga yang
berfungsi sebagai mediator dan pemersatu
berbagai organisasi yang ada.
Pendidikan Islam Formal
Berbeda dengan kebanyakan negara-
negara lain di Eropa, Jerman dalam
perkembangan terakhir, mulai
memperbolehkan pelajaran agama Islam
bagi para pelajar Muslim di sekolah-sekolah
umum. Biasanya pelajaran agama
dilakukan orang-orang Islam secara non-
formal di mesjid-mesjid atau kelompok-
kelompok masyarakat. Kebijakan baru yang
merupakan hasil dari penggodokan
bersama antara pemerintah Jerman dan
komunitas Muslim di Jerman ini adalah
salah satu upaya mendukung proses
integrasi sosial Muslim di Jerman. Menurut
Wolfgang Schrauber, Menteri Dalam Negeri
Jerman, kebijakan tersebut dapat
menjembatani perbedaan yang kerap
timbul.
Tidak hanya di level sekolah, pendidikan
Islam juga mulai diperkenalkan pada
tingkat akademik dengan membuka
Jurusan Teologi Islam di perguruan tinggi
di Jerman. Pendidikan pada tingkat
akademik ini dianggap dapat memberi
solusi terhadap masalah kehidupan Muslim
dalam keragaman dan juga dapat
mengangkat isu partisipasi mereka dalam
diskursus politik di negara tersebut.
Mesjid Sebagai Pusat Pembinaan.
Karena tidak adanya infrastruktur
keagamaan formal, mesjid-mesjid di
Jerman memiliki peran yang sangat
penting dalam pembinaan komunitas
Muslim. Mesjid tidak hanya berfungsi
sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai
tempat pendidikan/pengajaran, pertemuan
sosial keagamaan, acara perkawinan, dan
pusat bisnis. Karenanya tidak sedikit mesjid
yang memiliki toko, restoran,
perpustakaan, dan ruang pertemuan. Saat
ini jumlah mesjid di Jerman berkisar 2000,
namun sebagian besar tidak dalam
bentuknya yang umum, melainkan ruko-
ruko yang berada dekat pusat bisnis dan
perumahan kaum Muslim. Tuntutan kaum
Muslimin untuk membangun mesjid dalam
bentuknya yang umum selalu kandas di
tingkat parlemen setempat. Namun sejak
tahun 1990-an, banyak mesjid yang utuh
dan megah di bangun. Satu laporan
menyebut sekitar 200 telah terbangun dan
lebih dari 30 dalam proses pembangunan.
Sebagai catatan akhir, dapat dikatakan
bahwa perkembangan Islam dan
komunitas Muslim di Jerman tampak
memberi dampak yang positif bagi
kehidupan masyarakat Jerman. Penerimaan
Islam oleh masyarakat Jerman sendiri
menunjukkan agama ini memberikan
alternatif bagi pemecahan masalah
kehidupan mereka. Islam tidak lagi
diidentikkan sebagai agama para imigran
melainkan agama yang terintegral dari
kehidupan mereka sendiri. Integrasi Islam
dan kultur mereka inilah yang akan
membangun apa yang dikenal sebagai
“ Euro Islam”.

Selasa, 17 Mei 2011

ISLAM DI AUSTRALIA

Australia
adalah
tempat
jumlah umat
Islamnya
terus
bertambah.
Menurut
sensus
terakhir tahun 2006, lebih dari 340.000
orang mengidentifikasi diri sebagai umat
Islam. Ini adalah sekitar 1,7 persen dari
total penduduk Australia. Islam secara
tradisional yang terkait dengan migran dan
para pendatang baru.
Hal ini terutama terjadi di tahun 1970-an,
tahun 1980-an dan 1990-an ketika
gelombang dari para pengungsi dan
migran yang baru tiba dari beberapa titik di
Timur Tengah. Tetapi semakin lama
komposisi umat Islam Australia berubah
dari imigran berkembang menjadi
penduduk asli.
Kini, hampir 40 persen dari umat Islam
Australia menganggap Australia sebagai
tempat mereka lahir. Hal ini berakibat
besar pada bagaimana generasi baru dari
umat Islam sendiri menentukan dan
mengartikulasi identitas mereka. Pada
tingkat yang paling dangkal, mereka sering
menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa pilihan komunikasi. Di tingkat lebih
dalam, mereka melihat Australia sebagai
rumah tinggal dan tidak lagi punya
keinginan untuk kembali ke tanah leluhur
mereka, sebagaimana orang tua mereka
lakukan.
Struktur
Muslim Australia heterogen secara
kesukuan dan bahasa. Yang terbesar adalah
kelompok etnis Libanon, Turki, dan Arab
Afghan. Perbedaan suku dan bahasa
mempunyai perbedaan historis yang
mempengaruhi inisiatif masyarakat,
organisasi dan jamaahnya. Akibatnya,
masing-masing kelompok etnis cenderung
condong ke arah perbedaan masjid atau
organisasi etnis yang jelas.
Tetapi banyak umat Islam Australia yang
telah mencoba menjembatani etnis yang
terbagi. Ironisnya, penggunaan bahasa
Inggris telah menjadi ukuran yang paling
efektif untuk menyatukan umat Islam dari
berbagai latar belakang etnis dan linguistik.
Integrasi Muslim di Australia menghadapi
sejumlah tantangan. Beberapa tantangan
itu bersifat struktural dan terkait dengan
kemampuan Muslim Australia untuk
berpartisipasi secara efektif dalam kegiatan
ekonomi yang bermanfaat, sering
merupakan hal yang sulit bagi para
pendatang baru yang baru saja tiba.
Tantangan lain lebih subyektif dan terkait
dengan hambatan politik dan budaya.
Tantangan sosio-ekonomi
Komposisi sosial-ekonomi umat Islam di
Australia beragam. Ada beberapa umat
Islam yang telah berhasil mencapai posisi
kewenangan dalam bisnis, politik dan
pendidikan. Tetapi mayoritas Muslim
cenderung masih berada pada posisi
rendah.
Sensus Australia terakhir disorot karena
adanya kekhawatiran ketidakcocokan
dalam hal standar hidup dan akses
terhadap kekayaan antara Muslim dan non-
Muslim. Lebih dari 2 persen dari rumah
tangga muslim tidak terdaftar
pendapatannya; ini adalah dua kali jumlah
non-Muslim dalam kategori tersebut.
Dalam hal kepemilikan rumah, indikator
keuangan dan keamanan sebuah yayasan,
dari ‘Australian dream,’ Muslim
terdaftar hanya 15 persen. Kepemilikan
rumah di antara sisa penduduk ada pada
33 persen.
Pekerjaan
Angka kerja memperkuat ketidakcocokan di
atas antara Muslim dan semua masyarakat
Australia. Sedangkan untuk tingkat
pengangguran non-Muslim usia 25-45 ada
pada 5 persen, tingkat pengangguran yang
Muslim adalah 12 persen untuk kelompok
usia yang sama. Angka-angka ini
menunjukkan bahwa keamanan finansial
dan kemiskinan merupakan masalah serius
bagi umat Islam.
Kenyataannya, angka berkaitan dengan
pendapatan rumah tangga menempatkan
40 persen dari rumah tangga Muslim di
bawah garis kemiskinan. Masalah sosial-
ekonomi riil ini menjadi hambatan bagi
integrasi positif dan aktif dalam
masyarakat Australia.
Isolasi Setelah 9 / 11
Isu-isu politik memberikan tantangan baru.
Setelah serangan teroris 11 September dan
kemudian bom Bali, London dan Madrid,
pemerintah Australia yang liberal
mengadopsi serangkaian kebijakan luar
negeri dan dalam negeri yang secara luas
dianggap merugikan dan bias terhadap
umat Islam.
Aliansi pemerintah Australia dengan
Amerika Serikat dalam Perang melawan
Teror mengambil tentara Australia ke Irak
dan Afghanistan-perang yang dianggap
oleh banyak orang sebagai menjadikan
umat Islam target. Kasus Irak secara
khusus telah menghasilkan kegelisahan di
kalangan umat Islam Australia.
Mereka tidak dapat memahami mengapa
Pemerintah Australia mengabaikan
sentimen mayoritas menentang perang,
yang dinyatakan di publik jalan-jalan besar
kota Melbourne dan Sydney, dan memilih
untuk terlibat dalam perang dengan dasar
hukum yang meragukan. Apakah aliansi
dengan Amerika Serikat lebih penting
daripada menghormati hukum
internasional?
Keterlibatan Australia dalam perang
melawan teror merupakan pengalaman
pengasingan bagi banyak umat Islam. Hal
ini menjadi lebih nyata dengan adopsi
undang-undang anti-teror. Undang-
undang ini telah dikritik oleh organisasi
sipil liberal dan kelompok Muslim sebagai
penargetan warga Muslim, daripada
dugaan tidak bersalah bagi mereka.
Kekuatan badan-badan keamanan untuk
menahan tersangka teror tanpa perlu
memberikan bukti atau mengenakan kasus
itu kepada proses peradilan, melemahkan
tersangka untuk membela diri. Tersangka
teroris menjadi tersangka bersalah sampai
dibuktikan sebaliknya. Membuktikan bahwa
mereka bukan teroris adalah hal yang
mustahil, dan banyak mengkhawatirkan
bahwa umat Islam diletakkan dalam posisi
yang mustahil tersebut.
Pada tahun 2007 ketika seorang dokter
tamu dituduh ada hubungan dengan sel
teror di Inggris, kekhawatiran itu terbukti.
Dr. Haneef-nama orang itu-memang
akhirnya dibebaskan dari setiap tuduhan,
tapi tidak sebelum ia kehilangan pekerjaan
dan diusir dari Australia. Ini adalah tragedi
pribadi yang dirasakan oleh seluruh
penduduk Muslim di Australia. Kasus
Haneef adalah kasus yang sangat efektif
adalah meniup ke diri umat Muslim rasa
kepercayaan diri dan keyakinan di Australia.
Dalam konteks ini, Pemerintah Australia di
bawah kepemimpinan John Howard telah
terlibat dalam kampanye populis untuk
mempresentasikan dirinya sebagai
pelindung terbaik bagi Australia.
Penekanan pada nilai-nilai Australia dan
pengenalan ujian kewarganegaraan, di
tengah laporan-laporan media akan warga
Irak dan Afganistan yang mencari suaka
tiba di pantai Australia, membuat tegang
hubungan antara Muslim dan non-Muslim.
Rasa Terluka
Laporan dan survei tentang Muslim
Australia telah mencatat dengan gamblang
rasa terluka dan pengasingan karena cara
Pemerintah Australia menggambarkan
umat Islam, padahl itu dilakukan untuk
kepentingan sendiri untuk keuntungan
politik. Pengasingan umat Islam juga
dengan jelas dilakukan oleh media yang
meliput Islam.
Ada kemarahan di kalangan umat Islam
dengan cara media menyamakan Islam
dengan terorisme. Jelas ada rasa tidak puas
di antara umat Islam terhadap media dan
kebijakan pemerintah yang lalu. Banyak
umat Islam memandang diri sendiri
sebagai masyarakat ’sasaran’;
diperparah oleh marginalisasi sosial-
ekonomi, pengalaman ini cenderung
mengikis kepercayaan diri dan tantangan
prospek integrasi. Bahayanya di sini adalah
isolasi diri. Tetapi Muslim Australia tidak
mampu melakukan itu. Jika prasangka dan
kesalahpahaman dihadapi dan dikoreksi,
Muslim harus proaktif dan terlibat dalam
debat publik.
Perubahan pemerintahan di Australia pada
akhir tahun 2007 menawarkan harapan
baru. Pemerintah Buruh Kevin Rudd, tidak
terlibat dalam stereotyping populis
tentang Muslim, tetapi, lebih menekankan
‘inklusi sosial’. Muslim Australia dapat
mengambil hati dari hal ini dan mengambil
manfaat dari kesempatan yang ada.
[nuansaislam]
Penulis: Profesor Shahram Akbarzadeh,
Deputi Direktur National Centre of
Excellence for Islamic Studies di Universitas
Melbourne.
Sejarah Masuknya Islam ke Australia
Sejarah masuknya Islam ke Australia
dimulai dari interaksi pertama kali nelayan
yang berasal dari Sulawesi Selatan
(Indonesia) dengan penduduk asli di
bagian Utara Australia (Aborigin) pada
sekitar tahun 1750. Tidak banyak jumlah
Muslim yang tinggal di Australia saat itu,
sampai pada sekitar tahun 1860
serombongan penggembala onta berasal
dari Afganisthan datang ke Australia
menambah jumlah Muslim yang tinggal di
Australia.
Pada abad ke 19 Australia mempunyai
banyak daerah/tanah yang kaya akan
sumber daya alam yang belum
tereksploitasi.Sebagian besar dari tanah
tersebut berupa padang pasir dengan
temperatur yang sangat tinggi dengan
sedikit sumber mata air. Onta merupakan
binatang ideal untuk kondisi tersebut,
maka pada tahun 1840 seorang bernama
Horrick memasukkan (import) pertama kali
onta ke Australia, dia ingin
membandingkan antara onta dan kuda
sebagai hewan pengangkut barang di
padang pasir, tetapi missi ini gagal.
Kelompok onta selanjutnya datang pada
tahun 1860 sebanyak 24 onta. Dengan
mencoba mempergunakan onta sebagai
hewan pengangkut, Australia
membutuhkan orang-orang yang ahli
dalam mengendarai dan mengoperasikan
onta, maka didatangkanlah untuk pertama
kali orang-orang Afghanistan untuk
mengoperasikan 24 onta tersebut, dan
tidak lama setelah itu berdatangan lebih
banyak Muslim Afghanisthan ke Australia.
Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta
didatangkan ke Australia dalam kurun
waktu antara tahun 1860 sampai 1907.
Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari
Afghanistan bekerja sebagai pengangkut
barang-barang, air, serta makanan dengan
mempergunakan onta di daerah-daerah
yang sulit. (A. Saeed, Islam in Australia,
Allen & Unwin, 2003). Para penggembala
onta dari Afghanistan ini menemukan
tempat yang hampir sama kondisinya
seperti di daerah asal mereka di Australia
tengah, mereka mengendarai ontanya dan
berjalan melintasi padang pasir sekitar 600
km untuk mengangkut barang-barang
kebutuhan utama dan penting dari
Oodnadatta menuju Alice Springs (Australia
Tengah). “Kontribusi mereka dalam
membuka areal serta jalur umum untuk
masyarakat luas di daerah-daerah Australia
sangat besar dan penting. Tulang
punggung perekonomian tradisional
Australia saat itu yaitu agriculture dan
pertambangan sangat membutuhkan onta
sebagai alat transportasi beserta
penggembalanya” (Tin Mosques and
Ghantowns – Christine Stevens 1989).
Dengan berakhirnya era transportasi
industri mempergunakan onta pada sekitar
tahun 1920, serta peraturan yang lebih
ketat dari badan Imigrasi Australia
berkenaan dengan sedikitnya populasi
warga kulit putih Australia, maka jumlah
Muslim Afghanistan yang dating ke
Australia menjadi berkurang. (B. Cleland,
The Muslims in Australia: A Brief History,
Islamic Council of Victoria, 2002).
Pada sekitar tahun 1960, disebabkan
peraturan yang lebih longgar dari badan
Imigrasi Australia berkenaan dengan
migrasi bangsa non-Eropa ke Australia,
jumlah Muslim yang datang ke Australia
menjadi bertambah. Pada sekitar tahun
1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah
yang cukup besar terjadi migrasi Muslim
dari Lebanon dan Turki ke Australia, dimana
jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini
berasal dari ke dua Negara tersebut. Jumlah
Muslim terbesar yang tinggal di Australia
saat ini berasal dari bangsa Arab,
dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya
Muslim yang berasal dari Lebanon
mempunyai jumlah terbesar dan sejarah
migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi
pertama bangsa Libanon ke Australia
terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an.
Gelombang kedua migrasi terjadi antara
tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama
setelah terjadi perang antara bangsa Arab
dan Israel pada tahun 1967. Gelombang ke
tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi
perang sipil di Lebanon. Bangsa Arab lain
yang mempunyai populasi terbanyak di
Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya
bangsa Lebanon, migrasi bangsa Mesir ke
Australia terbesar terjadi setelah perang
dunia II, migrasi ini terjadi dalam dua
gelombang yaitu antara tahun 1947
sampai dengan 1971, dan gelombang ke
dua terjadi pada sekitar akhir 1980-an. (A.
Saeed, Islam in Australia, Allen & Unwin,
2003).
Muslim di Australia saat ini
Berdasarkan sensus dari Australian Bureau
of Statistics (ABS) pada tahun 2001, jumlah
Muslim di Australia sebesar 281.578 orang,
atau 1,5 % dari populasi jumlah penduduk
Australia. Sedangkan menurut estimasi dari
salah satu lembaga Islam di New South
Wales (NSW) mencapai 300.000 orang.
Sensus juga menunjukkan bahwa Muslim di
Australia berasal dari berbagai Negara,
dengan hanya 20,8 % berasal dari Lebanon
dan 14.5 % berasal dari Turki, sedangkan
64.7 % berasal dari sekitar 9 negara
(Indonesia, Afghanistan, Bosnia, dsb).
Sensus tersebut juga menunjukkan bahwa
Muslim Australia mempunyai pendidikan
yang cukup baik dibandingkan dengan
penduduk Australia secara keseluruhan,
21,7 % dari Muslim Australia yang berusia
di atas 15 tahun mempunyai gelar sarjana
(bachelor degree) atau lebih tinggi,
prosentase ini lebih tinggi dibandingkan
dengan 12,4 % dari penduduk Australia
secara keseluruhan. Kesimpulan penting
dari hasil statistik ini adalah bahwa
anggapan negatif tentang mayoritas
Muslim Australia tidak berpendidikan
terutama yang berasal dari bangsa Arab
adalah tidak berdasar.
Aktifitas Ibadah
Dalam melakukan aktifitas ibadah Muslim
di Australia mempunyai lebih dari 85 Masjid
dan sekitar 50 musolah (tempat sholat),
disamping itu di beberapa daerah yang
jauh dari Masjid beberapa Muslim
berinisiatif untuk menyewa gedung
(misalnya gedung pusat kegiatan
komunitas) untuk dijadikan tempat sholat
jum’at. Untuk membangun sebuah Mesjid
memerlukan prosedur tertentu yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yang harus
dipenuhi syarat-syaratnya sebagaimana
membangun gedung-gedung untuk
kepentingan umum lainnya.
Secara individual biasanya Muslim
mempunyai masalah dalam melakukan
aktifitas ibadah sholat pada saat hari kerja,
yang paling banyak mengalami masalah
adalah pada saat pelaksanaan shalat
Jum’at. Apabila menghadapi masalah
sulitnya melaksanakan sholat Jum’at,
muslim yang taat memilih keluar dari
tempat kerja atau mengorganisasi
beberapa muslim yang berdekatan tempat
kerjanya untuk melaksanakan sholat
Jum’at, sedangkan muslim yang kurang
taat melaksanakan ibadahnya memilih
meninggalkan sholat Jum’at. Kegiatan
keagamaan di Australia cukup semarak, hal
ini bias dilihat dari banyaknya majelis
taklim atau kelompok-kelompok pengajian
yang ada, bahkan beberapa gerakan Islam
cukup aktif terlihat melakukan berbagai
aktifitas.
Kondisi Muslim Australia Pasca Bom London
7 Juli 2005
Tidak lama setelah terjadi peristiwa
meledaknya bom di London 7 Juli 2005,
pemerintahan Negara Barat segera
melakukan kampanye terus menerus untuk
memberlakukan undang-undang khusus
bagi umat Islam yang tinggal di Negara
Barat. Mereka mencoba membentuk opini
menyesatkan kepada masyarakat bahwa
undang-undang baru tersebut
dimaksudkan untuk melindungi dan
memerangi bahaya serangan terorisme di
Negara mereka. Tetapi tidak bisa dielakkan,
agenda tersembunyi dari kampanye
tersebut yaitu membidik serta
melemahkan Islam dan Muslim di Negara
Barat segera terlihat nyata.
Strategi dan agenda tersembunyi yang
ditunjukkan oleh Pemerintahan Negara
Barat mempunyai banyak kesamaan.
Propaganda yang dimulai dengan alasan
yang dicari-cari untuk memerangi
terorisme, segera diperluas untuk
memerangi apa yang mereka sebut dengan
pendapat/ide radikal dan ekstrim, strategi
ini ditargetkan untuk memecah belah
Muslim dengan memberi predikat muslim
moderat dan muslim radikal/ekstrim.
Di Australia target juga diarahkan ke
sekolah-sekolah muslim, dimana
pemerintah akan meninjau kembali
kurikulum yang diajarkan di sekolah-
sekolah tersebut. Rencana ini segera
mendapat reaksi keras dari sekolah-sekolah
muslim, karena kurikulum yang diajarkan
saat ini tidak beda jauh dengan apa yang
diajarkan di sekolah-sekolah lainnya,
bahkan banyak murid dari sekolah-sekolah
muslim tersebut yang mempunyai prestasi
lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah
lainnya. Pemerintah juga mengusulkan
agar di sekolah-sekolah muslim lebih
banyak diajarkan nilai-nilai kemasyarakatan
Australia, seperti toleransi, tanggung jawab
dan sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut
juga ada dalam Islam dan sudah diajarkan
di sekolah-sekolah muslim tersebut, lebih
dari itu sekolah-sekolah muslim dalam
kurikulum belajar tidak pernah
mengajarkan tindakan terorisme.
Sedangkan di masjid-masjid, pemerintah
mengusulkan agar para Imam masjid diberi
pengarahan apa yang seharusnya boleh
mereka ceramahkan.
Tidak hanya sampai disitu, anggota
parlemen dari partai Liberal Bronwyn
Bishop mengusulkan agar melarang
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
umum, karena jilbab dianggap
bertentangan dengan nilai-nilai
kemasyarakatan Australia tentang
persamaan dan menyebabkan perpecahan
di sekolah-sekolah. Usulan ini juga
mendapat tantangan keras baik dari
muslim maupun non muslim, sebagian
besar yang menentang usulan itu
mengatakan bahwa tidak ada bukti
pemakaian jilbab di sekolah-sekolah
menyebabkan perpecahan dan persamaan
hak. Kerry Cullen salah satu kepala sekolah
menengah umum tingkat atas (SMTA) di
Sydney mengatakan bahwa di sekolahnya
hanya ada satu orang yang menggunakan
jilbab merah kecoklatan dimana warna
tersebut sesuai dengan seragam
sekolahnya, dan itu bukan suatu masalah di
lingkungan sekolahnya. Tidak pernah ada
laporan negatif dari guru-guru atau murid-
murid yang disebabkan oleh pemakaian
jilbab. Kepala sekolah lainnya mengatakan
bahwa kita tidak pernah melihat adanya
perpecahan yang disebabkan oleh
pemakaian jilbab, kami melihatnya sebagai
sebuah keragaman budaya.
Hubungan Muslim dan Non Muslim serta
harapan Muslim di Australia
Secara umum hubungan Muslim dan Non
Muslim di Australia cukup baik, terutama
sebelum terjadi peristiwa 11 September.
Tetapi setelah peristiwa 11 September,
bom bali, kemudian disusul bom London
banyak Muslim yang mendapat perlakuan
kurang menyenangkan baik oleh
masyarakat umum maupun oleh
pemerintah dan media massa. Namun
demikian hubungan personal antara
Muslim dan Non Muslim masih cukup baik,
meskipun terkadang sebutan teroris baik
dalam nada bercanda maupun serius sering
dilontarkan Non Muslim kepada Muslim,
sebutan atau label teroris ini terkadang
kurang menyenangkan bagi Muslim.
Secara umum harapan Muslim yang tinggal
di Australia adalah bisa lebih mudah
menjalankan aktifitas ibadahnya terutama
ibadah sholat Jum’at, sedangkan harapan
yang ditujukan kepada pemerintah
Australia dan media massa adalah tidak
terus menerus menyudutkan Muslim
dengan memberi label-label yang tidak
menyenangkan seperti ekstrimis, radikal,
teroris dan sebagainya.

Islam di america : Sejarah panjang yang terlupakan

Meskipun kebanyakan orang Amerika tidak
pernah berpikir bahwa kaum Muslimin
merupakan bagian dari masa lalu mereka,
umat Islam sebenarnya sama sekali tidak
baru atau asing dalam sejarah negara ini.
Di Amerika, Islam memiliki akar yang kuat,
begitu menurut para ahli.
"Muslim selalu menjadi bagian dari
Amerika Serikat, bahkan sebelum (AS)
menjadi sebuah bangsa," kata Dr Edward E.
Curtis, Profesor Studi Agama dan Studi
Amerika di Indiana University Purdue
University Indianapolis.
Dalam bukunya "Muslim di Amerika",
Curtis menelusuri sejarah Islam di Amerika
dan menjelaskan bagaimana umat Islam
hadir di awal pembentukan negara
Amerika.
"Pertama kali tiba di Amerika, adalah
Muslim berbahasa Spanyol pada abad
keenam belas," tegasnya.
"Dokumen-dokumen kolonial, termasuk
jurnal, catatan pengadilan, dan tagihan
penjualan untuk budak, menunjukkan
adanya Muslim di Amerika Utara yang
berbahasa Inggris."
Buku yang ditulis Curtis juga jejak umat
Muslim, dari Afro-Amerika yang masuk
Islam pada tahun 1920, sampai
gelombang-1965 yang merupakan tahun
imigran dari Asia dan Afrika, juga umat
Islam pasca 9 / 11.
Ia juga mendokumentasikan kehidupan
orang Amerika asli di awal sejarah mereka.
"Di 1730s, Job Ben Salomon, seorang
budak Muslim Afrika Barat yang dibawa ke
Maryland, menjadi selebriti Muslim
pertama di dunia Atlantik yang berbahasa
Inggris."
Curtis menyatakan dalam penelitiannya
bahwa kisah-kisah budak Muslim pertama
kalinya diakui dan dipetakan oleh non-
Muslim Amerika pada abad kesembilan
belas.
"Namun pada abad ke-20, sejarah masa
lalu Muslim Amerika telah hilang. Dalam
menghadapi konflik antara kapitalisme
dan komunisme, umat Islam tampak
perifer dengan sejarah Amerika."
Sebelum Columbus
Profesor Sulayman Nyang, ketua
Departemen Studi Afrika di Universitas
Howard di Washington, juga menelusuri
sejarah Islam di Amerika, bahkan sebelum
kedatangan Christopher Columbus.
"Saya telah mengidentifikasi lima tahap
dalam evolusi Islam di Amerika Serikat,"
katanya kepada OnIslam.
"Yang pertama adalah kehadiran Muslim
Pra-Columbus di Dunia Baru."
Dalam bukunya, "Islam di Amerika
Serikat", dan juga esainya yang begitu
banyak, Nyang menyimpulkan bahwa asal-
usul dan kehadiran Islam di Amerika tidak
dimulai dengan orang-orang seperti
Malcolm X atau Muhammad Ali Clay.
"Muslim datang ke negara ini selama
zaman Mansa Musa, Raja Mali di Afrika
Barat yang mengungkapkan perjalanan
Islam ke Dunia Baru."
Tahap berikutnya dalam sejarah Islam,
menurut Nyang, adalah periode
perdagangan budak, gelombang imigran
dari Timur Tengah, Yugoslavia dan Asia
Tenggara, dan dipeluknya Islam oleh
orang-orang Amerika, apakah itu orang
kulit putih, kulit hitam, orang Amerika asli,
atau pun Latin.
Terlupakan
Para ahli menyatakan bahwa banyak orang
tidak tahu bahwa umat Islam selalu bagian
dari pembentukan Amerika.
"Kebanyakan orang Amerika tidak
menganggap Muslim sebagai bagian dari
masa lalu mereka," sesal Dr Curtis.
Dia mengatakan keunggulan Muslim
generasi pertama dalam kehidupan
masyarakat, kemudian posisi umat Islam
sebagai "musuh" setelah peristiwa 9 / 11
di Amerika.
Profesor Nyang menyarankan mulai
sekarang ada organisasi-organisasi yang
mengumpulkan sejarah Muslim Amerika,
dan didedikasikan untuk pelestarian
sejarah Amerika itu sendiri.
"Melalui pengumpulan data historis, kita
mungkin bisa memberikan bimbingan
kepada generasi muda Muslim Amerika
untuk menambah pengayaan
Amerika." (sa/onislam)

Islam di prancis

Islam adalah agama
yang damai,
universal, dan
rahmat bagi seluruh
alam. Karena dasar
itu, agama Islam pun
dapat diterima
dengan baik di
berbagai belahan
muka bumi ini. Mulai
dari jazirah Arabia, Asia, Afrika, Amerika,
hingga Eropa.
Pada abad ke-20, Islam berkembang
dengan sangat pesat di daratan Eropa.
Perlahan-lahan, masyarakat di benua biru
yang mayoritas beragama Kristen dan
Katholik ini mulai menerima kehadiran
Islam. Tak heran bila kemudian Islam
menjadi salah satu agama yang mendapat
perhatian serius dari masyarakat Eropa.
Di Perancis, Islam berkembang pada akhir
abad ke-19 dan awal ke-20 M. Bahkan,
pada tahun 1922, telah berdiri sebuah
masjid yang sangat megah bernama Masjid
Raya Yusuf di ibu kota Perancis, Paris.
Hingga kini, lebih dari 1000 masjid berdiri
di seantero Perancis.
Di negara ini, Islam berkembang melalui
para imigran dari negeri Maghribi, seperti
Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan
lainnya. Sekitar tahun 1960-an, ribuan
buruh Arab berimigrasi (hijrah) secara
besar-besaran ke daratan Eropa, terutama
di Perancis.
Saat ini, jumlah penganut agama Islam di
Perancis mencapai tujuh juta jiwa. Dengan
jumlah tersebut, Perancis menjadi negara
dengan pemeluk Islam terbesar di Eropa.
Menyusul kemudian negara Jerman sekitar
empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga
juta jiwa.
Peran buruh migran asal Afrika dan
sebagian Asia itu membuat agama Islam
berkembang dengan pesat. Para buruh ini
mendirikan komunitas atau organisasi
untuk mengembangkan Islam. Secara
perlahan-lahan, penduduk Perancis pun
makin banyak yang memeluk Islam.
Karena pengaruhnya yang demikian pesat
itu, Pemerintah Perancis sempat melarang
buruh imigran melakukan penyebaran
agama, khususnya Islam. Pemerintah
Perancis khawatir organisasi agama Islam
yang dilakukan para buruh tersebut akan
membuat pengkotak-kotakan masyarakat
dalam beberapa kelompok etnik. Sehingga,
dapat menimbulkan disintegrasi dan dapat
memecah belah kelompok masyarakat.
Tak hanya itu, pintu keimigrasian bagi
buruh-buruh yang beragama Islam pun
makin dipersempit, bahkan ditutup. Meski
demikian, masyarakat Arab yang ingin
berpindah ke Perancis tetap meningkat.
Pintu ke arah sana semakin terbuka.
Pelajar Muslim
Pada tahun 1970-an, imigran Muslim
kembali mendatangi negara pencetus trias
politica itu. Kali ini, para pelajar Muslim
yang datang ke Perancis untuk menuntut
ilmu. Kedatangan para pelajar ini menjadi
faktor penting yang mengambil peran
besar dan penting dalam mendorong
penyebaran Islam dan berkehidupan Islam
di jantung negeri Napoleon Bonaparte ini.
Tahun 1985, diselenggarakan konferensi
besar Islam yang dibiayai Rabithah Alam
Islami (Organisasi Islam Dunia). Turut serta
dalam konferensi itu 141 negara Islam
dengan keputusan mendirikan Federasi
Muslim Perancis.
Peristiwa besar ini tidak luput dari
perhatian dunia, mengingat kehadiran
umat Islam di salah satu negara Eropa
selalu menjadi dilema bagi para penguasa
setempat, terutama yang menyangkut
ketenagakerjaan (buruh) dan masalah
sosial.
Hasil konferensi dan terbentuknya federasi
Muslim itu berhasil mempersatukan
sebanyak 540 buah organisasi Islam di
seluruh Perancis dan melindungi 1600
buah masjid, lembaga-lembaga pendidikan
Islam, dan gedung-gedung milik umat
Islam.
Dengan kondisi ini, barisan (saf) umat
Islam pun semakin kokoh. Yang lebih
menggembirakan lagi, kebanyakan
anggota federasi yang menjalankan roda
organisasi justru berasal dari kaum muda-
mudi Muslim berkebangsaan Perancis
sendiri.
Federasi ini bertujuan berperan aktif dalam
menyukseskan kegiatan keislaman di
Perancis dan memberikan pengetahuan
dan pendidikan tentang Islam kepada
warga Perancis.
Lembaga ini berperan besar dalam
menjembatani umat Islam Perancis dengan
pemerintah setempat, terutama dalam
menyuarakan kepentingan umat Islam.
”Dengan kesepakatan ini, umat Islam
punya hak yang sama dengan umat
Katholik, Yahudi, dan Protestan,” kata
seorang menteri di pemerintahan, Nicolas
Sarkozy.
Organisasi itu merupakan gabungan dari
tiga organisasi besar Islam di Perancis,
yakni Masjid Paris, Federasi Nasional
Muslim, dan Persatuan Organisasi Islam
Perancis.
Pelarangan Jilbab
Perancis, yang juga terkenal sebagai negara
mode ini, pernah melarang Muslimah
menggunakan jilbab sekitar tahun 1989.
Pelajar Muslimah dikeluarkan dari kelas
karena memakai jilbab, pekerja Muslimah
dipecat dari kantornya karena mengenakan
jilbab. Namun, mereka tidak menyerah
begitu saja. Umat Islam Perancis
menggoyang Paris dengan aksi-aksi demo
menuntut kebebasan. Dan, umat Islam di
berbagai negara pun turut melakukan
protes atas kebijakan tersebut.
Akhirnya, pemerintah mengeluarkan
kebijaksanaan pada 2 November 1992 yang
memperbolehkan para siswi Muslimah
untuk mengenakan jilbab di sekolah-
sekolah negeri.
Sekarang, tampilnya wanita-wanita
berjilbab di Perancis menjadi satu
fenomena keislaman yang sangat kuat di
negeri tersebut. Mereka bukan hanya hadir
di masjid-masjid atau pusat-pusat
keagamaan Islam lainnya, melainkan juga
di sekolah-sekolah negeri, perguruan tinggi
negeri, dan tempat-tempat umum lainnya.
Banyak hal yang memengaruhi
perkembangan Islam di Perancis. Salah
satunya adalah Perang Teluk 1991 yang
menyebabkan munculnya krisis identitas di
kalangan anak muda Muslim di Perancis.
Kondisi ini mendorong mereka lebih rajin
datang ke masjid. Gerakan Intifada di
Palestina juga mendorong makin
banyaknya Muslim Perancis yang beribadah
ke masjid.
Umat Islam di Perancis memiliki peranan
yang sangat penting. Mereka memainkan
peranan dalam semua sektor. Mulai dari
pendidikan, lembaga keuangan,
pemerintahan, olahraga, sosial, dan
lainnya.
Bahkan, pada Perang Dunia I dan II, umat
Islam di Eropa tercatat turut menentang
pendudukan Nazi. Keikutsertaan umat
Islam dalam menentang pendudukan Nazi
menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah
perjuangan kemerdekaan Perancis.
Masjid dan Sekolah Islam Meningkat
Seiring dengan berkembangannya agama
Islam di negara Perancis, jumlah sarana
ibadah dan kegiatan keislaman pun
semakin meningkat.
Menurut survei yang dilakukan kelompok
Muslim Perancis, sampai tahun 2003,
jumlah masjid di seantero Perancis
mencapai 1.554 buah. Mulai dari yang
berupa ruangan sewaan di bawah tanah
sampai gedung yang dimiliki oleh warga
Muslim dan dibangun di tempat-tempat
umum.
Perkembangan Islam dan masjid di
Perancis juga ditulis oleh seorang
wartawan Perancis yang juga pakar
tentang Islam, Xavier Ternisien. Dalam
buku terbarunya, Ternisien menulis, di
kawasan Saint Denis, sebelah utara
Perancis, terdapat kurang lebih 97 masjid,
sementara di selatan Perancis sebanyak 73
masjid.
Ternisien menambahkan, masjid-masjid
yang banyak berdiri di Perancis dengan
kubah-kubahnya yang khas menunjukkan
bahwa Islam kini makin mengemuka di
negara itu. Islam di Perancis bukan lagi
agama yang di masa lalu bergerak secara
diam-diam.
”Masjid-masjid yang ada di Perancis kini
bahkan dibangun atas tanah milik warga
Muslim sendiri, bukan lagi di tempat
sewaan seperti pada masa lalu,” ujarnya.
Tampaknya, pada tahun-tahun mendatang,
jumlah masjid akan makin bertambah di
Perancis. Sejumlah masjid yang ada
sekarang terkadang tidak bisa menampung
semua jamaah. Masjid di kawasan Belle Ville
dan Barbes, misalnya, sebagian jamaah
terpaksa harus shalat sampai ke pinggiran
jalan.
Awalnya, masjid-masjid yang ada di
Perancis didirikan oleh orang-orang Muslim
asal Pakistan yang bekerja di pabrik-pabrik
di Paris, Perancis. Mereka mengubah
ruangan kecil tempat makan siang atau
berganti pakaian menjadi ruangan untuk
shalat. Terkadang, mereka menggunakan
ruangan di asramanya sebagai sarana
ibadah. Sehingga, hal itu terus berkembang
dan menyebar.
Perkembangan yang terus meningkat itu
membuat sebagian masyarakat Perancis
khawatir. Masjid-masjid yang ada sering
menjadi sasaran serangan yang berbau
rasisme. Masa suram masjid di Perancis
terjadi pada tahun 2001. Sejumlah masjid
menjadi sasaran serangan dengan
menggunakan bom molotov. Bahkan, ada
masjid yang dibakar. Bentuk serangan
lainnya adalah menggambari dinding-
dinding masjid dan dinding rumah imam-
imam masjid dengan lambang swastika.
Namun, sejauh ini, belum ada organisasi
hak asasi manusia atau asosiasi Muslim
yang mempersoalkan serangan-serangan
itu.
Sekolah Tak hanya masjid yang tumbuh,
lembaga pendidikan Islam di negeri mode
ini pun turut berkembang. Sejumlah
sekolah Islam berdiri di Perancis. Sampai
kini, sedikitnya ada empat sekolah Muslim
swasta.
”Pemerintah belum lama ini memberi izin
untuk memulai operasi,” ujar Mahmoud
Awwad, sponsor dan direktur sekolah
Education et Savior.
Awalnya, sebuah sekolah didirikan di
Vitrerie, pinggiran selatan Paris.
Kurikulumnya disesuaikan dengan
kurikulum pendidikan nasional Perancis,
namun ada tambahan pelajaran khusus
muatan lokal tentang keislaman, seperti
bahasa Arab dan agama Islam.
Education et Savior adalah sekolah kedua
yang dibuka di Paris setelah sekolah
Reussite di pinggiran Aubervilliers, utara
Paris, dan yang keempat di Perancis. Dua
sekolah swasta Islam lainnya adalah Ibn
Rushd di Kota Lille, utara Perancis, dan Al-
Kindi di Kota Lyon.
Selama ini, umat Islam di Perancis ingin
memiliki sekolah swasta Islam setelah Paris
melarang jilbab dan simbol keagamaan di
sekolah negeri empat tahun lalu. Siswi
Muslim yang memakai jilbab akan
dikeluarkan dari sekolah dan kondisi ini
membuat masa depan mereka suram.
Awwad mengaku, pihaknya tidak sulit
mendapatkan izin pendirian sekolah Islam.
”Tidak seperti sekolah Al-Kindi, kami tidak
menemui rintangan,” ujar Awwad.
Pembukaan Al-Kindi di Lyon mendapat
hambatan saat dibuka pada 2006.
Academy of Lyon, badan pendidikan negara
yang tertinggi di kota itu, menolak izin
operasional sekolah itu dan menutup
sekolah dengan alasan pihak sekolah tidak
memenuhi standar kebersihan dan
keselamatan. Namun, Pengadilan
Administratif di Lyon membatalkan
penutupan itu pada Februari tahun lalu. Ini
berarti sekolah Al-Kindi bisa membuka
ajaran baru pada Maret 2007.
Menurut para pemimpin Muslim Perancis,
insiden di Al-Kindi justru mendorong
masyarakat Muslim untuk membuka
sekolah serupa. ”Kontroversi Al-Kindi
mendobrak ketakutan di minoritas Muslim
untuk memiliki sekolah lebih banyak,”
ujar Lhaj Thami Breze, ketua Organisasi
Persatuan Islam di Perancis, UOIF.

MASUKNYA ISLAM DI INDIA DAN ASIA TENGGARA

Peran Hadharim
Dalam berhijrah ke suatu negeri, dakwah
adalah sebuah motivasi bagi hadharim
(etnis hadhramaut). Negara-negara yang
mereka tuju antara lain Afrika Timur,
Zanjibar, Pantai Gading, Madaghaskar, dan
Asia mulai dari India hingga Indonesia.
Tidak semua hadharim yang berhijrah
bertujuan mengais rejeki. Namun di antara
kelompok ‘muhajirin’ itu juga
mempunyai misi dakwah. Penganut
tasawwuf banyak melakukan reformasi
dalam bidang sosial kemasyarakatan dan
sangat berpengaruh dalam merubah corak
sosial negara yang baru di tempatinya.
Sehingga masyarakat pribumi dengan
senang hati memeluk agama Islam dan
menyerap ajaran-ajaran Islam.
Mereka merintis suatu kulturisasi
peradaban dan kebudayan pribumi dengan
peradaban Islami. Namun dengan tetap
mengkokohkan ajaran Islam. Ini
mendalilkan, ajaran Islam selalu sesuai
dengan segala aspek kehidupan, di
manapuan dan kapan pun. Hadharim
mempunyai tempat yang spesial di mata
pribumi. Banyak dari pribumi yang
kemudian mengawinkan putri-putrinya
dengan hadharim. Sebagian ada yang
diangkat sebagai pemuka masyarakat.
Hadharim telah terbukti partisipasinya
dalam mengagungan Islam. Mereka juga
mampu memberikan jawaban dan
tantangan. Hal itu bisa dilihat tatkala
Andalus sebagai pusat peradaban Islam
justru sedang mengalami kekalahan,
hadharim sanggup menyebarkan Islam di
beberapa penjuru dunia dalam masa yang
relatif singkat.
Kenyataan ini terukir dalam sejarah. Saat
pertama kali bangsa Eropa (Inggris,
Spanyol dan Portugal) mengirimkan
pasukan perang salib dan melebarkan
sayap imperialisme ke segala penjuru dunia
Islam, dan daerah–daerah yang sulit
dijangkau pemerintahan Usmani
(Ottoman), hadharim bahu-membahu
dengan pribumi melakukan perjuangan
perlawanan terhadap imperialisme barat.
Meski dengan fasilitas apa adanya. Bantuan
pada pribumi bukan saja dalam sektor
ekonomi dan budaya, tapi juga di bidang
politik militer dan siasat perang.
Penganut tasawwuf yang menghindar dari
perpolitikan di Hadramaut, yang
merupakan hasil dari pertumpahan darah
antar kabilah yang tak berujung,
melibatkan diri dalam perpolitikan negeri
singgahannya. Sekaligus, menyebarkan
Islam juga.
Dalam sejarah Afrika, Hadharim ikut serta
dalam perjuangan rakyat melawan
penjajah Eropa. Sebelumnya telah terjadi
hubungan baik dalam bidang dagang
antara Yaman dan Afrika sejak pra Islam.
Lalu hubungan ini bertambah baik pasca
kedatangan Islam. Bahkan seorang
hadhrami pernah menjadi Amir (pemimpin)
di sebagian pemerintahan daerah
sepanjang pantai Afrika Timur, dari Somalia
sampai ke Mozambik. Ini terjadi sebelum
datangnya Imperialis Barat ke Afrika.
Begitu pula keterlibatan mereka dalam
perang melawan kolonial Potugal.
Dalam pemerintaha Omman, mereka juga
mempunyai pengaruh yang kongkrit.
Hadharim mempunyai pengaruh besar di
Madagascar. Bani Alawy berhasil
memimipin tampuk pemerintahan di
Juzurul Qomar (Comoro).
Kronologi Masuknya Islam ke India dan Asia
Tenggara
Mayoritas sejarawan menguatkan
pendapat, masuknya Islam ke India dan
Asia Tenggara sudah dimulai sejak kurun
pertama Hijriyah. Hanya saja, penyebaran
Islam tidak bisa langsung seperti
menggebyah uyah ke berbagai daerah
dalam satu waktu, Namun Islam masuk
dalam berbagai tempat yang berbeda dan
dalam waktu yang tidak bersamaan.
Tepatnya pada kurun keenam Hijriyah,
Islam meluas ke daerah-daerah secara
kontinyu hingga kurun kesebelas melalui
imigran dari Hadhramaut.
Yaman juga terkenal mempunyai hubungan
dagang yang baik dengan India dan Asia
Tenggara semenjak pra Islam. Hubungan
itu terus berkembang sampai kehadiran
Islam. Hubungan ini tidak sebatas pada
bidang dagang, tetapi juga mencakup
bidang-bidang kehidupan lain. Para ahli
sejarah hampir sepakat tentang masuknya
Islam ke India dan Asia Tenggara melalui
perantara Hadharim. Di samping juga
melalui orang India, Persi, ataupun
Indonesia.
Hadharim dikenal dengan sifat-sifat terpuji
yang menyebabkan penduduk setempat
tertarik dan simpati. Pengaruh positif yang
dirasakan itu juga merembet ke medan
perpolitikan regional. Mereka datang bukan
untuk berperang dan menjajah. Bahkan,
para pribumi menganggap mereka sebagai
simbol bangsa yang mampu membumikan
kemaslahatan dan keinginan pribumi di
daerah tersebut.
Faktor-faktor yang memotifasi mereka
untuk terjun dalam aktivitas politik pribumi
antara lain untuk menyebarkan Islam,
perjuangan melawan penjajah, dan
motivasi-motivasi lain.
Penyebaran Islam dan Walisongo
Seperti telah disinggung, tidak semua
hadharim yang hijrah hanya untuk mencari
rejeki. Namun banyak sekali kalangan dai
dan ulama yang juga hijrah untuk
menyebarkan Islam. Mereka hijrah menuju
India, dan disambut baik oleh raja-raja
India Muslim. Hal itu dilakukan sebab
mereka membutuhkan kehadiran ulama
yang dapat dijadikan panutan dalam
rangka menopang pemerintahanya dalam
menghadapi rakyat yang beragama Hindu.
Juga untuk menyebarkan Islam di beberapa
wilayah, terutama pada kelompok Mabila.
Para dai tersebut mempunyai posisi
penting di mata raja-raja India Muslim. Di
antaranya, al-‘Alamah as-Sufi as- Syekh
Muhammad bin Umar Bahroq (W 1524 M).
Ia disambut oleh Raja Sulthan Mudhaffar
bin Mahmud Bahbikroh, yang kemudian
berdomisili di Gujarat dalam kurun waktu
yang cukup lama. Ia mempunyai
kedudukan terhormat dalam kerajaan dan
masyarakat, sebagai tumpuan dalam
menghadapi pengaruh orang-orang Hindu
dan para Brahmana. Karena itu, para
musuh berfikir keras untuk melenyapkan
dan melakukan tipu muslihatnya dengan
cara meracuni hingga ia meninggal dunia.
Demikian juga as-Sayyid Abdullah al-Idrus
(W 1632 M) yang hidup pada masa
kerajaan Bayjayyur. Pengaruhnya sangat
kuat, khususnya pada pribadi Sultan
Ibrahim Adil Syah. Otomatis, aliran
kebijakan kerajaan yang asalnya Syiah,
berubah menjadi Sunni. Selain itu, baju
resmi kebesaran kerajaan berganti dengan
model Arab, sebagai ganti baju model
Persi.
Keluarga yang mempunyai pengaruh paling
besar di India dan Asia Tenggara adalah
keluarga Abdul Malik bin Alawi (Ammul
fagih) bin Muhammad (Shahib Mirbath).
Mereka datang dari Hadhramaut ke India
pada akhir abad ke-6 Hijriyah. Keturunan
Abdul Malik telah mempunyai hubungan
baik dengan kerajaan India, para pembesar
dan para ulama di sana. Tak heran bila
keluarga ini bisa menyebar di segala
penjuru India. Keluarga besar ini punya
nilai penting bagi masyarakat Muslim India.
Keluarga Abdul Malik Juga mendapat
julukan Ali Adzamat Khan.
Salah satu cucu Abdul Malik merupakan
salah satu dari Wali Songo yang masyhur di
Asia Tenggara. Yaitu Ahmad bin Abdullah
bin Abdul Malik. Ia mempunyai pengaruh
besar pada kerajaan India. Terbukti dengan
jabatannya sebagai salah satu menteri di
India dalam waktu yang cukup lama. Itu
berlangsung sebelum terjadi gejolak politik
di India yang menyebabkan putra-putranya
mengungsi ke China, Siam (Thailand) dan
Kamboja.
Di Kamboja, Jamaludin al-Husein bin
Ahmad kawin dengan salah satu puteri Raja
Kamboja yang telah masuk Islam bersama
ayahnya. Dari perkawinannya lahir Ibrahim
al-Ghazi. Dialah yang menjadi panglima
perang sekaligus ilmuwan yang
memperluas kekuasaanya sampai ke China,
Malasyia, dan Sumatra. Ia lalu menikah
dengan salah satu putri Raja China, dan
mempunyai putra bernama Rahmatullah
dan Ishaq. Ishaq inilah yang dikenal di Jawa
dengan sebutan Maulana Ishaq (ayahanda
Sunan Giri) yang mempunyai kedudukan
tinggi di pemerintahan Raja Minak Jinggo,
salah satu raja Banyuwangi Jawa Timur.
Maulana Ishaq mengawini salah satu puteri
Raja Minak Jinggo yang masuk Islam dan
berhasil menyembuhkan penyakit kanker
sang puteri. Dari pernikahan ini lahir
seorang putra yang diberi nama Ainul
Yaqin, seorang dai yang tidak asing lagi. Ia
juga dikenal sebagai pejuang dan
mempunyai pengaruh yang besar dalam
penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.
Sedangkan Rahmatullah atau Raden
Rahmat yang lebih populer sebagai Sunan
Ampel mempunyai hubungan baik dengan
pemerintahan Kerajaan Majapahit yang
beragama Hindu. Sebuah kerajaan yang
sangat berpengaruh di Asia Tenggara.
Raden Rahmat mempunyai hubungan
dengan salah satu putera raja, yaitu Raden
Joyo Waseso yang masuk Islam di tangan
Raden Rahmat dan berganti nama Abdul
Fatah (Raden Fatah). Ia ikut berperang
melawan ayahnya sendiri dan berhasil
mengalahkannya serta merebut kekuasaan
ayahnya di tahun 792 Hijriyah. Ia lalu mula
merintis berdirinya kerajaan Islam pertama
kali di Jawa yang terkenal dengan Kerajaan
Demak. Dari sini Agama Islam mulai
tersebar secara besar-besaran.
Raden Rahmat mempunyai banyak putra,
antara lain :
1. Ja’far Shadiq. Ia salah satu panglima
pasukan Raden Fatah yang dikirim
langsung untuk menggempur Majapahit.
2. Ibrahim. Ia salah satu panglima Raden
Fatah yang mendapatkan mandat untuk
berperang dan mendampingi Raden Fatah.
3. Zainal Abidin. Ia adalah perdana
menteri ke-2 Raden Fatah. Dalam
pemerintahan, ia dikenal tegas pada para
penyembah berhala. Ali Khairuddin, salah
satu ahli sejarah menyebutkan, Maulana
Zainal Abidin mengumpulkan patung-
patung di Jawa yang telah disembah
hingga mencapai 650 patung, lalu dibuang
di laut Madura dan laut Bawean. Ia juga
menaklukkan seluruh penyembah berhala
di bawah kekuasaanya. Para penyembah
berhala dihadapkan pada dua opsi, masuk
Islam, atau membayar jizyah (pajak).
Sebagian ada yang masuk Islam dan
sebagian lagi membayar jizyah dengan
konsekuensi pengamanan dari
pemerintahan.
Raja-raja Aceh juga keturunan Bani Alawi.
Salah satu raja yang paling berpengaruh
dalam penyebaran Islam adalah Raja Malik
Kamil yang wafat pada tahun 607 H.
Kemudian al-Malik as-Shalih yang wafat
pada tahun 696 H. Lalu putranya, Sulthan
Muhammad az-Dhahir yang wafat pada
tahun 726 H. Diteruskan oleh putranya
Ahmad yang wafat di tahun 809 H. Dari
Ahmad inilah nasab (silsilah keturunan)
raja-raja Brunai dan Jaremen Kuno,
Baruwak, Salwa, Saibu , Mindanao, dan
Kanawa.
Di Philipina, Syarif Khabogsan (Syarif
Muhammad bin Ali Zainal Abidin)
berpengaruh dalam penyebaran Islam. Ia
mendirikan pemerintahan Islam di sana. Ali
Zainal Abidin ayah Kabogsan hijrah dari
Hadhramaut ke Johor dan menikah dengan
puteri Raja Iskandar Syah, Raja Johor yang
kemudian mempunyai tiga orang putera.
Yang bungsu benama Muhammad bin Ali
yang terkenal dengan sebutan Kaboghsan
yang berhijrah untuk dakwah, sampai ke
daerah Mindanao di Philipina. Kemudian
mulailah penyebarkan Islam sekaligus
perintisan negara Islam di sana, berikut
perlawanan terhadap kolonialisme barat
dalam waktu yang cukup lama.
Di Salwa, Syarif Abu Bakar Zainal Abidin
yang sampai ke sana tahun 853 H
melakukan pergantian pemerintahan
setelah perkawinannya dengan satu-
satunya puteri Raja Solo. Beliau lalu
menyebarkan Islam di negara tersebut.
Para penggantinya dapat meluaskan
wilayah kekuasaanya dan melakukan
perlawanan dengan kolonialisme Barat
pada saat itu.
Ikhtishar
1. Hadharim punya pengaruh besar dalam
penyebaran Islam di Asia Tenggara. Hal ini
diaktensi dalam seminar yang
diselenggarakan di Medan Sumatra Utara,
17-20 Maret 1963. Seminar ini mengangkat
tema tentang masuknya Islam ke Indonesia
yang dihadiri oleh para pakar sejarah,
cendekiawan dan budayawan Indonesia.
Mereka memberikan resultasi bahwa Islam
masuk ke Indonesia kali pertama dibawa
oleh Bani Alawi dari Hadhramaut yang
bermazhab Syafii.
2. Penyebaran Islam di Indonesia
dilakukan dengan berbagai metode. Di
antaranya dakwah pada masyarakat secara
langsung, lewat politik, dan lain-lain.
3. Bidang politik bertujuan untuk mem-
back up dakwah dan melindungi segala
aktivitas dakwah dan para dai dari chaos
dan ketidakadilan. Hingga dapat meluaskan
lapangan dakwahnya. Karena, rakyat
biasanya selalu mengikuti agama rajanya.
4. Mereka yang biasanya mendapatkan
jabatan politik atau militer menjadi
mediator para ulama dan dai yang
melakukan dakwah pada elit pemerintahan
dengan hikmah dan kebajikan. Mereka
punya sifat mulia yang membuat para
pembesar pemerintahan menaruh
kepercayaan yang besar.
4. Perlawanan Terhadap Kolonial Eropa
Karena perang yang terjadi antara kaum
muslimin dan bangsa Eropa terlalu lama,
seperti halnya yang terjadi di kepulauan
Ibriya dan Eropa Timur, mulailah bangsa
Portugis dan Spanyol mengeluarkan daya
upayanya untuk segera menaklukan kaum
muslimin. Termasuk menguasai sumber-
sumber kekayaan dan potensi alam dalam
peperangan.
Perlawanan fisik, ekonomi, atau agama
dimulai dengan merusak jalur dagang
kaum muslimin antara barat dan timur.
Juga dengan menguasai jalan-jalan
penyambung dunia dan sumber-sumber
kekayaan di bagian timur. Menurut mereka,
itulah cara yang dapat mengalahkan Islam
dan penganutnya.
Tetapi ketika Portugis sampai ke daerah
timur, ternyata bangsa Arab telah sampai
lebih dulu. Apalagi banyak bermunculan
kerajaan-kerajaan Islam. Hal ini membuat
orang Portugis geram dan mengacaukan
proyek mereka yang ingin menguasai
kekayaan daerah-daerah timur.
Mereka lalu berusaha menghilangkan
pengaruh orang Arab dan Islam dari daerah
tersebut. Jenderal Portugis De Elbokareik,
dalam pidato di depan tentaranya
mengatakan, "hanya dengan menjauhkan
kaum muslimin dari perdagangan rempah-
rempah, bangsa Portugal bisa melemahkan
kekuatan Islam. Dan untuk melaksanakan
khidmat kepada Tuhan, kita harus
mengusir bangsa Mur (Arab) dan
mematikan api agama Muhammad. Jika
berhasil, niscaya api tersebut tidak akan
tersebar selamanya".
Mulailah Hadharim bahu-membahu dengan
sesama muslim dengan determinasi tinggi
berjuang melawan kolonialisme yang
tamak pada kekayaan Indonesia. Hadharim
memulai menceburkan diri dalam
peperangan melawan bangsa Portugis dan
sekutu-sekutunya, para raja Hindu. Di
antara pahlawan yang sangat bersaja
adalah Hidayatullah bin Abdullah bin Ali
(Nuruddin) dari keluarga Abdul Malik al-
Alawi yang sebelumnya berhasil mengusir
Portugis dari tanah kelahiranya, Kamboja.
Setelah itu ia menetap di kerajaan Islam
Demak. Pada tahun 1526 Sultan Trenggono
bin Sultan Abdul Fattah Demak memilih
Hidayatullah sebagai panglima pasukan
tempurnya yang dipersiapkan untuk
menyerang kerajaan Hindu Pajajaran di
Jawa Barat. Kerajaan ini telah menyepakati
kerjasama dengan pemerintahan Portugis
melawan Islam.
Pasukan yang dipimpin Hidayatullah
berhasil memenangkan pertempuran. Kota
Sunda Kelapa dapat dikuasai dan dirubah
namanya menjadi Jaya Karta. Saat ini Jaya
Karta menjadi Ibukota Negara Indonesia
dengan nama Jakarta. Kemudian pasukan
Portugis yang dipimpin Jendral Henrik
Reem datang, sehingga terjadi
pertempuran sengit antara pasukan
Hidayatullah dan Portugis. Secara
gemilang, peperangan itu berhasil
dimenangkan pasukan Hidayatullah. Ia lalu
dijuluki Fatahillah. Sedang orang-orang
Portugal menyebutnya Faletehan.
Perjuangan Hidayatulah melawan Portugis
dan para penyembah berhala ini
berlangsung terus menerus hingga tahun
959 H atau 1525 M. Ia mengundurkan diri
dari pemerintahan untuk berdakwah. Ia
lalu memberikan tampuk pemerintahan
kerajaan Banten kepada puteranya untuk
meneruskan perjuangan melawan Portugis.
Juga Belanda pada tahun 1833. Sampai
akhirnya, kerajaan Banten menyerah pada
pemerintahan Belanda di Surabaya.
Di Philipina, perjuangan melawan penjajah
Spanyol juga dipimpin oleh keluarga besar
Syarif Abu Bakar bin Zainal Abidin.
Peperangan ini berlangsung sampai tiga
abad lamanya.
Di Palembang, perjuangan melawan
penjajah Belanda dilakukan Sultan
Badruddin yang terkenal agamis dan
pemberani dalam membela Islam. Tetapi
setelah jatuhnya ibukota Palembang ke
tangan Belanda, penjajah mengasingkan
Sultan Badruddin dan perdana menterinya,
Umar bin Abdullah as-Segaf, ke pulau
Ternate pada tahun 1821 M.
Termasuk Hadharim yang melakukan
perjuangan ketika awal kedatangan
penjajah Belanda adalah Amir al-Wahab bin
Sulaiman bin Abdurrahman bin Muhammad
bin Umar Basyaiban al-Alawi. Kakeknya,
Abdurrahman, datang dari Qasam
Hadhramaut menuju Cirebon dan kawin
dengan puteri Raja Cirebon. Dari
perkawinannya itu, ia mempunyai dua
putera, Abdurrahim dan Sulaiman. Salah
satu putera Sulaiman adalah Hasan yang
terkenal dengan sebutan Pangeran Agung
bin Sulaiman yang terkenal sebagai
pejuang melawan pendudukan Belanda.
Abdurrahman bin Husain al-Qadri al-Alawi
adalah nama lain yang turut terjun
berperang melawan Angkatan Laut Belanda
dan Inggris. Ia berhasil mendirikan
kerajaan Pontianak. Berkat kegigihannya,
perserikatan Hindia Timur Belanda
mengakuinya sebagai Raja Pontianak.
Di India, perjuangan melawan penjajah
Eropa ini juga dilakukan oleh kelompok
Mabela dengan keberanian tinggi. Sulthan
Ghalib bin Awadh al-Quaiti mengatakan,
“ingatkah kalian dengan celaan Portugis,
Belanda, Perancis, dan Inggris.
Pemerintahan mereka sangat tertekan
dengan perlawanan sengit kelompok
ini.”
Gerakan kelompok militan ini mendapat
dukungan dari beberapa Ulama yang
dikenal dengan gelar Tanggul yang berarti
sayyid. Yang dimaksud adalah para sayyid
keturunan Bani Alawi dari Hadhramaut.
Mengenai keberanian kelompok Mabela,
seperti disebutkan sumber dari Belanda
dan Perancis pada masa itu, “mereka
kelompok yang berani sekali dalam
membela Islam. Mereka tidak pernah
menyerah sama sekali dan lebih berani
mati dalam perjuangan membela
negerinya.” Apalagi siasat mereka dalam
berperang dan keorganisasiannya mirip
dengan Suku Moro Philipina.
Etnis Arab Hadhramaut terus bertambah
perkembangannya di India pada masa-
masa setelah itu sebagai tentara di
berbagai negara kecil di al-Marotsa yang
telah memeluk Islam selama kurang lebih
40 tahun. Tentara inilah yang berjuang
melawan pendudukan Inggris di India yang
berjumlah sampai 6000 tentara.
Hadharim di sana tidak hanya menjadi
tentara ekstra bagi India, namun
memegang kendali dan sebagiannya
menjadi panglima perang. Hal ini bisa
diketahui dari cerita kolonel Inggris dalam
memorinya ketika berperang melawan
Hadharim di peperangan yang terjadi
antara tentara al-Marotsa dan tentara
Inggris, bahwa kalangan elit tentara
Inggris menaruh segan terhadap tentara
Basyafa' dan raja-raja. Hal itu karena
banyaknya tentara Hadharim di sana.
Lebih-lebih orang Arab ini terkenal dengan
kemampuanya bertahan dan memukul
mundur musuh. Suatu hal yang diakui oleh
tentara-tentara Inggris.
Reinald Borton mengatakan, “tidak ada
tentara di dunia ini yang seberani dan
sesolid tentara Arab. Walaupun mereka
tidak mempunyai kemampuan banyak
dalam taktik peperangan, tetapi pada
setiap jiwa mereka ada keyakinan tinggi
yang tidak akan hilang selagi mereka masih
hidup."
Tentara Inggris berperang melawan
tentara al-Marotsa selama tiga kali. Dan
semuanya memaksa mereka menuai
kerugian besar. Pertama pada tahun
1775-1782. Kedua pada tahun 1802-1805.
Di tahun ini tentara Inggris dapat
mengalahkan tentara al-Marotsa di bawah
komando Sandiya dan Baransala.
Namun Basyayfa’ Raji Rawa kedua yang
menyatukan seluruh tentara al-Marotsa
mencoba melakukan perlawanan kembali
dan ingin mengembalikan kemerdekaan
negerinya. Ia mulai menyalakan api
peperangan ketiga. Namun tentara Inggris
lambat laun bisa mengalahkan mereka dan
mampu menguasai tentara Basyayfa pada
tahun 1818. Ini ditandai dengan
penyerahan diri panglima Basyaifa.
Pada tahun-tahun berikutnya terjadi
kekosongan kepemimpinan (vacum of
power) di pusat komando pasukan al-
Marotsa yang berakibat terkotak-kotaknya
pasukan tersebut. Hadharim banyak yang
mengungsi ke Haidar Abad. Sebagian ada
yang dipaksa pulang oleh pemerintahan
Ingggris ke Hadhramaut. Salah satu
pemuka masyarakat yang ikut bergabung
di Haidar Abad adalah Umar bin Awadh al-
Quaiti.
Ikhtishar
1. Hadharim mampu mencapai kedudukan
tinggi, baik di dalam militer ataupun
pemerintahan. Terbukti, salah satu dari
mereka ada yang menjadi panglima perang
atau raja yang nota bene mampu
melakukan perlawanan terhadap
kolonialisme Eropa.
2. Keberadaan hadharim di perpolitikan,
tentara, atau sosial mampu mempersulit
kolonialisme dalam menguasai Islam dan
pengikutnya. Terlebih kaum kolonialis itu
berhasil menggandeng kerajaan Hindu dan
Budha untuk bekerjasama. Mayoritas orang
Arab, sebagai pemuka masyarakat,
mengobarkan sifat perjuangan itu pada
kaum pribumi.
3. Perjuangan Hadharim melawan
kolonialisme Belanda atau Inggris
menjadikan suatu ketakutan tersendiri bagi
mereka pada Arab dan Hadharim. Hal itu
membuahkan hasil perubahan politik
kolonialisme dalam berhubungan dengan
Arab atau hadharim di India dan Asia
Tenggara